Hari Kebangkitan Nasional dan Harga Sebuah Kedaulatan
Setiap kali Hari Kebangkitan Nasional diperingati, kita sering membayangkannya sebagai momentum lahirnya kesadaran intelektual bangsa melalui Budi Utomo pada 1908. Namun jauh di balik itu, kebangkitan nasional sesungguhnya lahir dari kesadaran yang lebih mendasar: bangsa ini tidak ingin terus hidup dalam posisi lemah di hadapan kekuatan asing.
Penjajahan, pada akhirnya, bukan hanya terjadi karena bangsa lain kuat. Ia juga terjadi karena bangsa yang dijajah tidak memiliki cukup kemampuan untuk mempertahankan dirinya—baik secara ekonomi, politik, maupun militer.
Dalam konteks itulah, menarik melihat Iran hari ini.
Terlepas dari berbagai kontroversi politiknya, Iran menunjukkan bagaimana sebuah negara berusaha mempertahankan martabat nasionalnya di tengah tekanan geopolitik yang sangat besar. Negara itu memiliki salah satu cadangan energi terbesar dunia, posisi geografis strategis di sekitar Selat Hormuz, serta populasi besar yang membuatnya mustahil diabaikan dalam percaturan global.
Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati kawasan tersebut. Dalam dunia yang masih sangat bergantung pada energi fosil, posisi seperti itu bukan hanya anugerah ekonomi, tetapi juga sumber kerentanan geopolitik. Sejarah modern berkali-kali menunjukkan bahwa negara dengan energi besar, jalur perdagangan penting, dan posisi strategis hampir selalu menjadi arena perebutan pengaruh kekuatan dunia.
Karena itu, bagi Iran, kekuatan pertahanan bukan semata instrumen perang. Ia adalah cara memastikan bahwa keputusan-keputusan nasional tidak sepenuhnya ditentukan oleh kepentingan asing.
Keseriusan sebuah negara menjaga kepentingannya biasanya tercermin dari seberapa besar investasi yang berani ia keluarkan untuk pertahanan. Bukan untuk menyerang negara lain, melainkan untuk memastikan bahwa kedaulatannya tidak mudah ditekan.
Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), belanja militer dunia pada 2024 telah melampaui US$2,4 triliun. Amerika Serikat menghabiskan lebih dari US$900 miliar per tahun untuk pertahanan, sementara Cina mendekati US$300 miliar. Bahkan Israel, dengan wilayah yang relatif kecil, tetap mengalokasikan proporsi anggaran pertahanan yang sangat besar karena hidup di lingkungan geopolitik yang keras.
Iran memang tidak memiliki kemampuan ekonomi sebesar negara-negara tersebut. Namun di tengah sanksi panjang dan tekanan internasional, negara itu tetap membangun rudal, drone, sistem pertahanan udara, serta kapasitas perang asimetris sebagai bentuk deterrence. Pesan yang ingin dibangun sederhana: biaya untuk menekan Iran harus dibuat terlalu mahal bagi lawannya.
Di titik ini, ada pelajaran penting bagi Indonesia.
Sebagai negara dengan lebih dari 280 juta penduduk, wilayah laut yang sangat luas, cadangan mineral strategis, dan posisi penting di Indo-Pasifik, Indonesia sesungguhnya menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dunia mungkin tampak semakin modern dan diplomatis, tetapi perebutan pengaruh global tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk: melalui energi, teknologi, perdagangan, investasi, hingga tekanan geopolitik.
Karena itu, pertahanan seharusnya tidak dipandang semata sebagai beban anggaran negara. Bagi bangsa besar, pertahanan adalah bagian dari biaya menjaga kedaulatan.
Namun tantangannya tidak berhenti di sana. Dalam dunia multipolar hari ini, membangun kekuatan nasional juga membutuhkan kecerdasan strategis agar tidak sekadar berpindah dari satu ketergantungan menuju ketergantungan yang lain. Keluar dari pengaruh Washington, misalnya, tidak otomatis berarti harus jatuh ke orbit Beijing atau Moskow.
Kemandirian nasional justru diuji ketika sebuah negara mampu menjaga ruang manuvernya sendiri di tengah tarik-menarik kekuatan besar dunia.
Di sinilah makna kebangkitan nasional menjadi kembali relevan.
Hari Kebangkitan Nasional semestinya tidak hanya dimaknai sebagai romantisme sejarah tentang lahirnya organisasi modern pribumi. Ia perlu dibaca sebagai pengingat bahwa bangsa yang ingin dihormati harus memiliki kemampuan menjaga dirinya sendiri—secara ekonomi, teknologi, pangan, energi, dan pertahanan.
Sebab dalam dunia yang masih keras dan kompetitif, martabat nasional tidak hanya dibangun melalui pidato dan slogan, tetapi juga melalui kemampuan sebuah bangsa memastikan bahwa masa depannya tidak mudah ditentukan oleh pihak lain.
Dan mungkin, di situlah makna kebangkitan yang paling penting bagi abad ke-21: bukan sekadar bebas dari penjajahan fisik, tetapi cukup kuat untuk tetap merdeka dalam menentukan arah sejarahnya sendiri.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.
