Rokok, Vape, dan Masa Depan Paru Generasi Muda

Aisya Athifa
Oleh Aisya Athifa
3 Juni 2026, 08:20
Aisya Athifa
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Beberapa tahun lalu, rokok identik dengan asap tebal, bau menyengat, dan bapak-bapak yang duduk di warung kopi. Hari ini, wajahnya berubah. Nikotin kini tampil lebih modern, lebih “bersih”, dan lebih akrab dengan anak muda melalui vape atau rokok elektronik.

Bentuknya kecil dan futuristik. Aromanya seperti buah, kopi, atau permen. Di media sosial, vape lebih sering tampil sebagai bagian dari gaya hidup dibandingkan ancaman kesehatan. Banyak remaja bahkan merasa vape jauh lebih aman dibandingkan rokok biasa.

Sebagai dokter residen paru, saya justru semakin sering merasa khawatir.

Momentum “World No Tobacco Day” tahun ini seharusnya membuat kita kembali bertanya: sebenarnya ke mana arah masa depan kesehatan paru generasi muda Indonesia?

Kita memang hidup di masa ketika informasi kesehatan semakin mudah diakses. Anak muda sekarang lebih sadar soal olahraga, pola makan, dan kesehatan mental. Tetapi pada saat yang sama, paparan nikotin justru semakin dekat dengan kehidupan mereka.

Tidak sedikit remaja yang awalnya hanya “coba-coba” vape karena ikut teman. Ada yang merasa vape tidak berbahaya karena tidak menghasilkan asap seperti rokok. Ada juga yang menganggap vape sekadar tren sosial.

Padahal paru-paru tidak pernah benar-benar bisa membedakan mana asap rokok dan mana aerosol vape. Keduanya tetap membawa zat asing masuk ke saluran napas.

Belakangan ini, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa vape bukan produk yang aman bagi paru. Berbagai studi menemukan adanya peradangan saluran napas, gangguan pertahanan paru, hingga kerusakan jaringan paru akibat paparan vape. Bahkan di beberapa negara pernah muncul kasus cedera paru berat akibat penggunaan rokok elektronik pada remaja dan dewasa muda.

Ini yang sering tidak disadari. Bahaya vape mungkin tidak selalu muncul secara dramatis dalam waktu singkat. Kerusakan paru bisa terjadi perlahan, diam-diam, dan baru terasa beberapa tahun kemudian.

Saya sering merasa kita sedang menghadapi situasi yang ironis. Di satu sisi, Indonesia masih berjuang menghadapi tuberkulosis atau TB yang jumlah kasusnya termasuk tertinggi di dunia. Tetapi di sisi lain, kita juga membiarkan generasi mudanya semakin dekat dengan rokok dan vape. Padahal secara empiris hubungan rokok dan TB sebenarnya sudah lama diketahui.

Perokok lebih rentan mengalami infeksi TB dibandingkan bukan perokok. Rokok membuat pertahanan paru melemah sehingga kuman lebih mudah berkembang. Pada pasien TB, kebiasaan merokok juga sering membuat pengobatan menjadi lebih sulit dan tidak optimal.

Bagi saya, ini bukan lagi sekadar persoalan kebiasaan merokok. Kita sedang mempertemukan dua masalah besar sekaligus: tingginya konsumsi nikotin dan tingginya beban penyakit paru di Indonesia.

Yang membuat situasi semakin rumit adalah cara industri nikotin berubah mengikuti zaman. Dulu promosi rokok identik dengan baliho besar atau iklan televisi. Sekarang promosi bergerak jauh lebih halus melalui media sosial, influencer, dan budaya populer. Vape tampil sebagai simbol modernitas, kebebasan, bahkan kreativitas anak muda.

Banyak anak akhirnya masuk ke dunia nikotin bukan karena ingin merokok, tetapi karena ingin dianggap gaul, santai, atau dewasa.

Saya kadang membayangkan bagaimana kondisi paru generasi muda Indonesia 10 atau 20 tahun mendatang bila tren ini terus dibiarkan. Apakah kita akan menghadapi lebih banyak penyakit paru kronik pada usia muda? Apakah TB akan semakin sulit dikendalikan? Apakah kita sedang membentuk generasi yang lebih rentan sakit dibandingkan sebelumnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu terasa semakin relevan ketika melihat betapa mudahnya anak muda hari ini mengakses rokok maupun vape.

Kita sering menyebut anak muda harus menjaga masa depan. Tetapi menjaga masa depan tidak cukup hanya dengan pendidikan dan teknologi. Paru-paru yang sehat juga bagian dari masa depan itu.

Sayangnya, kesadaran soal kesehatan paru sering datang terlambat. Banyak orang baru peduli ketika sudah muncul sesak napas, batuk berkepanjangan, atau hasil pemeriksaan paru memburuk. Padahal kerusakan akibat nikotin dan paparan zat kimia bisa dimulai jauh sebelumnya.

Karena itu, saya merasa World No Tobacco Day yang diperingati setiap 31 Mei tidak seharusnya hanya menjadi seremoni tahunan. Peringatan ini seharusnya menjadi momen refleksi bersama bahwa persoalan rokok dan vape bukan hanya urusan individu, tetapi juga persoalan kesehatan publik.

Kita tentu tidak bisa menyelesaikan masalah ini hanya dengan melarang atau menyalahkan anak muda. Pendekatan yang terlalu menghakimi justru sering membuat mereka semakin menjauh dari edukasi kesehatan. Yang dibutuhkan adalah lingkungan yang benar-benar melindungi mereka.

Edukasi tentang bahaya nikotin harus dibuat lebih dekat dengan bahasa anak muda. Pengawasan iklan dan promosi digital perlu diperkuat. Akses rokok dan vape pada anak di bawah umur juga harus lebih serius dibatasi.

Dan yang tidak kalah penting, kita perlu berhenti menyebarkan narasi bahwa vape adalah pilihan aman bagi paru-paru. Sebab sampai hari ini, bukti ilmiah justru bergerak ke arah sebaliknya.

Sebagai dokter residen paru, saya percaya satu hal sederhana: sebagian besar anak muda sebenarnya ingin hidup sehat. Tidak ada remaja yang sejak awal bercita-cita menjadi pecandu nikotin atau mengalami penyakit paru di usia muda. Banyak dari mereka hanya tumbuh di lingkungan yang membuat rokok dan vape terlihat normal.

Karena itu, melindungi generasi muda dari rokok dan vape bukan berarti membatasi kebebasan mereka. Justru sebaliknya, itu adalah upaya memberi mereka kesempatan untuk tumbuh dengan paru yang lebih sehat dan masa depan yang lebih baik.

Indonesia tidak boleh terus menjadi pasar besar industri nikotin sambil pada saat yang sama berjuang menghadapi tingginya penyakit paru dan TB. Kalau kita tidak mulai lebih serius sekarang, mungkin beberapa tahun ke depan kita baru akan menyadari bahwa harga yang harus dibayar ternyata jauh lebih mahal. Dan saat itu terjadi, penyesalan biasanya selalu datang terlambat.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Aisya Athifa
Aisya Athifa
Dokter Residen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Universitas Indonesia

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...