Fadli Zon: Insya Allah, Pemilu 2024 ini Takdirnya Pak Prabowo

Image title
Oleh Tim Redaksi
1 Februari 2024, 07:17
Fadli Zon
Katadata/Bintan Insani
Fadli Zon, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra/Anggota Dewan Penasihat TKN Prabowo-Gibran

Menurut Fadli Zon, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra yang juga Anggota Dewan Penasihat TKN Prabowo-Gibran, politik adalah the art of possibilities. Politik adalah seni untuk mengambil pilihan-pilihan yang memungkinkan sehingga segala sesuatu bisa saja terjadi.

Sampai saat ini, Fadli Zon menilai tidak ada yang ideal dalam politik tetapi dia menyebut pasangan calon (paslon) nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka mendekati ideal. Berdasarkan beberapa survei terakhir, elektabilitas Prabowo-Gibran paling tinggi dibandingkan dengan dua paslon lainnya. 

Advertisement

Dalam podcast Gultik - Pergulatan Politik- yang ditayangkan di YouTube Katadata, Fadli Zon optimistis elektabilitas Prabowo-Gibran akan semakin kuat, bahkan bisa di atas 50%. Oleh karena itu, kubu Prabowo-Gibran berharap  Pilpres 2024 berjalan satu putaran. 

"Kita berjuang juga untuk Pak Prabowo di 2014 dan 2019. Luar biasa perjuangan kita, memang belum takdirnya. Insya Allah, 2024 ini takdirnya Pak Prabowo," ujar Fadli Zon kepada Wahyu Muryadi atau Om Why, host podcast Gultik.

Ia juga bicara tentang peran Presiden Joko Widodo yang sangat penting dalam mengerek elektabilitas Prabowo-Gibran. Berikut cuplikan wawancara tersebut.

Pemilu tinggal sebentar lagi. Ada good news untuk Prabowo-Gibran? Beberapa survei CSIS, Indikator Politik, dan lain-lain itu mengunggulkan pasangan Prabowo-Gibran. Rata-rata di atas 40% (elektabilitasnya). Apakah ini kabar yang cukup menggembirakan sehingga tinggal kipas-kipas saja?

Good news lah. Justru harus kerja keras.

Oh, masih kerja keras? Untuk satu putaran?

Kalau bisa satu putaran lah. Pasti semua juga ingin menang, namanya juga kompetisi. (Paslon) satu, dua, dan tiga semuanya pasti pengen menang. Tapi, menurut saya dari indikator-indikator yang ada itu Prabowo-Gibran itu kan trennya selalu naik.

Saya kira sudah mulai diakui oleh masyarakat. Saat ini kita bicara mendapat dukungan yang cukup masif di berbagai tempat. Ada yang mungkin belum, seperti di Jawa Tengah. Mungkin juga di beberapa daerah lain.

Menurut saya trennya menarik. Indonesia semakin demokratis dibandingkan dengan 2019 yang cuma dua pasang. Sekarang ada tiga pasangan. Ini berarti ada kemajuan. Kami dari dulu sebenarnya ingin Pemilu itu presidential threshold-nya kalau bisa diturunkan.

Diturunkan atau dinolkan?

Kalau perlu ditiadakan. Artinya, setiap partai yang ada di parlemen kalau bisa mencalonkan, boleh mencalonkan. Kalau ada tiga paslon, ini berarti ada satu kemajuan, ada pilihan yang lebih luas.

Saya lihat Pak Prabowo ini basisnya kuat, artinya sebelum ada wakilnya, siapapun sudah cukup tinggi. Tampil dengan Mas Gibran lebih bagus lagi. Sejauh ini, respons di daerah-daerah cukup bagus. Kenaikannya cukup bagus, mudah-mudahan bisa satu putaran, Om Why.

Nah, tengok ini Mas Fadli. Ada hasil survei dari CSIS dan Indikator Politik tentang elektabilitas pasangan capres dan cawapres setelah debat pertama Pilpres 2024 pada Desember. Hasilnya: Prabowo-Gibran elektabilitasnya 43,7% dan 46,7%. Anda percaya dengan hasil ini?

Ya, ini kan indikator. Ini kan pollster surveyor yang selama ini dianggap mewakili, terutama Indikator Politik, CSIS, dan beberapa yang lain. Saya kira tidak terlalu banyak juga bantahan, ya. Indikator ini menurut saya penting. Saya percaya karena pasti metodologinya bisa dipertanggungjawabkan.

Nah, kalau yang lain mungkin juga menganggap ini tidak bisa dipercaya. Itu biasa lah. Kadang-kadang opini tergantung posisi, dulu kami juga begitu. Walaupun kadang-kadang bisa berubah.

Tapi dari banyak pollster, termasuk yang dibuat oleh mereka yang berada di kompetitor maupun independen, rata-rata kan hampir sama. Tidak ada yang beda ekstrem. Nah, itu artinya kecenderungan untuk satu putaran itu menguat.

