Di Balik Algoritma: Kekuatan “Meaningful Content” dalam Industri E&M Indonesia

Irsan Yapto
Oleh Irsan Yapto
29 Juli 2026, 08:05
Irsan Yapto
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Di tengah gegap gempita transformasi digital, industri Entertainment & Media (E&M) terus membuktikan bahwa daya tariknya tidak pernah benar-benar pudar. Khususnya, pada konten yang memiliki makna dan cerita yang relevan bagi penikmatnya. 

Ada pesona tersendiri dalam cara film, sinetron, dan pengalaman menonton bersama menciptakan ikatan emosional yang sulit ditandingi oleh format konten lainnya. Pesona inilah yang membuka peluang pertumbuhan yang semakin besar bagi para pelaku industri maupun brand. 

Namun, di balik euforia short-form video dan algoritma yang serba instan, banyak yang lupa bahwa Connected TV, televisi siaran, dan layar bioskop tetap menjadi titik sentuh pemasaran yang sangat relevan dalam strategi brand masa kini. 

Di sinilah letak kekeliruan banyak pemasar, mereka terlalu fokus mengejar tren sesaat. Sementara media yang telah teruji ini terus menjadi ruang di mana cerita benar-benar dirasakan, diingat, dan berdampak pada keputusan konsumen. 

Data PwC yang berjudul “Annual Global Entertainment & Media Outlook 2025–2029” turut memperkuat tren ini. Sementara secara global iklan bergeser ke Connected TV, Indonesia telah mencatat pertumbuhan iklan TV siaran tercepat di dunia, dari US$1,4 miliar pada 2024 menjadi US$2,1 miliar pada 2029. 

Perusahaan TV tradisional di Indonesia pun secara aktif memanfaatkan momentum ini melalui iklan tertarget dan kemitraan brand untuk terus meningkatkan pendapatan mereka. Fenomena ini menegaskan bahwa layar televisi konvensional di Indonesia belum tergantikan, sekaligus menjadi bagian dari lanskap pertumbuhan industri E&M yang lebih luas. 

Pola serupa juga terlihat di layar lebar. Konten yang berada di TV maupun sinema bioskop mampu menciptakan keterlibatan emosional yang mendalam. Ini merupakan sesuatu yang sulit diduplikasi oleh konten digital berdurasi pendek yang mudah di-swipe atau iklan yang langsung dilewati. 

Mereka yang menikmati konten tidak hanya menyaksikan atau menonton. Melainkan, tetap dapat merasakan, mengingat, dan bahkan turut mempengaruhi perilaku konsumsi mereka sendiri. 

Bukti nyatanya terlihat jelas. Pada 2024, JAFF Market melaporkan total penonton bioskop Indonesia mencapai 82 juta orang, dengan film lokal menguasai 65% pangsa box office. Angka ini meningkat pada 2025, di mana Cinema XXI mencatat 85 juta admission dan total pendapatan Rp5,9 triliun. 

Di platform Over-The-Top (OTT), lebih dari 90% penonton Netflix Indonesia lebih memilih konten lokal yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Resonansi budaya lokal ternyata jauh lebih kuat daripada konten generik global. 

Dinamika ini membuka peluang strategis bagi brand untuk beradaptasi di era post-ad-skipping. Strategi built-in marketing—di mana produk melebur secara organik ke dalam narasi cerita—kini menjadi pendekatan paling efektif untuk mempertahankan relevansi konsumen. Hal ini yang juga dilakukan Coca-Cola dalam serial The Bear. 

Selain itu, Kopiko bersama LINK Media (bagian dari Link Group International) pun juga berhasil mengeksekusi formula serupa. Lewat kemitraan strategis tersebut, Kopiko konsisten menembus deretan K-drama blockbuster selama lima tahun terakhir. Hal ini dipertegas lewat penempatan produk di judul-judul besar seperti “Taxi Driver 3”, “Surely Tomorrow”, hingga “Phantom Lawyer” dalam satu tahun belakangan.

Di tengah disrupsi digital yang serba cepat dan cenderung superfisial, medium TV maupun ekosistem bioskop—dari iklan on-screen sebelum film dimulai, area menunggu, hingga audio branding yang dilakukan—justru menjadi benteng sekaligus peluang terbesar untuk membangun hubungan autentik antara brand dan konsumen. Keberhasilan LINK Group International menunjukkan bahwa visi jangka panjang, pemahaman budaya mendalam, dan inovasi dalam storytelling adalah formula pemenang. 

Bagi para pelaku industri dan brand yang ingin tetap relevan, perlu juga memikirkan ulang strateginya. Dari sekadar mengejar klik ke menciptakan cerita yang terus diingat. 

Pada akhirnya, konsumen tidak hanya mengingat produk, mereka mengingat cerita yang membuat mereka merasa terhubung. Selama layar TV siaran terus menyala di ruang keluarga serta lampu bioskop terus meredup sebelum film dimulai, di situlah cerita-cerita hebat Indonesia akan terus hidup. Di sinilah brand dapat hadir di dalamnya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Irsan Yapto
Irsan Yapto
Founder & CEO LINK Group International

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...