Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Hampir tiga dekade setelah kontrak pertama diteken, Proyek Abadi Blok Masela akhirnya memasuki fase pembangunan fisik melalui groundbreaking di Provinsi Maulu Utara pada Kamis (17/7). Bagi pemerintah, momen ini mengakhiri penantian panjang atas salah satu proyek migas terbesar di Indonesia.

Namun bagi industri energi, groundbreaking justru menjadi awal pertaruhan baru mengenai mampukah proyek senilai US$20 miliar atau lebih dari Rp 360 triliun itu melewati tantangan investasi, pasar, dan konstruksi hingga benar-benar mulai berproduksi pada akhir dekade ini?

28 Tahun Penuh Liku

Perencanaan pembangunan Blok Masela menempuh proses panjang yang berliku selaam 28 tahun sejak kontrak diteken.

Perjalanan Proyek Abadi Blok Masela dimulai pada 16 November 1998 ketika pemerintah Indonesia menandatangani Production Sharing Contract (PSC) dengan Inpex Masela Ltd. asal Jepang. Saat itu Inpex memperoleh hak pengelolaan selama 30 tahun sebagai operator tunggal dengan kepemilikan hak partisipasi (participating interest/PI) sebesar 100%.

Sejarah Blok Masela

Melalui kegiatan eksplorasi, Inpex menemukan cadangan gas raksasa Lapangan Abadi di Laut Arafura pada 2000. Temuan tersebut menjadikan Blok Masela sebagai salah satu penemuan gas terbesar di Indonesia.

Dalam perkembangannya, Inpex memperoleh kompensasi waktu tujuh tahun dan perpanjangan kontrak selama 20 tahun. Dengan demikian, kontrak pengelolaan Blok Masela berlaku hingga 15 November 2055.

Untuk memperkuat pendanaan dan kemampuan teknologi, struktur kepemilikan proyek berubah pada 2011 ketika Shell Upstream Overseas Services mengakuisisi 30% hak partisipasi. Setelah penyesuaian kepemilikan pada 2013, komposisi saham menjadi Inpex 65% sebagai operator dan Shell 35%.

Perdebatan Kilang Onshore atau Offshore

Meski cadangan gas ditemukan sejak awal 2000-an, proyek tak kunjung memasuki tahap pembangunan. Salah satu penyebab utamanya adalah perdebatan mengenai konsep pengembangan fasilitas LNG.

Inpex dan Shell semula mengusulkan pembangunan kilang terapung (floating LNG/offshore) yang dinilai lebih efisien secara teknis. Namun pemerintah memiliki pandangan berbeda.

Pada Maret 2016, Presiden Joko Widodo memutuskan fasilitas LNG harus dibangun di darat (onshore) agar memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi Maluku dan kawasan Indonesia Timur.

Keputusan tersebut memaksa operator menyusun ulang seluruh Plan of Development (PoD), mulai dari desain fasilitas produksi, jaringan pipa, hingga kebutuhan investasi. Revisi itu kembali menggeser jadwal proyek selama beberapa tahun.

Shell Hengkang, Proyek Kembali Tertunda

Hambatan berikutnya muncul ketika Shell memutuskan keluar dari proyek pada 2020 di tengah pandemi Covid-19 dan pergeseran investasi global menuju energi rendah emisi.

Proses divestasi baru rampung pada 2023 setelah pemerintah menyetujui pengalihan kepemilikan. Sebanyak 35% hak partisipasi Shell kemudian diambil alih oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dan Petronas Masela Sdn. Bhd. melalui transaksi senilai sekitar US$650 juta.

Masuknya dua mitra baru memungkinkan pemerintah menyetujui revisi kedua Plan of Development (PoD I) pada 28 November 2023. Setelah itu, proyek memasuki tahap Front End Engineering and Design (FEED) pada Agustus 2024 sebagai persiapan menuju keputusan investasi final (Final Investment Decision/FID).

Pemerintah kemudian meningkatkan tekanan kepada operator agar proyek tidak kembali molor. Pada awal 2025, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengancam mencabut konsesi Inpex apabila proyek tidak menunjukkan kemajuan menuju produksi. SKK Migas juga menerbitkan Surat Peringatan (SP-1) guna mempercepat realisasi proyek sekaligus memastikan kepastian pasar bagi gas yang akan diproduksi.

Groundbreaking yang dilakukan pada Juli 2026 menjadi penanda bahwa proyek yang selama hampir tiga dekade lebih banyak berkutat pada revisi desain, pergantian mitra, dan penyusunan ulang skema pengembangan akhirnya memasuki tahap eksekusi.

Babak Baru: Pembangunan hingga Hilirisasi

Proyek Abadi Blok Masela akan mengembangkan Lapangan Gas Abadi dengan kapasitas produksi sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD) untuk kebutuhan domestik, serta sekitar 35 ribu barel kondensat per hari.

Proyek ini juga menjadi proyek LNG pertama di Indonesia yang mengintegrasikan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) sejak tahap awal pengembangan sebagai bagian dari upaya menekan emisi karbon.

