Mampukah Tokyo Menjadi Jangkar Baru Keamanan Indonesia?
Menteri Pertahanan Jepang Shinjirō Koizumi dan Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama Pertahanan atau Defence Cooperation Agreement (DCA) dalam kunjungan Koizumi ke Jakarta pada awal Mei lalu. Momentum ini disebut sebagai tonggak krusial sekaligus kompas baru bagi hubungan bilateral kedua negara.
Penilaian tersebut sulit dibantah. Kesepakatan ini menandai pergeseran senyap tetapi sangat konsekuensial bagi konstelasi keamanan di kawasan Indo-Pasifik. Langkah strategis tersebut juga berkelindan langsung dengan dilema geopolitik Indonesia yang lebih luas.
Belakangan ini, munculnya laporan mengenai usulan pemberian hak terbang lintas selimut bagi pesawat militer Amerika Serikat di wilayah udara Indonesia memicu kritik tajam. Presiden Prabowo Subianto dinilai mulai menggadaikan prinsip politik luar negeri bebas dan aktif demi mendekat ke Washington.
Kendati pemerintah bersikeras belum ada kesepakatan yang dicapai, kecondongan Jakarta terhadap Tokyo justru bisa menjadi indikator yang lebih sahih.
Eskalasi Regional dan Dilema Geopolitik Jakarta
Realitasnya, kawasan Indo-Pasifik kini bergerak ke arah yang kian tidak stabil. Intrusi armada Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan terus meningkat, baik dalam hal frekuensi maupun agresivitasnya. Di belahan utara, Korea Utara tanpa henti meluncurkan rudal balistik ke perairan internasional. Ditambah lagi, koordinasi militer mereka dengan Rusia pasca-konflik Ukraina tampak semakin solid dan mengakar.
Jika ditarik lebih dekat ke beranda kita, kapal-kapal Tiongkok pun telah berulang kali merambah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di Laut Natuna Utara. Bagi sebagian kalangan, pendekatan Prabowo ke Washington tidak dipandang sebagai pengkhianatan terhadap prinsip dasar bangsa, melainkan respons pragmatis terhadap lingkungan keamanan regional yang kian memburuk.
Geografi kepulauan Indonesia secara alamiah menuntut postur pertahanan yang tangguh. Indonesia membentang di sepanjang Selat Malaka sebagai titik sumbat paling kritis di Indo-Pasifik, tempat mengalirnya 44,8% impor energi global setiap tahunnya.
Bagi Jakarta, kemampuan mengamankan koridor maritim ini adalah pertaruhan atas kelangsungan hidup ekonomi domestik. Kebutuhan tersebut mau tidak mau menuntut hadirnya mitra yang kapabel.
Kerja sama keamanan yang terlalu dalam dengan Washington tidak serta merta menjamin stabilitas regional. Komitmen Amerika Serikat kerap kali rapuh, cepat berubah tergantung pada pergeseran prioritas domestik mereka, dan belakangan ini sangat dipengaruhi oleh temperamen politik Presiden Donald Trump.
Apa yang sesungguhnya dibutuhkan Indonesia adalah mitra yang stabil sekaligus mumpuni, aktor yang mampu mengambil peran lebih aktif dalam arsitektur pertahanan regional tanpa membawa beban politik ataupun polarisasi geopolitik yang melekat pada aliansi formal bersama Amerika Serikat. Kriteria ini secara perlahan tetapi pasti mulai dipenuhi oleh Jepang.
Transformasi Radikal Pasifisme Tokyo
Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Sanae Takaichi, Tokyo tengah merombak kebijakan pertahanannya secara radikal, sebuah langkah yang mustahil dibayangkan satu dekade lalu.
Jepang kini secara proaktif mengusung visi Indo-Pasifik yang Bebas dan Terbuka atau FOIP, sebuah kerangka kerja strategis yang dahulu diartikulasikan oleh mendiang Perdana Menteri Shinzo Abe. Menandai peringatan sepuluh tahun FOIP pada Mei ini,
Perdana Menteri Takaichi menegaskan komitmen Jepang untuk mengambil peran yang jauh lebih aktif dari sebelumnya dalam menyokong tatanan internasional yang berbasis pada kebebasan dan supremasi hukum. Tatanan ini dinilai krusial untuk melindungi keamanan ekonomi serta jalur logistik energi di kawasan.
Manifestasi dari perubahan doktrin ini mulai terlihat nyata di lapangan. Jepang baru-baru ini mengerahkan kontingen militer terbesarnya dalam latihan bersama multilateral Balikatan 2026, bersanding dengan Amerika Serikat, Australia, Filipina, dan negara mitra lainnya.
Satu hal yang patut digarisbawahi adalah keterlibatan kapabilitas rudal anti-kapal Jepang dalam latihan tersebut, sebuah sinyal tegas di tengah kalkulasi geopolitik Tiongkok yang kian intensif di Laut Tiongkok Selatan. Langkah ini diperkuat dengan kebijakan domestik yang berani.
Pada April lalu, Tokyo mengumumkan reformasi bersejarah terhadap regulasi ekspor pertahanannya. Sepanjang era pasca-Perang Dunia II, konstitusi pasifis Jepang melarang keras ekspor senjata mematikan. Kini untuk pertama kalinya, Jepang membuka peluang ekspor jet tempur, rudal, hingga kapal perang kepada mitra strategis yang telah disetujui.
Melalui kebijakan diplomasi penjualan senjata yang digariskan Menteri Pertahanan Shinjirō Koizumi, transfer teknologi dan material pertahanan ini hanya akan dialirkan kepada negara-negara mitra yang sepemikiran.
Tujuannya eksplisit untuk memperkuat kapasitas pertahanan negara-negara demokratis di kawasan guna menangkal potensi perambahan wilayah oleh kekuatan eksternal yang bermusuhan. Modernisasi postur Jepang ini memberikan angin segar bagi negara-negara non-blok di Asia Tenggara yang kerap terjebak di antara persaingan dua kekuatan besar dunia.
Kalkulasi Strategis dan Keuntungan Indonesia
Bagi Indonesia, keuntungan dari penyelarasan strategis yang lebih erat dengan Jepang menawarkan jalan keluar yang jernih dengan memberikan keuntungan keamanan jangka pendek tanpa biaya diplomatik yang tinggi.
Jakarta sebetulnya telah mengantongi perjanjian transfer teknologi dengan Tokyo dan saat ini tengah menegosiasikan proyek pengembangan bersama fregat kelas Mogami, di mana empat unit direncanakan akan dibangun langsung di galangan kapal domestik.
Langkah serupa sebelumnya telah diambil Australia melalui kontrak senilai US$6,5 miliar untuk pengadaan sebelas unit fregat sejenis sebagai kontrak ekspor pertahanan terbesar dalam sejarah pasca-perang Jepang.
Jepang juga telah menawarkan kapal selam kelas Oyashio kepada Jakarta. Tawaran ini dikonfirmasi oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Muhammad Ali pada April lalu dan kini tengah dikaji secara intensif oleh Kementerian Pertahanan.
Dalam pertemuan di Jakarta, Koizumi dan Sjafrie pun sepakat untuk mempercepat kerja sama peralatan dan teknologi pertahanan demi memperkuat efek gentar maritim, komitmen yang kini diresmikan lewat pakta DCA.
Sinergi dengan Tokyo membuka akses bagi Indonesia dan dalam jangka panjang bagi ASEAN terhadap salah satu industri pertahanan paling canggih di Asia. Akses ini diperoleh tanpa ikatan formal komitmen aliansi militer ataupun paparan risiko politik domestik yang biasanya membayangi kemitraan dengan Amerika Serikat.
Visi Indo-Pasifik yang Bebas dan Terbuka milik Jepang beroperasi sebagai arsitektur keamanan kolektif yang fleksibel. Visi ini mampu mengakomodasi lanskap diplomatik unik dari setiap negara mitra, alih-alih mensubordinasikan mereka di bawah satu agenda tunggal kekuasaan global.
Bagi Presiden Prabowo, kalkulasi keuntungan ini rasanya kian sulit untuk diabaikan. Indonesia jelas membutuhkan mitra yang mampu mendongkrak kapabilitas pertahanan nasional tanpa mendikte kepatuhan arah diplomasi kita. Kemitraan strategis dengan Jepang muncul sebagai jawaban atas teka-teki ini.
Mempererat hubungan dengan Tokyo akan mengakselerasi pemenuhan kebutuhan pertahanan Indonesia sekaligus menjaga kredibilitas politik luar negeri bebas-aktif tetap utuh. Langkah ini mampu mengamankan kedaulatan negara tanpa harus membayar ongkos politik mahal berupa cap telah menanggalkan prinsip dasar geopolitik Jakarta yang telah digariskan sejak era Sukarno.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.
