Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ketika konflik geopolitik memanas, emas biasanya menjadi pelarian utama investor. Namun kali ini, pola itu justru patah. Di tengah eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat–Israel dan Iran, harga emas dunia malah terkoreksi tajam.

Dalam satu bulan terakhir, harga emas spot anjlok hampir 15% dan meninggalkan level tertingginya di kisaran US$ 5.600 per troy ons pada akhir Januari lalu. Meski sempat naik tipis ke kisaran US$ 4.518–US$ 4.529 per troy ons pada perdagangan awal pekan, pergerakan harga emas masih belum stabil.

Koreksi terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak hingga sekitar US$ 116 per barel. Hal ini mencerminkan meningkatnya risiko gangguan pasokan energi global, terutama dari jalur krusial seperti Selat Hormuz.

Di tengah situasi tersebut, pasar justru membaca risiko dengan cara berbeda. Emas tidak lagi diposisikan semata sebagai safe haven, melainkan sebagai aset yang tertekan oleh dinamika makro global terutama suku bunga dan penguatan dolar AS. Merujuk Reuters, penurunan tajam ini bahkan mulai menggoyahkan persepsi terhadap emas sebagai aset pelindung nilai.

Penilaian ini juga tercermin dari pelaku pasar global. Emas mencatatkan salah satu bulan terburuknya sejak 2008 meskipun sebelumnya mengalami kenaikan signifikan.

"Saya perlu melihat kinerja yang lebih positif agar ini menjadi pola kelanjutan," ujar ahli strategi logam senior di Zaner Metals, Peter Grant seperti dikutip Rabu (1/4).

Anomali harga emas seperti terlihat dari grafik bukan tanpa preseden. Dalam berbagai episode krisis global, emas memang kerap melonjak di awal, tetapi tidak selalu bertahan.

Pada 2022 saat awal invasi Rusia ke Ukraina, harga emas sempat melonjak menembus US$ 2.000 per troy ons dari kisaran US$ 1.800 per troy ons akibat lonjakan permintaan safe haven. Namun reli itu tidak bertahan lama karena pasar kembali fokus pada inflasi dan kebijakan suku bunga.

Pola serupa juga terlihat saat pandemi Covid-19. Ketika ketidakpastian global memuncak, emas menguat signifikan. Namun dalam fase berikutnya, arah harga kembali ditentukan oleh likuiditas dan kebijakan moneter, bahkan tidak selalu menjadi lindung nilai paling optimal dibandingkan aset lain.

Dalam berbagai konflik di Timur Tengah sebelumnya, pola yang muncul juga tidak konsisten. Harga emas kerap naik di awal ketegangan, tetapi kemudian melemah ketika dolar menguat dan suku bunga naik. Artinya, konflik memang menjadi katalis, tetapi bukan penentu tunggal arah harga.

Bayang Ekspektasi Suku Bunga

Bila dilihat lebih jauh, akar utama dari anomali harga emas saat ini tterletak pada ekspektasi suku bunga global. Tekanan terhadap emas tak hanya datang dari konflik melainkan dari konsekuensinya seperti inflasi yang meningkat dan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi.

Direktur PT Trijaya Pratama Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan emas dipicu oleh kombinasi penguatan dolar AS dan lonjakan harga minyak yang mendorong inflasi global. Kondisi tersebut memperbesar peluang bank sentral untuk mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga.

“Kalau inflasi ini terjadi, maka Bank Sentral Global kemungkinan besar di bulan April akan menaikkan suku bunga,” ujar Ibrahim kepada Katadata, seperti dikutip Rabu (30/3).

Kenaikan suku bunga meningkatkan daya tarik aset berbasis yield seperti obligasi dan dolar AS. Di sisi lain, emas sebagai aset tanpa imbal hasil menjadi kurang kompetitif. Inilah yang menjelaskan mengapa emas justru tertekan di tengah konflik.

Pandangan ini sejalan dengan analisis Research & Development ICDX, Tiffani Safinia. Ia menilai, harga emas saat ini lebih didorong oleh ekspektasi kebijakan moneter dibanding fungsi lindung nilainya.

“Kondisi ini menciptakan situasi yang bertolak belakang, di mana konflik yang biasanya mendorong kenaikan harga emas justru menekan harga karena memicu ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi,” ujar Tiffani.

Ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama semakin memperkuat tekanan. CME FedWatch bahkan menunjukkan pasar tidak lagi berharap penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Akibatnya, opportunity cost memegang emas meningkat dan arus dana bergeser ke instrumen berbunga. 

Menakar Ulang: Koreksi atau Momentum?

Selain faktor moneter, karakter konflik juga memengaruhi arah pasar. Menurut Ibrahim, konflik saat ini masih bersifat teknologi dan belum melibatkan perang darat secara langsung. Dampaknya terhadap rantai pasok global masih terbatas, sehingga belum cukup kuat untuk memicu lonjakan permintaan emas secara agresif. Namun, situasi ini bisa berubah cepat jika eskalasi meningkat.

“Kemungkinan besar, nanti pada saat terjadi perang darat, kemudian Selat Hormuz dikuasai oleh Amerika CS, kemungkinan besar harga minyak ini akan turun dan emas sebagai safe haven sebagian yang tinggi akan terbang,” ujarnya.

Selat Hormuz sebagai jalur vital distribusi energi global menjadi titik krusial. Gangguan pada jalur ini dapat memicu lonjakan harga minyak, meningkatkan inflasi, dan mendorong pengetatan kebijakan moneter yang pada akhirnya justru kembali menekan emas dalam jangka pendek.

Meski demikian, prospek emas belum sepenuhnya suram. Justru dalam fase koreksi ini, ruang akumulasi mulai terbuka. Ia menyarankan akumulasi dilakukan saat harga berada di bawah Rp 2,8 juta per gram. 

“Jadi tinggal menunggu waktu saja. Saya masih optimis bahwa harga emas dunia itu akan tembus level US$ 6.000. Tinggal tunggu waktu saja,” kata Ibrahim.

Senada dengan Ibrahim, Tiffani menilai prospek emas tetap positif dalam jangka menengah meski volatilitas tinggi masih membayangi. Karena itu ia menyatakan investasi emas saat ini bukan pilihan buruk, 

“Dapat dikatakan bahwa konflik berperan sebagai katalis jangka pendek, sementara tren jangka menengah hingga panjang tetap ditentukan oleh kondisi makroekonomi global,” ujarnya.

Anomali harga emas yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir menjelaskan bahwa peran safe haven tidak hilang, tetapi berubah. Emas tidak lagi bereaksi otomatis terhadap konflik, melainkan bergerak dalam lanskap yang lebih kompleks yaitu ditentukan oleh suku bunga, inflasi, dan kekuatan dolar.

Bagi investor, membaca geopolitik saja tidak lagi cukup. Arah kebijakan moneter global kini menjadi variabel kunci. Dalam lanskap seperti ini, emas tetap relevan, namun momentumnya tidak lagi instan melainkan menunggu waktu yang tepat untuk kembali bersinar.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri, Leoni Susanto

Cek juga data ini