Ketika Algoritma Ikut Membentuk Kekerasan Remaja
Dunia pendidikan Asia Tenggara dalam dua pekan terakhir dikejutkan oleh penembakan di sekolah yang dilakukan remaja. Di Filipina, seorang siswa kelas sembilan menyiarkan langsung aksinya di Ateneo de Zamboanga University. Satu tewas, beberapa luka, pelaku mengakhiri hidupnya.
Beberapa hari kemudian, di Thailand, remaja 14 tahun menembaki SMA Debsirin Nonthaburi setelah membunuh kakek-neneknya sendiri. Delapan orang tewas. Polisi menemukan pelaku mempelajari cara menggunakan senjata melalui media sosial.
Dua kasus ini bukan sekadar berita dari negeri tetangga. Mereka adalah cermin ancaman yang jika tidak waspada, bisa mendekati dunia pendidikan kita. Seberapa dekat bahaya ini dengan Indonesia?
Copycat Effect: dari Tragedi Melahirkan Tragedi Lainnya
Fenomena ini memiliki nama dalam literatur kriminologi: copycat effect atau media contagion effect. Ketika liputan media tentang satu penembakan massal meningkatkan kemungkinan kejadian serupa oleh pelaku lain yang terinspirasi.
Penelitian Towers dan koleganya (2015) menemukan pola konsisten: setelah satu peristiwa penembakan diberitakan luas, probabilitas penembakan lain meningkat dalam periode tertentu. Ini adalah pola penularan ide yang nyata, mirip dengan efek contagion dalam kasus bunuh diri.
Di Indonesia, fenomena ini sebenarnya tidak asing, walaupun tidak menggunakan senjata api. November 2025, ledakan bom rakitan di SMAN 72 Jakarta melukai lebih dari 50 orang. Densus 88 mengungkap pelaku, siswa 17 tahun, melakukan copycat dari aksi kekerasan global. Di permukaan senjata mainannya, ia menulis nama-nama pelaku penembakan massal: Brenton Tarrant (Selandia Baru), Eric Harris dan Dylan Klebold (Columbine), serta Dylann Roof (AS).
Yang lebih mengkhawatirkan, efek tiruan ini memiliki mata rantai. Juli 2026, seorang siswa MAN 3 Padang melakukan pengeboman yang merupakan peniruan dari kasus SMAN 72. Juru bicara Densus 88 mengamini bahwa pelaku mengakui motif dan latar belakang yang sama. Rantai peniruan yang tumbuh di tanah sendiri.
Algoritma Menjadi “Guru” dan Sekolah Abai pada Luka
Banyak orang tua masih berpikir: "Anak saya cuma nonton video." Padahal, di balik layar ada “teman tak terlihat” bernama algoritma. Media sosial bekerja dengan logika sederhana: apa yang sering kamu tonton, sukai, komentari, atau bagikan? Jawabannya menjadi bahan bakar algoritma.
Jika remaja tertekan karena ejekan atau pengucilan, beberapa kali menonton video kekerasan atau mencari cara membuat senjata rakitan, algoritma akan “berpikir”: Oh, kamu suka konten ini. Aku kirim lagi yang mirip.
Feed remaja perlahan berubah menjadi biara kekerasan. Konten keras membanjiri layar, dan tanpa sadar, tindakan ekstrem menjadi tampak biasa. Ini desensitisasi berbahaya. Kekerasan bersenjata kehilangan bobot mengerikannya, berganti menjadi “opsi” yang terlihat masuk akal. Algoritma bukan lagi fitur teknis, ia menjadi lingkungan sosial baru yang membentuk cara remaja memandang dunia dan membenarkan dendam.
Namun algoritma hanya satu sisi. Sisi lain adalah echo chamber atau ruang gema. Ibarat berteriak di ruang tertutup, suara memantul berulang. Di dunia digital, ruang gema terjadi ketika seseorang hanya berinteraksi dengan kelompok sependapat, sementara pandangan berbeda jarang masuk. Bagi remaja frustasi, ruang ini terbentuk di grup obrolan tertutup (WhatsApp, Telegram, Discord) atau komunitas anonim.
Dalam ruang seperti ini, respons terhadap video kekerasan bukan kecaman, melainkan tawa, pujian, dan dorongan: "gila keren", "respect bang", "calon legenda sekolah". Suara kritis jarang terdengar atau langsung di-bully balik. Remaja merasa perilaku kekerasan diterima, bahkan dianggap keren dan patut dibanggakan. Identitas mereka terbentuk dari validasi di sana, bukan dari lingkungan nyata yang justru mengabaikan.
Di sinilah kita harus menoleh ke lingkungan terdekat. Kasus di Filipina, Thailand, SMAN 72, dan MAN 3 memiliki benang merah. Para pelaku adalah remaja yang merasa tidak terlihat, korban perundungan berlarut, diejek, dikucilkan, tanpa tempat mengadu.
Ketika sekolah dan orang tua abai, ketika guru menganggap ejekan sebagai “candaan”, ketika sekolah sibuk mengejar nilai dan mengabaikan iklim sosial, remaja kehilangan pegangan di dunia nyata.
Lalu ke mana ia pergi? Ke dunia maya. Algoritma menyambutnya dengan “pelukan hangat” berupa konten kekerasan, sementara ruang gema memberinya tepuk tangan yang tak pernah ia dapatkan di kelas. Sekolah yang seharusnya menjadi perlindungan justru menjadi pemicu pelarian.
Inilah yang membuat copycat effect bukan sekadar peniruan satu aksi, tetapi rantai sistemik: perundungan diabaikan → remaja terisolasi → algoritma menyuplai model kekerasan → ruang gema menguatkan niat → aksi terjadi dan direkam → konten viral menginspirasi aksi berikutnya.
Jika rantai ini tidak diputus, kita sedang memupuk ladang subur bagi peniru berikutnya. Sudah saatnya sekolah tidak abai. Menghentikan perundungan dan membangun komunikasi sehat bukan lagi tugas guru BK semata, melainkan fondasi darurat menyelamatkan generasi dari jerat algoritma dan ruang gema yang mematikan.
Penutup
Selama dua dekade, aparat, orang tua, dan institusi pendidikan disibukkan oleh ketakutan akan infiltrasi ideologi teroris agama ke dunia pelajar. Ratusan seminar digelar, kurikulum antiradikalisme digalakkan. Namun kekhawatiran itu, meski tidak sepenuhnya salah, telah kehilangan relevansi sebagai ancaman utama bagi generasi muda.
Kasus di Filipina, Thailand, SMAN 72, dan MAN 3 membuktikan: para pelaku tidak berbicara tentang surga, tidak mengangkat bendera terlarang, tidak membaca manifesto teologis. Mereka berbicara tentang dendam, rasa malu, kesepian, dan hasrat untuk dikenal.
Di era keterbukaan informasi, “rekrutmen” tak lagi butuh agen lapangan. Cukup ponsel, koneksi internet, dan lingkungan sosial yang gagal menampung emosi. Algoritma mengerjakan sisanya menjadi penjual ide paling ulet, terus menyodorkan kekerasan sebagai solusi sampai remaja percaya itulah satu-satunya jalan keluar.
Kita tidak bisa melawan algoritma hanya dengan aturan. Kita hanya bisa melawannya dengan kehadiran. Kehadiran orang dewasa yang mendengar, teman yang tidak menghakimi, dan sekolah yang berani bertanya: "Apa yang sedang kamu rasakan?"
Pelaku penembakan di sekolah tidak lahir dari doktrin rumit. Mereka lahir dari ruang-ruang sunyi yang tidak pernah diisi kepedulian. Selama ruang itu kosong, selama perundungan dianggap “hal biasa”, selama algoritma dibiarkan menjadi “guru” kedua, maka ancaman sejati akan tetap tumbuh liar di bangku sekolah, dalam genggaman ponsel, dan dalam kesunyian yang tidak pernah kita tanyakan.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.
