Budaya Membaca di Era Digital Indonesia

Anggi Afriansyah
Oleh Anggi Afriansyah
27 April 2026, 06:05
Anggi Afriansyah
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pengalaman membaca merupakan sesuatu yang eksistensial. Oleh karena itu pengalaman membaca antara satu orang dengan lainnya sangatlah berbeda. Membaca buku misalnya, merupakan bagian dari kebudayaan. Dalam ruang keluarga, sekolah, dan komunitas membaca dikuatkan. Jika di keluarga anak-anak tak terpapar dengan buku-buku, maka harapan lanjutan agar budaya membaca dapat terinternalisasi dengan kokoh ada pada sekolah dan komunitas. 

Beberapa waktu lalu saya melakukan eksperimentasi sederhana di Threads, salah satu media sosial yang sedang naik daun. Saya mengajukan pertanyaan “dalam satu bulan berapa buku dan anggaran yang disiapkan untuk membeli buku?” Awalnya saya merasa tidak akan mendapat respons yang memadai. Atau saya akan mendapat respons bahwa anggaran membeli buku akan sangat minim dan orang-orang jarang membeli buku.

Tetapi ternyata respons yang saya dapatkan sangat berbeda dengan hipotesis awal bahwa “anggaran membeli buku minim bahkan tidak ada”. Jawaban yang diberikan beragam, tetapi cenderung positif. Positif dalam artian warganet yang merespons ternyata akrab dengan buku dan punya anggaran khusus membeli buku. Bahkan ada yang membeli lebih dari lima buku setiap bulan. Dari segi anggaran rata-rata menganggarkan ratusan bahkan ada juga yang sampai jutaan rupiah untuk membeli buku. 

Respons ini tentu tidak bisa digeneralisasi. Sebab dalam banyak obrolan yang saya lakukan dengan para pegiat literasi, ikhtiar mereka untuk mencerdaskan bangsa lewat jalur membaca buku dengan tekun masih menghadapi berbagai tantangan. Namun, ketika membaca repsons kawan-kawan di Threads tersebut saya menjadi sedikit optimistis karena masih bersemangatnya sebagian kecil masyarakat yang mengalokasikan pengeluaran bulanannya untuk membeli buku. 

Membaca buku, seperti yang banyak disinggung banyak pihak, di era digital ini memang tak mudah. Video-video pendek yang hadir di berbagai sosial media dengan ragam tipenya termasuk terkait pengetahuan, dengan mudah masuk di gawai-gawai kita. Lebih atraktif, cepat, luwes, dan mudah dicerna. Ketimbang membaca buku ratusan halaman terkait dengan pengasuhan anak atau membaca jurnal yang seringkali bahasanya “langitan”, lebih masuk akal menyimak video singkat yang berseliweran di media sosial. Bahkan ada kekhawatiran terkait dengan brainrot akibat kebanyakan mengonsumsi konten pendek dan tak berfaedah.

Jika orang tua, guru, atau orang dewasa lainnya lebih mengandalkan informasi di berbagai video tersebut, kemudian lebih asyik menatap layar ketimbang buku, tentu saja anak-anak sebagai peniru ulung orang dewasa di sekitarnya akan lebih suka menatap gawai yang disediakan oleh orang tuanya. Apalagi kita mafhum, menenangkan anak dengan memberi kesempatan mereka menonton gawai lebih praktis ketimbang membacakan cerita di buku-buku yang tersedia di rumah, itu pun jika ada buku-buku yang tersedia di rumah. 

Pesimistis atau Optimistis?

Tampak pesimistis? Jujur saja jawabannya ya. Lalu bagaimana dengan buku-buku digital? Bukankah pemerintah sendiri sudah memiliki website gratis seperti Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI) terkait buku teks utama atau buku teks pendamping yang membantu anak memahami pelajaran di sekolah. 

Ada juga aplikasi-aplikasi yang dapat dimanfaatkan untuk membaca buku digital seperti eperpusdikbud, ipusnas, dan aplikasi dari ragam perpustakaan yang sudah didigitalkan. Sebagai pemakai berbagai aplikasi dan laman tersebut, saya pribadi sangat terbantu, sebab ada beberapa buku yang tak perlu dibeli, cukup dipinjam saja. Namun tidak semua referensi yang saya butuhkan tersedia, atau untuk beberapa buku koleksi yang tersedia hanya beberapa buku saja sehingga sudah dipinjam orang lain. 

Untuk kalangan yang sudah dapat mengakses internet dan memiliki pemahaman memadai tentang berbagai aplikasi atau website penyedia buku digital, mereka dapat memanfaatkan hal tersebut dengan optimal. Beberapa rekan yang saya kenal misalnya memiliki e reader khusus untuk membaca buku yang dipinjam dari perpustakaan-perpustakaan internasional. Mereka akrab dengan ragam aplikasi dan website tidak hanya yang ada di Indonesia tetapi di dunia. Pemahaman bahasa asing membantu mereka menapaki literatur-literatur asing. 

Ada juga teman yang saya kenal yang aktif membaca di Ipusnas dan Eperpusdikbud. Setiap dua aplikasi milik pemerintah tersebut eror, Ia merasa sangat terganggu. Hal tersebut dikarenakan Ia sangat mengoptimalkan layanan yang diberikan oleh dua aplikasi tersebut. Sebagai orang yang juga memanfaatkan dua aplikasi tersebut saya mafhum dengan kegusarannya tersebut. Saya termasuk yang gusar ketika eperpusdikbud milik Kemdikbud (sekarang Kemdikdasmen) tidak lagi berlangganan beberapa media nasional (koran dan majalah). 

Adanya buku, koran, majalah yang tersedia secara digital sangat membantu orang tua, guru, akademisi ataupun komunitas yang bergerak di dunia literasi. Ketika sinyal internet memadai, semua anak dengan bantuan orang dewasa di sekitarnya dapat memanfaatkan akses tersebut untuk menelusur pustaka dan terhubung dengan dunia. 

Pengalaman membaca yang eksistensial dapat terwujud ketika ada orang-orang dewasa yang menemani anak-anak terhubung dengan pustaka baik yang ada di buku-buku fisik maupun di digital. Artinya harus ada aktor yang secara aktif memberi pendampingan agar anak-anak akrab dengan pustaka. Untuk sebagian kalangan, keluarga menjadi sentral. Tapi tak semua keluarga memiliki kesempatan mengakrabkan anak-anak dengan buku, apalagi buku masih jadi barang mahal.

Di tengah pesimisme selalu ada ruang untuk optimistis. Ketika orang tua dan sekolah kewalahan menginternalisasi budaya membaca, kita masih bisa berharap pada upaya komunitas, salah satunya melalui Taman Baca Masyarakat. Taman Baca Masyarakat misalnya bukan semata menjadi ruang membaca berbagai literatur tetapi juga fokus menjadi ruang aman untuk menemani masyarakat bertumbuh. Gerilya untuk membantu anak-anak untuk akrab dengan ragam pustaka sejak dini ini tak mudah, namun para pengurus di berbagai level tidak pernah patah arang. Belakangan ini para pengelola Taman Baca Masyarakat juga memperhatikan isu kesehatan mental juga memberi fokus pada potensinya membangun ruang ekonomi kreatif.

Di ruang digital, upaya mengakrabkan masyarakat dengan pustaka misalnya dilakukan oleh Forum TBM dengan memperkenalkan “baca petik” di media sosial yang membedah ragam literatur terkait dengan isu-isu tertentu khususnya terkait dengan pentingnya membaca bagi kehidupan keseharian. 

Budaya membaca tak bisa otomatis hadir di anak-anak bangsa ini. Perlu ada ikhtiar sistematis untuk membangun budaya baca. Daya dukung struktural dari negara perlu dioptimalkan untuk membantu komunitas bergerilya membangun budaya membaca di masyarakat. Anggaran untuk Perpustakaan Nasional misalnya harus menjadi prioritas bukan justru mengalami pemotongan. Tak ada bangsa maju yang meminggirkan buku-buku ketika berupaya membangun peradaban. Justru negara maju selalu memberikan prioritas tinggi pada pustaka. Jadi ke mana bangsa ini akan memilih?

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Anggi Afriansyah
Anggi Afriansyah
Peneliti di Pusat Riset Kependudukan BRIN

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...