 
Babak Baru Blok Masela

Babak Baru Blok Masela (Katadata)

Menurut Bahlil, pembangunan akan dilakukan secara bertahap. Tahap awal meliputi pembangunan pagar kawasan, jalan akses, pelabuhan, fasilitas penyimpanan, kawasan pendukung, hingga pembangunan pipa bawah laut sepanjang sekitar 180 kilometer dengan kedalaman mencapai sekitar 1.000 meter.

Di saat bersamaan, pemerintah bersama operator mempercepat proses komersialisasi proyek. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan tender paket-paket utama telah dipercepat sehingga hasilnya diharapkan menjadi dasar penyusunan angka indikatif Final Investment Decision (FID) pada akhir tahun.

Djoko juga mengatakan negosiasi dengan calon pembeli gas di luar negeri telah berjalan. Menurut dia, pembangunan fisik dan proses komersialisasi harus berlangsung secara paralel agar proyek dapat segera memasuki tahap investasi final.

Pemerintah menargetkan sekitar 60% produksi gas Blok Masela dialokasikan untuk kebutuhan domestik, sedangkan maksimal 40% dipasarkan ke luar negeri sesuai perkembangan negosiasi dengan calon pembeli.
Gas tersebut diproyeksikan memasok kebutuhan PLN, PGN, serta industri nasional. Pemerintah juga berencana mengembangkan industri berbasis gas di sekitar kawasan proyek, termasuk pabrik pupuk dan industri blue ammonia.

Menurut Bahlil, strategi tersebut ditujukan untuk menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di Maluku melalui pengembangan industri hilir sehingga manfaat proyek tidak berhenti pada investasi migas semata, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi kontraktor, pemasok, pelaku usaha lokal, dan tenaga kerja.

Prospek Besar, Tantangan Belum Usai

Di tengah optimisme pemerintah, sejumlah pengamat menilai groundbreaking baru menjadi langkah awal. Keberhasilan proyek masih ditentukan oleh kepastian investasi, pasar, hingga kemampuan proyek memenuhi target produksi sekaligus mendukung agenda transisi energi.

Founder & Advisor ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto menilai Blok Masela berpotensi menjadi salah satu penopang utama produksi gas nasional. Jika mulai beroperasi sesuai target pada dekade 2030-an, proyek tersebut diperkirakan dapat menyumbang sekitar 15% produksi gas nasional.

Namun, menurutnya, keberhasilan proyek tetap bergantung pada kepastian pasar. Kontrak penjualan gas, alokasi volume, dan harga menjadi faktor utama yang menentukan kelayakan ekonomi proyek. Setelah aspek tersebut terpenuhi, tantangan berikutnya adalah memastikan pembangunan berjalan sesuai jadwal hingga produksi dimulai.

Ekonom CORE Indonesia Muhammad Ishak Razak menilai groundbreaking merupakan tonggak penting secara politik dan administratif, tetapi belum menjadi jaminan keberhasilan proyek secara komersial. Sebab, keputusan investasi final (FID) baru ditargetkan selesai pada akhir 2026, sementara proyek masih membutuhkan kepastian pendanaan dan kontrak pembelian gas jangka panjang di tengah dinamika harga LNG global.

Ia juga menilai pemerintah perlu memastikan proyek tidak hanya menghasilkan gas, tetapi juga menjadi sarana transfer teknologi. Menurutnya, keterlibatan Pertamina perlu dioptimalkan agar Indonesia mampu membangun kapasitas nasional dalam pengelolaan lapangan laut dalam, fasilitas LNG, hingga teknologi penangkapan karbon.

Di sisi lain, Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai Blok Masela memiliki nilai strategis karena menjadi proyek migas pertama di Indonesia yang mengintegrasikan teknologi CCS sejak tahap awal pengembangan.

Meski demikian, Fabby mengingatkan efektivitas teknologi tersebut baru dapat dibuktikan setelah proyek mulai beroperasi. Pengalaman sejumlah proyek di luar negeri menunjukkan kinerja penangkapan karbon tidak selalu sesuai target awal sehingga implementasinya di Blok Masela masih perlu dibuktikan.

Fabby juga menilai pasokan gas dari Blok Masela akan berperan penting menjaga kebutuhan gas domestik, terutama sebagai bahan baku industri di tengah menurunnya produksi dari sejumlah lapangan gas yang telah memasuki fase deplesi. Namun, ia mengingatkan gas sebaiknya diprioritaskan untuk sektor industri dibandingkan pembangkit listrik, mengingat teknologi energi terbarukan kini semakin kompetitif dari sisi biaya.

Groundbreaking menutup satu bab panjang penantian Blok Masela, sekaligus membuka babak baru yang lebih menentukan. Sebab pada akhirnya, yang akan menjadi ukuran bukan seberapa megah seremoni dimulai, melainkan seberapa cepat gas dari Laut Arafura benar-benar mengalir ke industri, rumah tangga, dan perekonomian Indonesia.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina, Mela Syaharani

Cek juga data ini