Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Raut muka Delvi (32) tak antusias ketika bercerita tentang portofolio sahamnya. Empat saham perdana yang dibelinya sepanjang Juli tak satu pun memberi keuntungan seperti yang ia harapkan. 

Padahal selama beberapa tahun terakhir, perempuan yang aktif berinvestasi di pasar modal itu hampir selalu menikmati lonjakan harga saham IPO. Dalam hitungan hari, bahkan jam, saham-saham baru kerap melesat hingga puluhan persen setelah resmi diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Tahun ini ceritanya berbeda. Alih-alih menjadi penyelamat portofolio yang terus tertekan, saham-saham IPO justru ikut bergerak lesu.

"Ikut IPO sekarang bukannya jadi untung, malah sudah buntung," ujar Delvi kepada Katadata.

Keputusan Delvi membeli saham IPO sebenarnya lahir dari harapan sederhana. Di tengah pelemahan pasar saham sepanjang tahun ini, ia berharap saham-saham baru mampu memperbaiki portofolionya yang terus memerah. Sejak awal tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah turun lebih dari 25%.

Namun harapan itu tak terwujud. Dari empat saham yang ia beli hanya satu saham yaitu  PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) yang memberikan keuntungan cukup besar. Tiga lainnya PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX),dan PT Bach Multi Global Tbk (BACH) tak banyak bergerak bahkan ada yang rugi. 

Pada 2026, euforia IPO ikut meredup bersama pelemahan pasar saham. Lonjakan harga yang dulu hampir selalu mengiringi pencatatan saham perdana kini semakin jarang terlihat. Sebagian saham bahkan bergerak datar atau langsung terkoreksi tidak lama setelah diperdagangkan.

Perubahan itu bukan hanya terlihat dari pergerakan harga. Jumlah perusahaan yang memilih melantai di bursa juga turun tajam. Hingga 23 Juli 2026, Bursa Efek Indonesia baru mencatatkan tujuh perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana saham (IPO), jauh di bawah periode yang sama tahun lalu yang mencapai 18 emiten.

Antrean calon emiten pun semakin pendek. Dari empat perusahaan yang masih berada dalam pipeline IPO, tidak satu pun berasal dari kelompok perusahaan beraset besar. Penurunan itu bukan sekadar persoalan statistik. 

Sekilas, perubahan itu mungkin hanya tampak sebagai meredupnya euforia saham perdana. Namun di balik angka-angka tersebut, pasar modal Indonesia sesungguhnya sedang memasuki fase baru. IPO tidak lagi otomatis dipandang sebagai jalan pintas menuju keuntungan cepat, sementara perusahaan pun semakin berhati-hati menentukan waktu untuk masuk ke bursa.

INFOGRAFIK: Tren Penurunan Perusahaan IPO
INFOGRAFIK: Tren Penurunan Perusahaan IPO (Katadata/Antonieta Amosella)

Meredupnya euforia IPO bukan hanya tercermin dari pergerakan harga saham. Perusahaan juga mulai lebih berhati-hati menentukan waktu untuk melantai di bursa. Mereka tidak lagi terburu-buru melepas saham ke publik ketika valuasi yang ditawarkan pasar dianggap belum mencerminkan nilai perusahaan.

Di sisi lain, investor pun berubah. Mereka tidak lagi sekadar mengejar keuntungan pada hari pertama perdagangan, tetapi mulai memperhatikan kualitas tata kelola perusahaan, rekam jejak manajemen, hingga kemampuan emiten memenuhi berbagai janji yang tertuang dalam prospektus.

Perubahan itu terlihat dari cara investor membaca penawaran saham perdana. Pada masa euforia IPO beberapa tahun lalu, banyak investor ritel lebih berfokus pada potensi kenaikan harga pada hari pertama perdagangan. Selama peluang menyentuh Auto Rejection Atas (ARA) dianggap besar, prospektus sering kali hanya menjadi pelengkap sebelum menekan tombol pemesanan.

Kini pendekatannya mulai bergeser. Di tengah pasar yang lebih bergejolak dan likuiditas yang menyusut, investor tidak lagi hanya bertanya seberapa tinggi saham akan melonjak setelah tercatat di bursa. Banyak yang mulai mencermati kondisi keuangan perusahaan, valuasi dibandingkan emiten sejenis, porsi saham yang dilepas ke publik (free float), masa penguncian saham (lock-up), hingga rekam jejak direksi dan pemegang saham pengendali.

Perubahan cara berpikir itu juga dirasakan Delvi. Jika dulu ia mengikuti IPO karena melihat tingginya potensi keuntungan dalam waktu singkat, kini ia mengaku lebih banyak menghabiskan waktu membaca prospektus dan membandingkan fundamental perusahaan sebelum memutuskan berinvestasi.

"Dulu saya lebih melihat momentumnya. Sekarang saya lebih hati-hati,” ujar Delvi. 

Delvi mengatakan untuk ikut IPO kini ia lebih banyak memabca prospektus terutama soal laporan keuangan hingga tujuan penggunaan dana IPO. Namun ternyata di tengah kehati-hatian itu ia merasa mengikuti IPO masih belum menarik. 

“Ternyata tidak semua saham IPO langsung naik seperti dulu," ujarnya.

Ketika Perusahaan Memilih Menunggu

Penurunan euforia IPO tak hanya terlihat dari pergerakan harga saham tetapi juga dari jumlah perusahaan listing yang terlihat jelas di papan statistik Bursa Efek Indonesia. Namun angka-angka itu hanya menunjukkan gejalanya.

Beberapa tahun lalu, ketika likuiditas pasar melimpah dan investor berlomba memburu saham baru, perusahaan relatif mudah menentukan waktu untuk melantai di bursa. Selama fundamental perusahaan dinilai baik, peluang memperoleh valuasi tinggi terbuka lebar. 

Musim gugur IPO bukan semata karena perusahaan enggan melantai di bursa, melainkan karena pasar kehilangan sebagian pembeli terbesarnya. Sejak awal 2024 hingga pertengahan 2026, investor asing mencatat penjualan bersih sekitar Rp 161 triliun di Bursa Efek Indonesia. 

Bersamaan dengan itu, rata-rata kapitalisasi pasar menyusut sekitar 37,6% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara porsi transaksi investor asing turun dari sekitar 46% menjadi sekitar 39%. Dengan likuiditas yang semakin tipis, pasar menjadi lebih berhati-hati dalam memberikan valuasi kepada perusahaan yang hendak melantai di bursa. 

Arus keluar dana tersebut ikut menggerus likuiditas pasar sehingga investor menjadi lebih selektif dan valuasi saham baru semakin konservatif. Dalam situasi seperti itu, banyak perusahaan memilih menunda IPO daripada melepas saham pada harga yang dianggap belum mencerminkan nilai bisnisnya.

Direktur PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, Anung Rony Hascaryo, melihat perlambatan IPO bukan terutama disebabkan oleh perubahan aturan Bursa Efek Indonesia. Menurut dia, persoalannya lebih sederhana sekaligus lebih sulit: kondisi pasar sedang tidak bersahabat. 

"Saya rasa sih konteksnya bukan di bursanya ya. Kalau saya lihat memang kondisi market-nya saja sih memang challenging, terutama mungkin di saham," ujar Anung kepada Katadata.

Di tengah pasar yang berfluktuasi, calon emiten menghadapi dilema. Melantai terlalu cepat berisiko membuat valuasi perusahaan berada di bawah harapan. 

Sebaliknya, menunda IPO berarti menahan rencana ekspansi yang membutuhkan tambahan modal. Bagi banyak pemilik perusahaan, menerima valuasi yang terlalu rendah justru menjadi pilihan yang paling dihindari.

"Emiten kan pengennya pasti dapat harganya yang terbaik. Mungkin ini belum meet aja ekspektasi mereka. Jadi lebih ke timing-nya aja sebenarnya," kata Anung.

Menurut Anung, keputusan menunggu bukan berarti perusahaan membatalkan IPO. Mereka hanya memilih waktu yang dianggap lebih tepat ketika pasar mampu memberikan apresiasi yang lebih baik terhadap nilai perusahaan.

Penjelasan itu membantu memahami mengapa antrean IPO memang menyusut, tetapi tidak benar-benar menghilang. Banyak perusahaan tetap menyiapkan dokumen, menyusun prospektus, dan berdiskusi dengan penjamin emisi. Hanya saja, keputusan untuk menekan tombol pencatatan masih ditunda.

Menariknya, ketika pasar saham kehilangan daya tarik, perusahaan ternyata tidak menghentikan upaya mencari pendanaan. Mereka hanya mengubah jalurnya.

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan hingga 23 Juli 2026 telah diterbitkan 114 emisi obligasi dan sukuk oleh 62 penerbit dengan nilai mencapai Rp 103,86 triliun. Pada periode yang sama juga berlangsung 15 aksi rights issue senilai Rp 10,69 triliun.