Mungkin setelah debat ketiga, Pak Prabowo akan semakin kuat apalagi nanti pada waktu kampanye yang masif. Sekarang ini kan waktu kampanye dibatasi cuma 75 hari. Kenaikannya sih cukup signifikan itu. Jadi, mudah-mudahan nanti naik dari 46,7%, saya masih optimis bisa di atas 50%.

Jadi optimis satu putaran kan? Jadi bisa hemat semuanya?

Hematlah. Kemudian juga tidak ada lagi benturan-benturan yang seperti Pemilu yang lalu yang akhirnya merugikan situasi ekonomi kita.

Ada yang membedakan dari hasil CSIS dan Indikator Politik. Kalau CSIS itu yang keduanya ada runner up pasangan Anies-Muhaimin. Ganjar Mahfud yang ketiga. Sebaliknya, kalau dari survei Indikator Politik Indonesia, justru yang posisi kedua itu diduduki oleh Ganjar-Mahfud. Anies-Muhaimin yang ketiga. 

Itu kan artinya pertarungan antara pasangan calon (paslon) nomor 1 dan nomor 3. Kalau menurut Anda, mana yang lebih kuat sebenarnya antara pasangan Ganjar-Mahfud dan Anies-Muhaimin?

Kalau saya lihat, pasti masing-masing paslon mempunyai basis yang agak berbeda ya. Pemilih yang agak berbeda. Pak Prabowo berada di tengah. Ini kiri, kanan, dan tengah. Yang beririsan semuanya kebetulan di tengah.

Atau kebetulan karena ada di istilahnya Qodari itu kolam suaranya Pak Jokowi yang diperebutkan?

Betul. Pak Jokowi ke Prabowo-Gibran. Artinya, ada faktor yang penting juga. Kalau melihat pemilihnya atau relawannya Pak Jokowi yang bergabung dengan Pak Prabowo, itu jelas menambah suara yang signifikan. Dari data survei kan memperlihatkan seperti itu. Artinya, kita tahu bahwa baseline dari salah satu pihak itu tergerus.

Apa yang membuat faktor elektabilitas Prabowo-Gibran begitu tinggi, Anda bilang bahkan bisa tembus 50%?

Kalau menurut saya ada migrasi dari pendukung Pak Jokowi. Jadi, faktor Pak Jokowi sebagai incumbent yang sebagai current presiden apalagi sudah dua periode, itu juga sangat menentukan. Kemudian, kedekatan dari kiri-kanan ini kepada yang tengah.

Itu sebenarnya tidak terlalu jauh. Jadi, pilihan-pilihan alternatif mereka kalau misalnya mereka memutuskan untuk tidak memilih yang kiri atau yang kanan mereka pasti akan ke tengah.

Pasti juga ada kecenderungan masyarakat kita itu bandwagon effect, ingin berada dengan yang menang. Ada juga yang underdog tetapi itu biasanya pemilih yang rasional, yang elite.

Kalau kita lihat secara keseluruhan, tiga-tiganya ini sebenarnya tidak ada yang terlalu berbeda dalam konteks ideologi dan lain-lain. Pasangan Prabowo-Gibran didukung oleh tiga koalisi pemerintah. Pasangan Anies didukung oleh dua partai koalisi pemerintah. Pasangan Ganjar juga didukung oleh dua partai. Jadi, tidak ada yang signifikan sebenarnya, ini Pilpres kekeluargaan.

Yang oposisi kan cuma Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Demokrat. Tapi, suara oposisinya lebih kecil di parlemen. Jadi, ini didukung dalam koalisi pemerintah. Baik 01 maupun 03 tidak ada yang keluar dari koalisi pemerintah, partainya tidak keluar, orangnya pun tidak keluar. Masih di kabinet.

Pilpres kekeluargaan ini artinya positif atau negatif, kalimat Anda ini bersayap atau memang realita?

Ini kan realitas. Terserah orang menilainya positif atau negatif, partainya saja masih di dalam koalisi pemerintah. Menteri-menterinya masih di situ, masih aktif.

Kalau mundur, mungkin rugi. Semakin rontok?

Makanya, ini masih Pilpres kekeluargaan. Tidak ada yang oposisi yang mau perubahan. Perubahan apa? Mereka semuanya masih di dalam koalisi, kok. Apanya yang mau berubah? Kalau mereka mau mengambil satu sikap, keluar dari koalisi pemerintahan. Nah, itu baru kita yakin akan ada perubahan.

Pasangan Anies-Muhaimin juga begitu?

Iya. Nasdem masih dalam koalisi, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) masih dalam koalisi. Menteri-menterinya semua masih ada di dalam, masih anak buahnya Pak Jokowi. Maksudnya mau isu perubahan apa? Saya yakin semua siapa pun pasti ada yang namanya keberlanjutan dan perubahan.

Change and continuity itu adalah suatu keniscayaan. Tapi, maksud saya itu masyarakat juga menilai. Jadi, sekali lagi ini konteksnya adalah Pilpres kekeluargaan.

Halaman:
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement