Sendiri di Kafe, Ramai di Kepala
Solo Table Theory tampak ringan. Seseorang datang ke kafe, memilih meja, memesan makanan, lalu duduk sendiri. Ia tidak menunggu teman. Ia tidak mencari alasan. Ia makan, minum, membaca, menulis, atau hanya diam. Di TikTok, adegan semenjana ini berubah menjadi pernyataan psikologis. Banyak orang menyebutnya latihan mencintai diri sendiri, bukti kemandirian, bahkan tanda bahwa seseorang sudah berdamai dengan kesendirian.
Tren ini menarik karena muncul pada masa ketika manusia hampir tidak pernah benar-benar sendirian. Ponsel selalu menyala. Pesan masuk setiap saat. Orang dapat berada di kamar sendiri, tetapi pikirannya tetap terseret ke komentar, unggahan, dan percakapan orang lain. Oleh karena itu, meja untuk satu orang terlihat seperti aksi kecil yang menantang zaman. Ia berkata dengan tenang bahwa seseorang boleh hadir di ruang publik tanpa rombongan, tanpa pasangan, tanpa validasi.
Akan tetapi media sosial punya satu kecenderungan yang perlu dicurigai. Ia sering mengubah pengalaman biasa menjadi teori besar. Ia mengubah kebiasaan menjadi identitas. Ia mengubah luka menjadi konten. Makan sendiri lalu dipotret sebagai tanda keberanian. Duduk bersama orang lain lalu tampak seperti ketergantungan. Padahal hidup batin manusia tidak bergerak secepat video pendek.
Sendiri Tidak Selalu Sepi
Psikologi membantu kita membedakan dua hal yang sering dicampuradukkan: sendiri dan kesepian. Sendiri adalah keadaan. Kesepian adalah pengalaman emosional. Seseorang bisa duduk sendiri dan merasa tenang. Seseorang juga bisa berada di tengah keluarga, teman kantor, atau keramaian kampus, tetapi merasa tidak terlihat.
Weinstein, Hansen, dan Nguyen mendedah bahwa orang dewasa rata-rata menghabiskan hampir sepertiga waktu terjaganya dalam keadaan sendiri. Mereka juga menunjukkan bahwa waktu sendiri dapat membantu relaksasi, pemulihan energi, pemecahan masalah, pengaturan emosi, kreativitas, dan hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri serta orang lain (Weinstein, Hansen, & Nguyen, 2024, hlm. 3).
Di sini Solo Table Theory punya manfaat. Ia mengurangi rasa monyos yang sering menempel pada orang yang melakukan sesuatu sendirian. Ia membantu seseorang menyadari bahwa makan sendiri tidak sama dengan ditinggalkan. Ia memberi latihan untuk tidak selalu meminjam kehadiran orang lain agar merasa bernilai.
Namun manfaat itu hanya muncul ketika kesendirian dipilih dengan sadar. Weinstein, Hansen, dan Nguyen menegaskan bahwa memilih kesendirian karena seseorang menganggapnya bermakna dapat menjadi hal positif (Weinstein et al., 2024, hlm. 105). Pilihan menjadi kata kunci. Kesendirian yang dipilih untuk istirahat berbeda dari kesendirian yang muncul karena takut ditolak.
Meja yang Sama, Alasan yang Berbeda
Satu meja dapat menyimpan banyak cerita. Ada orang yang duduk sendiri karena ingin membaca sepuluh halaman buku setelah hari yang bising. Ada yang datang sendiri karena jadwalnya tidak cocok dengan siapa pun. Ada yang ingin menikmati makanan tanpa harus menjelaskan apa-apa. Semua itu wajar.
Walakin ada juga orang yang duduk sendiri karena takut menghubungi teman. Ada yang merasa tidak pantas ditemani. Ada yang makin lama makin menarik diri karena pengalaman ditolak, ditertawakan, atau tidak dianggap. Dari luar, semua tampak sama. Dari dalam, bedanya jauh.
Coplan dan Bowker menjelaskan bahwa dampak kesendirian sangat bergantung pada motivasi. Orang dapat mencari kesendirian karena ingin privasi, menikmati waktu luang, mengejar pengalaman religius, atau menghindari situasi yang mengganggu. Kesendirian yang dipilih dapat memulihkan. Namun bagi orang yang sebenarnya ingin terhubung, tetapi mundur karena cemas dan takut, kesendirian dapat meningkatkan kesepian, kekhawatiran, dan depresi (Coplan & Bowker, 2017, hlm. 291).
Oleh sebab itu, pertanyaan pentingnya bukan “apakah saya berani makan sendiri?” Pertanyaan yang lebih jujur ialah “mengapa saya memilih sendiri?” Bila jawabannya karena ingin tenang, meja itu bisa menjadi ruang pemulihan. Bila jawabannya karena takut manusia lain, meja itu mungkin sedang menyembunyikan masalah yang lebih dalam.
