Ketika Media Melakukan Bunuh Diri Intelektual

Erik Ardiyanto
Oleh Erik Ardiyanto
22 April 2026, 07:05
Erik Ardiyanto
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Dunia penyiaran kita hari ini telah mengalami pergeseran sistemik dalam cara mereka menyusun agenda publik.  Jika dulu agenda setting media menjadi kompas moral dan intelektual untuk menentukan apa yang penting dan tidak penting bagi masyarakat, kini fungsi tersebut telah tereduksi dan  menjadi sebuah mesin pengejar angka. 

Dalam sebuah panggung gelar wicara, kita tidak lagi hanya melihat pertukaran ide, melainkan orkestrasi drama yang dirancang mempunyai tujuan untuk menaikan rating dan efek viralitas sebuah program. 

Dalam cengkeraman logika industri media dan sistem konglomerasi antarmedia yang sangat kompetitif, terkadang pemilihan narasumber tidak lagi murni didasarkan pada kompetensi atau keilmuan. Media secara tidak sadar cenderung mengkategorikan narasumber menjadi dua kutub ekstrem yang bersifat teatrikal, yaitu “the hero” dan “the zero”.  

The hero adalah mereka yang mampu memberikan pernyataan bombastis, konfrontatif, dan berani melawan arus, meskipun kadang mengabaikan substansi. Sedangkan, the zero adalah sosok retoris yang umumnya sering dihadirkan sebagai “kambing hitam”. Mereka sengaja dipasang untuk dikuliti dan dipermalukan di depan kamera demi memuaskan dahaga emosi penonton. 

Fenomena ini merupakan representasi nyata dari apa yang digambarkan oleh Vincent Mosco sebagai bentuk komodifikasi. Informasi  dari media sengaja diolah menjadi sebuah komoditas yang dapat diperdagangkan demi nilai ekonomi. Di tengah gempuran arus informasi digital, media terjebak dalam pusaran “attention economy”. Dalam logika ini, perhatian audiens adalah aset paling berharga dalam mendulang kapital. 

Akibatnya, diskusi dalam sebuah gelar wicara tidak lagi bertujuan menghadirkan solusi yang utuh di tengah dari isu yang diangkat. Ruang debat seringkali dimanipulasi hanya untuk menciptakan momen singkat yang nantinya dapat dipotong menjadi sebuah klip pendek berdurasi 30 detik lalu disebar di media sosial. Pada akhirnya, aspek viralitas menjadi faktor penting indikator kesuksesan sebuah program dari pada edukasi yang diberikan. 

Matinya Kepakaran

Tren ini telah membawa kita pada suatu titik yang mengkhawatirkan, yaitu matinya kepakaran (the death of expertise). Di dalam sebuah tayangan talkshow, suara seorang profesor atau pakar akademisi  yang berbicara menggunakan data valid dan metodologi yang berbasis keilmuan sering tenggelam oleh suara retoris kosong yang hanya bermodal nada tinggi namun minim isinya. 

Akibatnya, kepakaran seseorang sering dianggap sebagai bentuk elitisme yang membosankan. Sementara kedangkalan berpikir yang dibalut rasa percaya diri yang  tinggi justru dipuja secara luas sebagai sebuah kejujuran yang autentik. 

Sering kali, melalui  logika komodifikasi, media juga terjebak pada praktik objektivitas semu. Media dengan sengaja membenturkan pakar dengan sosok yang sama sekali tidak kompeten di bidangnya hanya untuk menanti sebuah drama. 

Penting untuk disadari, ketika kredibilitas seorang pakar dipaksa sejajar dengan opini dangkal demi memaksakan simulasi keberimbangan, media telah gagal dalam tugasnya. Alih-alih mencerahkan publik, sebaliknya media justru berubah jadi alat produksi kegaduhan yang menyesatkan opini masyarakat.

Abai Agenda Publik

Situasi ini kian diperparah dengan munculnya fenomena “presenter politisi” yang merambah layar kaca. Ketika sebuah program gelar wicara dipandu oleh individu yang memiliki afiliasi politik dengan kekuasaan–atau bahkan pernah tercatat sebagai mantan anggota DPR atau calon legislatif partai politik dalam pemilu–maka garis batas antara jurnalisme profesional yang independen dan ambisi politik praktis menjadi kabur yang sulit dibedakan. 

Implikasinya, agenda setting media tidak lagi bersifat netral. Peran jurnalis sebagai anjing penjaga “watchdog” mengalami degradasi moral menjadi sekedar pelayan kepentingan politik tertentu. Pertanyaan-pertanyaan tajam yang dilontarkan tidak lagi memiliki tidak semangat untuk menggali kebenaran demi kepentingan publik. Sebaliknya, instrumen pertanyaan diarahkan secara tendensius untuk membingkai narasumber agar selaras dengan kepentingan politiknya sang pemandu acara. 

Penting untuk diingat bahwa media mengudara menggunakan frekuensi publik. Sangat disayangkan jika sumber daya terbatas tersebut digunakan untuk meracuni  ruang publik dengan kegaduhan yang tidak produktif. Jika gelar wicara hanya menjadi ajang mengejar rating melalui pertunjukan narasumber hero-zero dan pengabaian terhadap pakar, maka sebenarnya media sedang melakukan bunuh diri intelektual.  

Sudah saatnya kini media kembali ke khitahnya: menjadikan ruang diskusi yang mencerahkan dan mendidik publik, bukan sekadar panggung sandiwara yang mengejar angka rating semata.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Erik Ardiyanto
Erik Ardiyanto
Dosen Komunikasi Politik Universitas Paramadina

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...