Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Puluhan tahun lamanya, nama Hartono bersaudara identik dengan Djarum. Dari bisnis rokok di Kudus, Jawa Tengah bisnis keluarga Hartono berkembang menjadi salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia. Jejaknya membentang dari rokok, perbankan, properti, elektronik, perkebunan, telekomunikasi, hingga ekonomi digital.

Belakangan, gurita itu terus melebar. Sejumlah investasi dilakukan di luar negeri, sementara di dalam negeri keluarga Hartono menambah portofolio bisnis. Merujuk pemberitaan Bloomberg, keluarga Hartono telah menginvestasikan sedikitnya US$1,4 miliar atau sekitar Rp 24,9 triliun di luar negeri. Investasi tersebut dilakukan melalui sedikitnya sembilan entitas yang berbasis di Singapura dan London. 

Nilai investasi itu besar, tetapi Manajemen Djarum menyatakan angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa keluarga pemilik Grup Djarum sedang memindahkan pusat bisnisnya dari Indonesia. Corporate Communications Manager PT Djarum Budi Darmawan menyebut sekitar 90% investasi keluarga Hartono ada di Indonesia.

“Memang dari awal kami bangun ini bisnisnya adalah ikut untuk bisa membangun Indonesia menjadi negara yang digdaya. Jadi (kami) ikut tumbuh bersama-sama negara ini,” kata Budi kepada Katadata, Rabu pekan kedua September.

Menurut Budi tak ada yang berubah dari semangat bisnis Grup Djarum di masa lalu maupun hari ini. Alih-alih memindahkan pusat bisnis dari Indonesia, ekspansi tersebut disebut  sebagai tahap lanjutan dari diversifikasi yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Kini, tentakel konglomerasi Grup Djarum makin jauh menjangkau aset di luar negeri. Lantas, ke mana arah konglomerasi bergerak setelah sederet diversifikasi, akuisisi, dan ekspansi lintas negara?

Gurita yang Dibangun dari Indonesia

Djarum pada awalnya adalah bisnis tembakau. Setelah Oei Wie Gwan meninggal pada 1963, bisnis tersebut dilanjutkan oleh dua putranya, Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono. Keduanya kemudian membawa Djarum keluar dari bisnis rokok semata.

Diversifikasi itu berlangsung bertahap. Keluarga Hartono masuk ke sektor perbankan melalui kepemilikan di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), membangun bisnis elektronik melalui Polytron, mengembangkan properti seperti Grand Indonesia, dan masuk ke bisnis perkebunan serta consumer goods, hingga membangun bisnis telekomunikasi dan teknologi.

BCA kemudian menjadi salah satu aset terpenting keluarga. Setelah Michael Bambang Hartono meninggal pada Maret 2026, struktur pengendalian PT Dwimuria Investama Andalan, perusahaan yang menjadi kendaraan kepemilikan BCA keluarga Hartono, berubah. Robert Budi Hartono menjadi satu-satunya pemegang saham pengendali terakhir BCA. Perubahan tersebut kemudian dicatat OJK pada akhir Juli 2026 dan diumumkan BCA pada awal Agustus. 

Bisnis keluarga Hartono kini mencakup jaringan menara telekomunikasi melalui PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dan PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR), serta bisnis digital melalui PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli. Pada 2022, Blibli melantai di Bursa Efek Indonesia melalui PT Global Digital Niaga Tbk dengan menghimpun dana sekitar US$510 juta.

Grup Djarum tak hanya menambah usaha, tetapi juga memangkasnya. Saat ini perusahaan tengah menyiapkan delisting entitas PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah ini diambil sebagai bagian dari restrukturisasi grup PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) setelah perseroan masuk melalui anak usahanya yaitu PT Iforte Solusi Infotek menjadi pengendali

"Perubahan status menjadi perusahaan tertutup sejalan dengan strategi bisnis jangka panjang Grup dalam rangka pengelolaan aset dan operasional yang lebih efisien melalui restrukturisasi dalam Grup," tulis manajemen IForte dalam penjelasan kepada BEI. 

Keluarga Hartono juga memiliki Polytron yang telah lama bergerak di bisnis elektronik melalui PT Hartono Istana Teknologi. Perusahaan tersebut kemudian memperluas bisnis ke kendaraan listrik dengan meluncurkan mobil listrik pada 2025.