Data BEI itu memperlihatkan bahwa kebutuhan modal dunia usaha tidak pernah berhenti. Yang bergeser bukan kebutuhan dananya, melainkan instrumen yang dipilih. Fenomena itu juga dirasakan Trimegah Sekuritas. Alih-alih melihat aktivitas korporasi melambat secara keseluruhan, perusahaan sekuritas tersebut justru menyaksikan pasar obligasi tetap bergairah.

"Kalau di obligasi sih masih stable. Bahkan naik sebenarnya," ujar Anung.

Perubahan yang terjadi dalam penggalangan dana menjelaskan perubahan yang sedang terjadi di pasar modal Indonesia. Ketika pasar saham belum mampu memberikan valuasi yang diharapkan, perusahaan lebih memilih memperoleh pendanaan melalui obligasi daripada melepas kepemilikan kepada publik pada harga yang dianggap terlalu murah.

Pandangan serupa disampaikan Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su. Menurut dia, anggapan bahwa perusahaan kehilangan minat terhadap IPO tidak sepenuhnya tepat.

Harry mengatakan minat untuk menjadi perusahaan terbuka masih ada. Hal yang berbeda saat ini adalah cara perusahaan membaca momentum.

"Yang berubah bukan semata-mata minatnya, melainkan perusahaan menjadi lebih selektif dalam menentukan waktu yang tepat untuk masuk ke pasar," kata Harry.

Menurut Harry, perusahaan kini memiliki lebih banyak pertimbangan sebelum membuka kepemilikan kepada publik. Fluktuasi pasar, perubahan sentimen global, hingga dinamika regulasi membuat keputusan IPO tidak lagi sesederhana menentukan tanggal pencatatan.

Pendekatan wait and see itulah yang kini menjadi wajah baru pasar perdana Indonesia. Bukan karena perusahaan kehilangan kepercayaan terhadap bursa, melainkan karena mereka ingin hadir ketika pasar benar-benar siap menghargai nilai perusahaan.

"Kami melihat beberapa calon emiten memang mengambil pendekatan wait and see. Namun keputusan tersebut umumnya merupakan keputusan bisnis masing-masing perusahaan dan tidak semata-mata dipengaruhi oleh proses evaluasi atau transformasi di bursa."

Meski demikian, Samuel Sekuritas tetap melihat pipeline IPO berjalan. Perusahaan sekuritas itu masih mendampingi sejumlah calon emiten yang mempersiapkan proses pencatatan saham. Jika para penjamin emisi melihat persoalan utama berada pada momentum dan valuasi, kalangan akademisi membaca perubahan yang lebih mendasar.

Data transaksi investor asing di Bursa Efek Indonesia
Data transaksi investor asing di Bursa Efek Indonesia (Bursa Efek Indonesia)

Sementara itu, pengamat pasar modal Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai perilaku investor sendiri telah bertransformasi. Bagi Budi, pasar saham Indonesia tidak lagi berada dalam fase euforia seperti dua atau tiga tahun lalu. Investor kini jauh lebih berhitung sebelum membeli saham IPO. 

Perubahan itu juga dirasakan Delvi. Kini ia tidak lagi membeli IPO hanya karena berharap ARA. 

"Minat IPO masih ada, tetapi investor kini jauh lebih selektif. Tingginya suku bunga, ketidakpastian global, dan lemahnya arus dana asing membuat valuasi menjadi lebih konservatif. Karena itu, euforia IPO tidak sebesar tahun lalu."

Pernyataan Budi menjelaskan mengapa saham IPO tidak lagi otomatis melonjak pada hari pertama perdagangan. Ketika arus dana asing belum sepenuhnya kembali dan investor domestik semakin berhati-hati, pasar tidak lagi memberikan premi hanya karena sebuah perusahaan menyandang status emiten baru.

Yang dicari investor kini bukan sekadar cerita pertumbuhan. Mereka ingin melihat laba, kualitas tata kelola, kredibilitas manajemen, serta prospek bisnis yang mampu bertahan dalam siklus ekonomi yang penuh ketidakpastian.

Perubahan itu menandai babak baru pasar IPO Indonesia. Jika beberapa tahun lalu pasar digerakkan oleh optimisme, kini ia bergerak oleh proses seleksi. Dalam pasar yang semakin disiplin, hanya perusahaan dengan fundamental kuat yang berpeluang memperoleh valuasi sesuai harapan.

Bursa Tak Lagi Mengejar Jumlah

Perubahan perilaku investor sesungguhnya telah lebih dulu dibaca oleh Bursa Efek Indonesia. Di tengah jumlah IPO yang menurun, BEI justru memperketat penyaringan perusahaan yang akan melantai di bursa. Konsekuensinya, jumlah emiten baru mungkin tidak sebanyak beberapa tahun lalu, tetapi kualitasnya diharapkan semakin baik.

Pendekatan tersebut memang dapat meningkatkan kualitas emiten. Namun konsekuensinya, Indonesia juga harus memastikan reformasi tersebut diikuti oleh meningkatnya likuiditas dan kembalinya minat investor. Tanpa itu, standar yang lebih tinggi belum tentu menghasilkan lebih banyak perusahaan berkualitas yang bersedia masuk ke bursa. 

Ketika Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah IPO terbanyak di dunia, keberhasilan pasar modal kerap diukur dari banyaknya perusahaan yang tercatat dan besarnya dana yang berhasil dihimpun. Kini ukurannya mulai bergeser.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Said Solihin mengatakan keberhasilan pasar modal tidak lagi semata-mata ditentukan oleh besarnya dana yang dihimpun atau banyaknya perusahaan yang melakukan IPO. Yang lebih penting, menurut dia, adalah memastikan perusahaan yang masuk ke pasar modal memiliki fondasi yang kuat untuk bertumbuh sebagai perusahaan terbuka.

Said menjelaskan IPO bukan garis akhir, melainkan awal perjalanan sebagai perusahaan publik. Karena itu, ketika target 50 IPO tahun ini dipandang semakin sulit dicapai, BEI memilih melihatnya sebagai sasaran yang dinamis, bukan angka yang harus dipenuhi dengan mengorbankan kualitas.

Said mengatakan target IPO merupakan sasaran yang menjadi pendorong bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan kualitas dan jumlah perusahaan tercatat. Namun demikian, realisasi IPO tetap sangat bergantung pada keputusan bisnis masing-masing perusahaan. 

“Kami tidak ingin sekadar mengejar kuantitas IPO. Yang lebih penting adalah membangun pasokan perusahaan tercatat yang berkualitas, berkapitalisasi sehat, memiliki tata kelola yang baik, dan mampu bertumbuh setelah IPO,” ujar Said kepada Katadata.  

Upaya menjaga kualitas itu tak hanya ketika sebelum IPO tetapi juga sesudah listing. Itulah kenapa ketika Direktur RANS mundur sepuluh hari setelah listing, BEI segera bertindak. 

Bursa tidak hanya meminta klarifikasi mengenai alasan pengunduran diri tersebut, tetapi juga mempertanyakan apakah rencana itu telah diketahui ketika proses IPO berlangsung. RANS memastikan pengunduran diri tersebut merupakan Keputusan pribadi yang baru disampaikan setelah perusahaan tercatat di bursa pada 22 Juli.

BEI masih meyakini peluang tambahan pencatatan saham hingga akhir tahun tetap terbuka. Berbagai inisiatif seperti pendampingan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus dilakukan untuk menjaga momentum pasar. Namun optimisme tersebut disertai peningkatan kualitas.

RANS Entertainment resmi IPO di pasar modal
RANS Entertainment resmi IPO di pasar modal (ANTARA FOTO/ Muhammad Heriyanto/sth)

Setelah Musim Gugur

Di balik turunnya jumlah IPO tahun ini, pasar modal Indonesia sesungguhnya sedang mengalami perubahan yang jauh lebih mendasar dibanding sekadar berkurangnya perusahaan yang melantai di bursa.

Perubahan itu terjadi hampir di seluruh mata rantai pasar modal. Perusahaan berubah. Investor bermetamorfosis dan bursa pun ikut berbenah. Bahkan ukuran keberhasilan IPO mulai bergeser.

Selama hampir lima tahun terakhir, Indonesia menikmati apa yang dapat disebut sebagai musim semi IPO. Likuiditas pasar melimpah, suku bunga rendah, investor ritel tumbuh pesat, dan hampir setiap perusahaan yang menawarkan saham perdana memperoleh sambutan hangat. BEI bahkan beberapa kali menjadi salah satu bursa dengan jumlah IPO terbanyak di dunia.

