Kemarau belum benar-benar datang, tapi bayangannya sudah menghantui. Meski beberapa wilayah di Indonesia masih kerap diguyur hujan, para ilmuwan dan meteorologis sudah memperingatkan sesuatu yang besar akan terjadi. National Oceanic and Atmospheric Organisation (NOAA) memperkirakan El Nino berpotensi terbentuk dalam tiga bulan ke depan.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur yang bisa mengubah pola cuaca secara global. Fenomena ini biasanya dinyatakan terjadi ketika suhu laut naik setidaknya +0,5°C di atas normal dan bertahan selama beberapa bulan.
Meski terdengar kecil, kenaikan suhu ini cukup untuk mengganggu sistem angin dan pembentukan awan. Akibatnya, wilayah seperti Indonesia justru mengalami penurunan curah hujan dan musim kemarau yang lebih panjang. Para ilmuwan NOAA menyebut saat ini dunia masih dalam masa transisi dari La Nina, kondisi ketika suhu permukaan laut Pasifik turun setidaknya 0,5°C.
Namun, kondisi ini berpotensi berubah dalam beberapa bulan ke depan. Hawa panas mulai terbentuk di bawah permukaan laut. Sementara di permukaan, angin pasat melemah. Kondisi ini sangat mendukung untuk membentuk fenomena El Nino.
“Jika El Nino terbentuk, kekuatannya masih sulit dipastikan, dengan peluang 1 banding 3 El Nino akan menjadi kuat pada periode Oktober-Desember 2026,” tulis NOAA dalam keterangan resminya.
Meski potensi El Nino kuat belum pasti terjadi, sejumlah pihak sudah mewanti-wanti. Badan Riset Nasional (BRIN) bahkan menyebut ‘Godzilla’, fenomena El Nino super yang mengintai wilayah Indonesia. Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, mengatakan El Nino akan diperparah oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif.
“IOD+ diindikasikan dengan pendinginan suhu permukaan laut di dekat Sumatra dan Jawa,” kata Erma.
Kombinasi El Nino dan IOD + akan berdampak berbeda ke wilayah-wilayah di Indonesia. Kemarau akan melanda Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara. Sementara kawasan Timur justru akan mengalami curah hujan tinggi. Potensi bencana kekeringan, banjir, hingga kebakaran hutan dan lahan akan sangat rentan terjadi.
Ancam Komoditas Strategis
Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Dwi Andreas Santosa mengatakan perhitungan sejumlah lembaga memprediksi El Nino akan bertahan hingga Juli 2027. Jika ini terjadi, hampir semua tanaman terganggu.
“Ini terutama akan berdampak ke produksi beras, jagung, dan tebu,” katanya kepada Katadata, Senin (30/3).
Di antara ketiga komoditas strategis tersebut, tebu jadi yang paling krusial. Andreas mengatakan tebu sangat membutuhkan air terutama saat musim tanam dimulai. Padahal, perkebunan tebu di Indonesia saat ini saja masih belum mencukupi untuk memasok kebutuhan gula nasional. Pada 2026, Indonesia diperkirakan mengimpor sekitar 3,1 juta ton gula demi memenuhi kebutuhan domestik.
Di sisi lain, pemerintah juga mendorong program mencampur bensin dengan etanol, di tengah ancaman pasokan energi global akibat konflik Timur Tengah. Menurut Andreas, tebu memang jadi tanaman terbaik dan paling efisien untuk menghasilkan etanol. Namun, produksi yang rendah dan ancaman El Nino akan menghambat program E10.
“Swasembada gula konsumsi saja belum pernah terjadi. Apalagi untuk etanol,” kata Andreas.
Menurut Andreas, program E10 tidak realistis dalam kondisi defisit gula dan ancaman El Nino saat ini. Kondisi industri Indonesia berbeda dengan Brasil yang memiliki lahan pertanian tebu dan fasilitas khusus untuk diolah menjadi etanol. Di Indonesia, etanol diproduksi dari produk sampingan pengolahan gula yang disebut molase.
Menurut Andreas, mengandalkan produksi tebu saat ini untuk etanol sangat tidak realistis. Jalan satu-satunya adalah dengan mengimpor etanol. Namun, kebijakan ini berpotensi menekan harga molase lokal.
“Produksi tebu pasti turun kalau El Nino. Kalau dipaksakan untuk etanol, pasokan gula terancam,” kata Andreas.
Kondisi ini pernah terjadi pada 2023 saat El Nino menghantam hasil panen tebu. Produktivitas anjlok hingga 20%, membuat harga gula melambung di pasaran. Lisa Dwifani Indarwati, peneliti agronomi di Universitas Brawijaya menyebut unsur-unsur iklim berpengaruh hingga 64% dalam produktivitas tebu. Dalam kondisi kekeringan saat El Nino, daun tebu akan tergulung untuk mengurangi transpirasi.
“[Tebu] mengalami penurunan luas daun untuk mengurangi serapan sinar matahari dan penurunan kadar klorofil,” tulis, dalam penelitiannya.
Agenda Nasional
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut program etanol untuk bahan bakar akan diterapkan bertahap. Pencampuran etanol 10% atau E10 akan diterapkan di 2027, sementara E20 akan berjalan di 2028.
“Karena kalau harga minyak fosilnya bisa melampaui US$ 100 per barel, maka itu akan lebih murah kalau kita blending (campur),” ujar Bahlil ketika dijumpai di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Senin (9/3).
Guna mengakselerasi program ini, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati. Dalam aturan tersebut, menargetkan peningkatan produksi etanol dari tebu sebanyak 1,2 juta kiloliter (kl) di 2027. Namun, jika melihat capaian pada 2024, pemenuhan target akan menempuh jalan yang cukup berat.
Mengutip data Direktorat Jenderal Perkebunan, produksi tebu nasional hanya 33,2 juta ton pada 2024. Angka ini bisa menghasilkan sekitar 2 juta ton molase. Saat diolah menjadi etanol, produksinya sekitar 500.000 kl etanol per tahun. Angka ini masih sangat jauh dari total kebutuhan program E10 yang diperkirakan mencapai 1,4 juta kl.
Etanol memang bisa dihasilkan dari tanaman lain seperti jagung dan singkong. Namun, menurut Dwi Andreas, tebu merupakan tanaman paling efektif dan efisien untuk menghasilkan etanol.
“Etanol dari Brasil yang dihasilkan dari tebu lebih murah dan lebih bagus dari etanol Amerika Serikat yang berasal dari jagung,” kata Dwi Andreas.
Sebelumnya, Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menyebut sebagian petani mulai enggan menanam tebu menjelang musim tanam akhir 2025. Sekretaris Jenderal APTRI, M. Nur Khabsyin, menilai implementasi program E10 hanya realistis jika swasembada gula terlebih dahulu tercapai.
“Walaupun aturan tersebut sudah diubah, saat ini petani was-was untuk kembali menanam tebu, memperluas area tanam, maupun meningkatkan produksi,” ujarnya.
Nur menegaskan peningkatan produksi molase hanya bisa terjadi jika pemerintah menjamin serapan gula petani lokal dengan harga yang layak.
“Keberpihakan pemerintah terhadap petani tebu harus serius, karena etanol ini diolah dari molases,” katanya.