Di properti, portofolionya antara lain mencakup Grand Indonesia. Selain itu, sejak 2024 Grup Djarum mulai masuk ke kawasan industri modern Subang Metropolitan melalui penyertaan modal di PT Suryacipta Swadaya, anak usaha PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA). Komitmen tersebut kemudian diperkuat di pasar modal ketika kendaraan investasi mereka, PT Dwimuria Investama Andalan, secara masif mengumpulkan saham SSIA di pasar reguler mulai awal Juli 2025. 

Pada 22 Juli 2025, Grup Djarum melakukan aksi korporasi dengan menyerap sisa saham treasuri hasil buyback milik SSIA sebanyak 62,93 juta lembar saham senilai sekitar Rp169,4 miliar. Akumulasi bertahap tersebut melampaui porsi kepemilikan pendiri lokal, Keluarga Suriadjaja. Akumulasi tersebut berlangsung bersamaan dengan masuknya entitas yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu sebagai pemegang saham SSIA. Per 17 September 2026, kepemilikan Grup Djarum di SSIA tercatat 482 juta saham atau setara 10,24%, menjadikannya salah satu pemegang saham institusi terbesar SSIA 

Sementara melalui GDP Venture, keluarga Hartono membangun portofolio investasi di sektor teknologi dan digital. Portofolio digital tersebut kemudian terus berkembang. Grup Djarum menjadi pengendali PT Bach Multi Global Tbk (BACH), perusahaan yang bergerak di penyediaan jasa dan infrastruktur telekomunikasi. 

Grup Djarum masuk ke BACH melalui PT Global Telekomunikasi Prima (GTP). GTP sendiri merupakan anak usaha dari PT iForte Solusi Infotek (iForte), yang berada di bawah lengan bisnis menara dan telekomunikasi utama Grup Djarum, TOWR. Djarum masuk ke BACH melalui perjanjian opsi dengan menguasai 51% saham dan menjadi pemegang saham pengendali (PSP) baru di BACH.

Sementara melalui PT Global Digital International (GDI), yang merupakan kendaraan investasi di bawah GDP Venture, Grup Djarum baru-baru ini mengambil alih PT Narasi Citra Sahwahita, perusahaan yang menaungi media digital Narasi. Aksi tersebut melanjutkan jejak ekspansi Grup Djarum di bisnis media digital, termasuk keterlibatannya di Kumparan. 

Portofolio Grup Djarum juga mulai merambah bisnis kesehatan. Langkah tersebut terlihat dari masuknya PT Dwimuria Investama Andalan, perusahaan terafiliasi Grup Djarum, ke PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) pada Juni 2025. Dwimuria membeli 559,19 juta saham HEAL atau setara sekitar 3,63% dengan nilai transaksi mencapai Rp1,05 triliun. Porsi tersebut menempatkan Djarum sebagai pemegang saham minoritas dan belum memberikan kendali atas perusahaan.

Di sektor makanan dan minuman, Grup Djarum juga memperluas portofolionya melalui akuisisi mayoritas PT Griya Mie Sejati, pengelola Bakmi GM. Sementara di sektor ritel, Grup Djarum masuk melalui PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC), pengelola jaringan Ranch Market.

Diversifikasi keluarga Hartono tidak berhenti pada bisnis yang memiliki keterkaitan langsung dengan pasar modal Indonesia. Portofolionya juga mencakup properti, agribisnis dan olahraga. Di sektor sepak bola, keluarga Hartono melalui SENT Entertainment mengakuisisi klub Italia Como 1907 pada 2019. Klub tersebut kemudian berhasil kembali berlaga di Serie A pada 2024.

Saham Afiliasi Grup Djarum

Saham Afiliasi Grup Djarum (Katadata)

Diversifikasi Geografis

Setelah memperluas bisnis ke berbagai sektor di dalam negeri, langkah berikutnya adalah memperlebar jangkauan secara geografis. Ekspansi luar negeri keluarga Hartono antara lain dilakukan melalui Evergreen Hill Enterprise Pte, entitas yang terafiliasi dengan keluarga Hartono.

Salah satu investasinya berada di bisnis specialty paper di Amerika Serikat, sementara pada 2024 keluarga Hartono mengakuisisi produsen kertas rokok di Austria. Menurut Corporate Communications Manager PT Djarum Budi Darmawan, ekspansi tersebut telah dimulai sejak 2023–2024 dan merupakan bagian dari pengembangan bisnis, bukan keputusan yang berkaitan dengan pergantian pemerintahan di Indonesia. Pendanaan investasi bisnis kertas tersebut, menurutnya, juga menggunakan pembiayaan atau pinjaman asing.

“Hal normal ketika mengembangkan bisnis di luar negeri, ada beberapa perusahaan kemarin beli aset di negara lain, apakah itu capital flow? Menurut saya enggak lah gitu, itu bagian dari upaya mengembangkan bisnis,” kata Budi.

Namun, ekspansi geografis itu tidak selalu berarti menggeser pusat bisnis dari Indonesia. Investasi bisnis kertas, misalnya, masih memiliki hubungan dengan rantai pasok industri tembakau. Produk yang dihasilkan juga menyasar pasar global. Dengan begitu, sebagian investasi luar negeri tersebut dapat dibaca bukan semata sebagai perpindahan geografis aset, tetapi sebagai upaya memperluas rantai bisnis yang sudah dimiliki.

Henry Wibowo, Co-Founder dan Direktur Alphagate Capital yang sebelumnya merupakan Chief Indonesia Strategist J.P. Morgan, melihat perkembangan tersebut sebagai kelanjutan dari strategi diversifikasi yang sudah berlangsung cukup lama. Menurut Henry, keluarga Hartono telah berkembang dari bisnis consumer goods melalui Djarum ke financial services, digital economy, infrastruktur telekomunikasi, properti, hospitality dan berbagai investasi lainnya.

“Yang menarik, meskipun portofolionya semakin luas dan ada ekspansi ke luar negeri, basis aset dan investasinya masih sangat dominan di Indonesia,” kata Henry.

Skala bisnis publik yang terafiliasi dengan keluarga Hartono juga memperlihatkan besarnya basis domestik tersebut. Per 17 September 2026, kapitalisasi pasar BBCA berada di sekitar Rp 780 triliun. Sementara kapitalisasi pasar TOWR sekitar Rp 25,7 triliun dan BELI sekitar Rp 39,2 triliun. 

Di luar perusahaan terbuka, masih terdapat bisnis privat dengan skala besar, termasuk bisnis rokok Djarum dan aset properti. Dengan demikian, ekspansi internasional perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih besar yaitu basis ekonomi keluarga Hartono masih sangat kuat di Indonesia.

“Kurang tepat apabila seluruh investasi luar negeri langsung diinterpretasikan sebagai pemindahan fokus bisnis dari Indonesia,” ujarnya.

Menurut Henry, bagi konglomerasi dengan skala sebesar Djarum, eksposur internasional merupakan bagian dari pengembangan bisnis. Diversifikasi geografis dapat membuka akses ke pasar, teknologi, rantai pasok, dan sumber pendapatan yang berbeda.

Salah satu petunjuk mengenai arah ekspansi keluarga Hartono terlihat dari bisnis yang dibeli di luar negeri. Evergreen Hill Enterprise Pte, entitas yang terafiliasi dengan keluarga Hartono, pada 2023 mengakuisisi bisnis specialty paper di Amerika Serikat. Setahun kemudian, entitas tersebut mengakuisisi produsen cigarette paper asal Austria.

Bagi Djarum, bisnis tersebut memiliki hubungan dengan industri hasil tembakau. Budi mengatakan ekspansi tersebut telah berlangsung sejak 2023–2024, sebelum Prabowo Subianto menjabat sebagai Presiden RI. Ia juga menjelaskan pembiayaan akuisisi berasal dari pinjaman asing.

“Di kertas itu pun menggunakan pembiayaan asing, pembiayaan dapat pinjaman, bukan dari capital flow,” kata Budi.

Dalam penjelasan kepada media lain, Djarum juga menyebut produk kertas tersebut tidak hanya digunakan untuk kebutuhan Djarum, tetapi dapat dijual kepada industri hasil tembakau di berbagai negara. 

Bukan Sekadar Investment Holding

Semakin panjang daftar bisnisnya, semakin sulit melihat Grup Djarum hanya sebagai perusahaan yang tumbuh dari industri rokok. Diversifikasi ke perbankan, telekomunikasi, digital, media, properti hingga investasi di luar negeri menunjukkan bahwa struktur bisnis keluarga Hartono telah jauh lebih kompleks dibandingkan bisnis inti yang membesarkannya.

Nafan Aji Gusta melihat perubahan tersebut sebagai bagian dari transformasi menuju investment holding. Dalam model seperti itu, modal tidak lagi hanya diarahkan untuk memperbesar satu bisnis utama, tetapi dialokasikan ke berbagai sektor dengan karakter pertumbuhan, risiko dan siklus yang berbeda.

“Jadi, menurut saya, kuncinya bukan semata-mata seberapa agresif Djarum berekspansi, tetapi seberapa efektif mereka mengalokasikan capital dan menghasilkan return yang berkelanjutan dari setiap investasi,” kata Nafan.

Namun, menyebut Djarum sebagai investment holding murni juga tidak sepenuhnya menggambarkan struktur bisnisnya. Di satu sisi, keluarga Hartono memiliki perusahaan publik yang dikendalikan, seperti BCA dan perusahaan-perusahaan dalam ee telekomunikasi serta digital. Di sisi lain, terdapat bisnis operasional yang tetap berjalan sebagai perusahaan privat, kendaraan investasi, venture capital, investasi minoritas pada perusahaan terbuka, hingga aset di luar negeri.

Perbedaan tersebut penting karena tidak semua aset keluarga Hartono memiliki fungsi yang sama. Djarum merupakan bisnis operasional yang memiliki sejarah panjang dan menjadi fondasi awal ekspansi bisnis keluarga Hartono. BCA merupakan perusahaan publik yang dikendalikan melalui struktur kepemilikan tersendiri. 

Sementara itu GDP Venture berfungsi sebagai kendaraan investasi dan pengembangan bisnis digital. Pada saat yang sama, investasi seperti kepemilikan di SSIA dan HEAL menunjukkan bahwa keluarga Hartono juga dapat mengambil posisi sebagai pemegang saham minoritas tanpa harus mengendalikan perusahaan.

Ekspansi melalui GDP Venture juga memperlihatkan karakter berbeda dari strategi Djarum. Investasi pada perusahaan teknologi, Blibli, Kumparan hingga Narasi menunjukkan keberanian masuk ke sektor yang bertumpu pada teknologi, konsumen, platform, konten dan audiens. Dengan masuknya media ke dalam portofolio, ekosistem tersebut kini memiliki spektrum yang lebih luas: teknologi, platform perdagangan, consumer, konten dan media.

“Dalam jangka panjang, kekuatan mereka justru berada pada portfolio diversification. Mereka tidak bergantung pada satu sektor saja. Ada financial services melalui BCA, telecommunication infrastructure melalui ekosistem TOWR, consumer dan digital ecosystem melalui Blibli, serta bisnis consumer goods dan property yang sudah mature,” ujar Henry.

Menurutnya, Grup Djarum lebih tepat dilihat sebagai diversified business ecosystem dibandingkan hanya sebagai kelompok usaha berbasis rokok. Ada bisnis yang dioperasikan langsung, perusahaan yang dikendalikan melalui entitas holding, investasi strategis yang memberikan eksposur pada sektor tertentu, serta investasi yang memberikan pilihan untuk tumbuh bersama perusahaan lain.

Struktur tersebut, menurut Nafan, memberikan fleksibilitas lebih besar dalam mengalokasikan modal. Keluarga Hartono dapat mempertahankan bisnis yang sudah matang dan menghasilkan arus kas, sambil menempatkan modal baru pada sektor yang memiliki prospek pertumbuhan berbeda. Investasi minoritas juga memungkinkan mereka mendapatkan eksposur terhadap sektor baru tanpa harus mengambil alih seluruh bisnis.

Namun, struktur yang semakin berlapis sekaligus membawa tantangan. Semakin banyak kendaraan investasi dan semakin beragam tingkat kepemilikan, semakin penting transparansi mengenai siapa yang mengendalikan aset, dari mana modal berasal, bagaimana keputusan investasi dibuat, dan seberapa besar nilai yang benar-benar diciptakan oleh masing-masing portofolio. Dengan begitu perubahan bisnis Djarum bukan hanya perpindahan sederhana dari perusahaan rokok menuju investment holding tetapi membentuk ekosistem bisnis keluarga dengan beberapa lapisan yaitu bisnis operasional, perusahaan publik yang dikendalikan, kendaraan investasi, investasi minoritas dan aset internasional. 

Gurita Grup Djarum
Gurita Grup Djarum (AI/ Diolah Katadata)

Generasi Ketiga dan Transformasi Investasi

Perubahan wajah Djarum tidak hanya terlihat dari semakin panjangnya daftar bisnis yang dimiliki keluarga Hartono. Di balik ekspansi tersebut, terjadi pula pergeseran pengelolaan bisnis dari generasi kedua kepada generasi ketiga.

Babak baru mulai terlihat ketika anak-anak Bambang dan Budi Hartono mengambil posisi strategis di berbagai perusahaan keluarga. Perubahan tersebut semakin jelas setelah Michael Bambang Hartono meninggal pada Maret 2026. Dalam keterbukaan informasi BCA, perubahan kepemilikan pada PT Dwimuria Investama Andalan membuat Robert Budi Hartono menjadi satu-satunya pemegang saham pengendali perusahaan tersebut.

Namun, regenerasi tidak berarti seluruh bisnis keluarga Hartono dikonsolidasikan di bawah satu figur penerus. Justru, generasi ketiga terlihat mengambil peran di berbagai simpul bisnis yang berbeda.

Victor Rachmat Hartono, putra sulung Budi Hartono, dipercaya sebagai Direktur Utama PT Djarum. Adiknya, Martin Basuki Hartono, memimpin GDP Venture yang menjadi kendaraan investasi keluarga di sektor digital. Sementara Armand Hartono menempati posisi Wakil Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk.

Pembagian peran tersebut menarik karena mencerminkan struktur bisnis yang juga telah berubah. Victor berada di bisnis inti yang menjadi sumber awal kekuatan keluarga, Martin membangun pijakan di ekonomi digital, sedangkan Armand berada di salah satu aset strategis terbesar keluarga, yakni BCA.

Dengan demikian, suksesi Djarum tidak sekadar menyangkut pergantian figur di pucuk kepemimpinan. Ia berlangsung bersamaan dengan perubahan komposisi bisnis yang harus dikelola generasi berikutnya.

Martin, misalnya, membangun GDP Venture sejak 2010 sebagai perusahaan investasi dan venture builder yang berfokus pada ekosistem digital. Portofolionya berkembang ke perdagangan elektronik, media dan berbagai perusahaan teknologi. Blibli menjadi salah satu bisnis yang kemudian berkembang menjadi perusahaan terbuka melalui PT Global Digital Niaga Tbk.

Jejak generasi ketiga juga terlihat pada ekspansi ke infrastruktur digital. Pada Bach Multi Global Tbk (BACH), misalnya, PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) menjadi pengendali dengan kepemilikan 51% setelah pelaksanaan hak opsi. Pemilik manfaat akhir melalui GTP adalah Martin Basuki Hartono dan Victor Rachmat Hartono. Keduanya merupakan generasi ketiga keluarga Hartono.

Masuknya generasi ketiga ke berbagai lini tersebut juga memberikan konteks ketika Djarum belakangan semakin aktif melakukan akuisisi. Pengambilalihan Narasi oleh PT Global Digital International pada September 2026, misalnya, berada di dalam arus ekspansi ekosistem digital yang telah dibangun keluarga Hartono selama lebih dari satu dekade.

Adapun Viktor pernah berbicara mengenai persoalan tersebut dalam forum tentang suksesi bisnis keluarga pada 2025. Ia menyatakan keberlanjutan bisnis keluarga tidak semata-mata ditentukan oleh garis keturunan, tetapi juga oleh kapasitas dan prinsip meritokrasi dalam menentukan siapa yang memimpin. Dalam pandangannya, estafet kepemimpinan pada akhirnya harus disiapkan untuk generasi berikutnya.