Dalam suasana seperti itu, IPO menjadi tujuan yang hampir selalu menjanjikan. Banyak perusahaan bergegas masuk ke bursa karena pasar bersedia membayar mahal prospek pertumbuhan mereka. Investor pun rela mengambil risiko lebih besar dengan harapan memperoleh keuntungan cepat dari lonjakan harga pada hari pertama perdagangan.

Namun siklus itu tidak berlangsung selamanya. Dalam dua tahun terakhir, investor global semakin selektif menempatkan dana di pasar negara berkembang. Kenaikan suku bunga, ketidakpastian geopolitik, hingga perlambatan ekonomi membuat pengelola dana internasional tidak lagi mengejar pertumbuhan semata. Mereka kini mencari pasar yang menawarkan kombinasi likuiditas tinggi, tata kelola yang baik, serta prospek laba yang lebih meyakinkan.

Di tengah perubahan itu, Indonesia menghadapi persaingan yang semakin ketat. Sepanjang 2025 hingga 2026, sebagian arus modal justru mengalir ke India, Vietnam, Jepang, dan Taiwan.

India menawarkan pertumbuhan ekonomi yang tetap berada di atas 6%, pasar domestik yang besar, serta deretan perusahaan teknologi dan manufaktur berkapitalisasi besar. Vietnam menikmati limpahan investasi dari relokasi rantai pasok global. Jepang kembali menarik perhatian investor setelah reformasi tata kelola perusahaan mendorong peningkatan profitabilitas emiten. Sementara Taiwan terus menjadi magnet berkat dominasi industri semikonduktor dan kecerdasan buatan.

Dampaknya terasa hingga pasar IPO. Ketika dana asing menyusut, likuiditas ikut menipis. Investor pun menjadi lebih konservatif dalam memberi valuasi sehingga banyak pemilik perusahaan memilih menunda IPO. 

Bagi perusahaan, keputusan tersebut merupakan langkah bisnis yang rasional. Pengamat pasar modal Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai situasi tersebut merupakan konsekuensi dari perubahan perilaku investor global.

"Tingginya suku bunga, ketidakpastian global, dan lemahnya arus dana asing membuat valuasi menjadi lebih konservatif. Karena itu, euforia IPO tidak sebesar tahun lalu."

Namun menurut Budi, perubahan itu justru dapat menjadi bagian dari proses pendewasaan pasar modal Indonesia. Target pemerintah dan Bursa untuk memiliki sekitar 1.100 perusahaan tercatat hingga 2030, menurut dia, bukan sesuatu yang mustahil. 

Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan tersebut tetap ditopang oleh kualitas emiten. Menurut Budi, pertumbuhan IPO yang lebih lambat bukan selalu menjadi kabar buruk apabila perusahaan yang masuk benar-benar sehat dan memiliki likuiditas yang memadai.

"Keberhasilan target tersebut juga bergantung pada membaiknya kondisi pasar, meningkatnya kepercayaan investor, serta hadirnya lebih banyak perusahaan besar (anchor issuers) yang mampu menarik minat investor domestik maupun asing."

Bagi Bursa Efek Indonesia, tantangannya kini jauh lebih kompleks daripada sekadar memenuhi target pencatatan tahunan. Bursa harus tetap menarik bagi perusahaan yang membutuhkan modal, sekaligus mampu memberikan perlindungan kepada investor melalui tata kelola yang lebih baik, transparansi yang lebih tinggi, dan likuiditas yang semakin kuat.

Bel pembukaan perdagangan akan terus berbunyi setiap pagi di Bursa Efek Indonesia. Namun setelah euforia IPO mereda, ukuran keberhasilan pasar modal Indonesia tampaknya tidak lagi ditentukan oleh berapa banyak perusahaan yang membunyikan bel pencatatan saham. 

Bagi investor seperti Delvi, perubahan itu mungkin terasa sederhana. Ia tidak lagi membeli saham IPO hanya karena berharap harga akan menyentuh Auto Rejection Atas pada hari pertama perdagangan. Kini ia lebih banyak membaca prospektus, mencermati laporan keuangan, dan memperhatikan rekam jejak manajemen sebelum memutuskan membeli sebuah saham.

Musim gugur tidak pernah menjadi akhir dari sebuah pohon. Namun bila modal terus memilih tumbuh di negeri lain, yang berguguran bukan lagi euforia IPO, melainkan kesempatan Indonesia melahirkan perusahaan-perusahaan besar berikutnya. 



add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila, Karunia Putri

Cek juga data ini