TikTok dan Bahasa Baru untuk Kegelisahan Lama
Solo Table Theory memberi bahasa baru untuk pengalaman lama. Orang sejak dulu makan sendiri, berjalan sendiri, bekerja sendiri, dan pulang sendiri. Bedanya, TikTok membuat pengalaman itu terlihat elok, rapi, dan laik ditiru. Kamera menyorot kopi, piring, buku, earphone, dan wajah yang tampak damai. Penonton melihat kemandirian. Ia tidak melihat rasa berwalang hati sebelum berangkat. Ia tidak melihat pesan yang tidak berani dikirim. Ia tidak melihat malam setelah konten selesai.
Bahasa baru kadang menolong. Ia membuat orang yang semula malu merasa punya nama untuk pengalamannya. Akan tetapi bahasa baru juga bisa menipu. Istilah yang terdengar psikologis tidak selalu menghadirkan pemahaman psikologis. Orang dapat memakai Solo Table Theory untuk bertumbuh. Orang juga dapat memakainya untuk membenarkan isolasi.
Bergmann dan Hippler menunjukkan bahwa budaya kesendirian selalu memuat dua sisi. Kesendirian dapat menjadi jalan pembebasan. Ia juga dapat menjadi gejala masyarakat yang sakit (Bergmann & Hippler, 2017, hlm. 25). Solo Table Theory bergerak di antara dua sisi itu. Ia membebaskan bila membantu orang berhenti takut pada ruang sendiri. Ia bermasalah bila membuat kebutuhan akan orang lain tampak seperti kelemahan.
Kesehatan Mental Membutuhkan Keseimbangan
Kesehatan mental tidak lahir dari pemujaan terhadap kemandirian. Manusia perlu bisa sendiri. Manusia juga perlu bisa kembali. Ia perlu ruang untuk mendengar dirinya sendiri. Ia juga perlu relasi yang membuatnya merasa aman.
Weinstein, Hansen, dan Nguyen meneroka bahwa manusia membutuhkan keseimbangan antara diri yang sendiri dan diri yang sosial. Mereka melihat kesendirian dan kebutuhan untuk terhubung sebagai dua bagian hidup yang saling melengkapi (Weinstein et al., 2024, hlm. 7). Hal ihwal ini pelajaran penting bagi generasi yang sering diajari memilih kubu: mandiri atau manja, kuat atau rapuh, sendiri atau bergantung.
Padahal orang yang sehat secara emosional tidak selalu kuat dalam pengertian populer. Ia tahu kapan perlu diam. Ia tahu kapan perlu meminta tolong. Ia bisa makan sendiri tanpa merasa kalah. Ia juga bisa menghubungi teman tanpa merasa ruai.
David Vincent menambahkan sudut sejarah yang berguna. Di era digital, manusia mencari cara untuk sendiri sekaligus tetap terhubung. Telepon genggam, internet, dan perangkat digital membantu sebagian orang menjaga jarak aman antara kesendirian dan kesepian, terutama ketika alat itu dipakai untuk mempertahankan hubungan dengan keluarga dan teman (Vincent, 2020, hlm. 365). Masalahnya bukan teknologi itu sendiri. Masalahnya ialah cara kita memakainya. Ponsel dapat menjadi jembatan. Ia juga dapat menjadi dinding.
Latihan Kecil
Solo Table Theory sebaiknya dipakai sebagai latihan kecil. Cobalah makan sendiri tanpa segera membuat konten. Duduklah. Perhatikan napas. Rasakan makanan. Dengarkan pikiran yang muncul. Apakah ada tenang. Apakah ada malu. Apakah ada takut dilihat orang. Jangan buru-buru menilai diri sendiri. Cukup kenali.
Setelah itu, lihat akibatnya. Bila waktu sendiri membuat tubuh lebih ringan, pikiran lebih jernih, dan relasi dengan orang lain membaik, teruskan. Bila waktu sendiri menjadi alasan untuk menghindari pesan, menolak pertemuan, dan menjauh dari orang yang peduli, hentikan pola itu. Hubungi seseorang. Buat janji. Katakan keadaan dengan sederhana.
Stern menulis bahwa kesepian bukan emosi nan sederhana, tetap, dan mudah dikenali. Ia menyebutnya sebagai emosi yang kompleks dan berubah-ubah (Stern, 2024, hlm. viii). Karena itu, meja untuk satu orang tidak boleh dibaca terlalu cepat. Ia bisa menjadi tempat seseorang pulih. Ia juga bisa menjadi tempat seseorang bersembunyi.
Nilai meja itu tidak ditentukan oleh kamera. Nilainya ditentukan oleh alasan seseorang datang, kondisi batinnya saat duduk, dan keberaniannya untuk kembali terhubung setelah selesai makan. Solo Table Theory menjadi berguna tatkala ia mengajarkan keberanian yang sederhana: berani sendiri tanpa membenci kebersamaan, berani bersama tanpa takut kehilangan diri.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.