Perspektif itu penting untuk membaca arah Djarum saat ini. Generasi yang menerima estafet tidak lagi menghadapi perusahaan yang hanya bertumpu pada industri rokok. Mereka menerima portofolio yang jauh lebih kompleks. Dengan begitu tantangan generasi ketiga bukan sekadar memperbesar jumlah bisnis namun juga harus menentukan bagaimana aset-aset ditempatkan dalam satu ekosistem dan bagaimana modal keluarga dialokasikan di antara bisnis yang memiliki karakter risiko dan siklus berbeda.

INFOGRAFIK: Era Baru Konglomerasi Hartono
INFOGRAFIK: Era Baru Konglomerasi Hartono (Katadata/Antonieta Amosella)

Arah Baru Konglomerasi Hartono

Meski tentakelnya semakin panjang, manajemen Djarum menolak anggapan bahwa investasi di luar negeri merupakan respons terhadap situasi politik atau ekonomi domestik. Budi menegaskan investasi tersebut telah dimulai sebelum pemerintahan Prabowo dan tidak berkaitan dengan perubahan politik di dalam negeri.

“Jadi kami ini siapapun presidennya, bisnis kami harus tetap jalan, nggak boleh mati,” kata Budi.

Pada saat yang sama, keluarga Hartono masih melakukan ekspansi di Indonesia. Salah satunya pembangunan peternakan sapi perah yang diarahkan untuk meningkatkan produksi susu segar domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap susu impor.

Ekspansi domestik tersebut menunjukkan bahwa strategi Grup Djarum bukan pilihan antara Indonesia dan luar negeri. Indonesia tetap menjadi basis utama, sementara pasar luar negeri menjadi lapisan baru untuk diversifikasi. Henry juga melihat hal tersebut sebagai konsekuensi logis dari besarnya portofolio keluarga Hartono.

“International expansion dapat menjadi bagian dari risk diversification dan penguatan supply chain, tetapi Indonesia masih merupakan pusat utama aset dan aktivitas ekonomi grup,” ujar Budi lagi. 

Jika bisnis rokok merupakan mesin yang membesarkan Djarum, dan BCA kemudian menjadi salah satu pilar terbesar kekayaan keluarga Hartono, bisnis Grup Djarum kini tersebar dalam berbagai sektor. Portofolio tersebut terdiri atas bisnis yang telah matang dan menghasilkan arus kas, serta sektor yang masih memiliki pertumbuhan struktural.

Namun, kombinasi tersebut juga menuntut kemampuan mengelola modal dengan lebih disiplin. Semakin banyak sektor yang dimasuki, semakin besar pula kemungkinan munculnya perbedaan siklus bisnis, kebutuhan modal, regulasi dan tingkat pengembalian.

Di titik ini, keberhasilan strategi Grup Djarum tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kemampuan melakukan akuisisi. Justru, tantangan berikutnya adalah mengelola apa yang telah dibeli. Akuisisi dapat memperbesar aset, tetapi belum tentu otomatis menghasilkan sinergi. Karena itu, kemampuan alokasi modal akan menjadi semakin penting.

Nafan menilai tantangan tersebut mencakup ketepatan alokasi modal, integrasi bisnis, risiko nilai tukar, perbedaan regulasi antarnegara dan penentuan valuasi. Henry memiliki pandangan serupa.

“Dalam jangka panjang, kemampuan mengalokasikan capital secara disiplin di antara financial services, infrastructure, digital, consumer dan property akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan perkembangan grup tersebut,” katanya.

Keluarga Hartono tampaknya tidak sedang meninggalkan Indonesia. Sebaliknya, basis domestik yang telah dibangun selama puluhan tahun menjadi pijakan untuk melakukan diversifikasi lebih jauh. Gambaran tersebut berbeda dengan model konglomerasi yang hanya mengandalkan satu bisnis utama.

Manajemen Djarum menilai pusat gravitasi bisnisnya belum bergeser tetapi arah pergerakannya mulai berubah. Djarum tidak lagi hanya membangun bisnis di Indonesia. Mereka mulai membangun bisnis dari Indonesia untuk pasar yang lebih luas, sembari mempertahankan portofolio domestik sebagai fondasi.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini