Rohini Behl: Keberlanjutan adalah Investasi yang Menciptakan Nilai

Hari Widowati
Oleh Hari Widowati - Ajeng Dwita Ayuningtyas
27 Juli 2026, 16:11
Rohini Behl
Katadata/Bintan Insani
Rohini Behl, Chief of Sustainability Officer, L'Oreal SAPMENA

Sejak 2022 kami telah menjadi anggota dan secara aktif memastikan kami berpartisipasi dalam pengumpulan, lalu mereka menyortir dan menyalurkannya untuk didaur ulang. Data ini juga sudah diaudit untuk memastikan besaran jejak lingkungan yang kami hasilkan.
Sebab itu, komitmen yang kami buat ini kami ukur dan laporkan sebagai bagian dari tata kelola pengelolaan plastik.

Mengenai pengurangan penggunaan plastik, apakah akan ada penggunaan bahan pengganti alami seperti rumput laut dan sejenisnya?

Pusat perusahaan di Prancis menjalin kemitraan dengan merek-merek premium seperti Biotherm, kemudian dengan perusahaan bernama Cabrios yang kami investasikan. Kami mempertimbangkan jenis bahan organik untuk membuat ‘plastik baru’. 

Sebagai bagian dari L’Oreal for the Future, kami juga meluncurkan Le Accelerator, ini kemitraan dengan University of Cambridge, di Cambridge Institute of Sustainability Leadership. Yang kami lakukan adalah mengidentifikasi perusahaan rintisan di seluruh ekosistem, bisa berasal dari Indonesia, Malaysia, India, Prancis, AS, dari mana saja. 

Kami tahu, meskipun sudah ada komitmen dan niat, terkadang teknologinya masih belum mampu mengimbangi perkembangan tersebut. Atau, masih dalam level startup atau uji coba. Melalui program ini, dengan sebagian dana dari L’Oreal, kami mendorong dan bermitra dengan perusahaan-perusahaan rintisan ini, sehingga kami membantu mereka berkembang.

 Saat itulah, kami membawa inovasi tersebut ke dalam perusahaan dan mengujinya atau meluncurkannya. Mungkin dengan satu dua merek dan sebagainya, untuk melihat bagaimana ini bekerja dalam ekosistem, sebelum kami menerapkannya secara luas ke seluruh merek.

Pemerintah Indonesia sedang menyiapkan regulasi tentang EPR, yang akan mewajibkan perusahaan mendanai Packaging Recovery Organization (PRO), apa respons L’Oreal?

Melanie Masriel, Chief of Corporate Affairs, Engagement, and Sustainability L’Oreal Indonesia: Pada dasarnya kami mendukung peraturan ini ke depannya, karena kami merasa hal itu sejalan dengan prinsip kami untuk mengurangi limbah dan sebagainya. 

Tapi saya rasa itu masih dalam tahap diskusi ya, karena saya juga ikut dalam diskusi tersebut bersama dengan perusahaan lain termasuk perusahaan FMCG (fast-moving consumer goods). Di dalamnya membahas bagaimana cara terbaik untuk mengimplementasikannya di Indonesia, misalnya menggunakan multi-PRO atau single-PRO itu belum diputuskan. Masih ada pro-kontra dan orang-orang masih berdiskusi dan mengevaluasinya. 

Tetapi, kami sangat mendukung hal ini ke depan. Apalagi kami sudah menjadi bagian dari IPRO, karena kami perlu bekerja sama dengan PRO yang kredibel. Dan bisa saya katakan IPRO adalah salah satu yang kredibel. Sejak 2024, kami telah mengumpulkan sejumlah produk pascapakai dari pasar. Bahkan sebelum aturan EPR ini diterapkan. 

Rohini Behl: Saya sepenuhnya setuju dengan Melanie. Dalam situasi saat ini, tidak ada satu carapun yang bisa dilakukan sendirian. Ketika kami memulai di ruangan ini tiga atau empat tahun yang lalu, kami bertemu banyak perusahaan yang ingin terjun ke bidang ini. Kami melakukan uji coba dan bekerja sama dengan beberapa di antaranya. Hingga kemudian kami menemukan IPRO sebagai industri konsumen. 

IPRO juga ada karena kami semua berkumpul, daripada menduplikasi upaya masing-masing, kami berasosiasi. Dari sisi pengumpulan (collection) sampah, Anda bisa melakukannya lebih banyak. Selain itu, kami bisa berbagi pengetahuan, karena dalam keberlanjutan, kami tidak melihat persaingan. Yang kami lihat justru kolaborasi. 

Kami telah bekerja sama dengan IPRO, tentu kami sudah menyediakan pendanaan untuk membantu mereka membangun infrastruktur dan skala yang lebih besar. Jika kami menemukan bahwa kami membutuhkan PRO lain, kami mungkin akan menggaet dua atau tiga lagi. Jadi ini benar-benar sangat dinamis. 

Ini tentang bagaimana kita berpartisipasi untuk membangun infrastruktur, juga perihal edukasi rumah tangga untuk memilah, mengumpulkan sampah, kemudian memprosesnya untuk daur ulang. Hari ini kita bicara tentang plastik, besok bisa jadi soal logam dan kaca.

L’Oreal juga memiliki program Green Parcel untuk mengurangi penggunaan plastik, bagaimana kontribusinya untuk mencapai target pengurangan tersebut?

Bagi kami, ini perilaku normal, tapi bagi banyak orang itu tidak demikian. Anda bisa bayangkan, kita melihat pertumbuhan e-commerce, tiba-tiba rumah anda mendapatkan banyak plastik, selotip, dan lain-lain. 

Di wilayah SAPMENA, kami katakan kami akan tumbuh bersama e-commerce, namun saya tidak ingin menambah jejak plastik dengan hal itu. Ini keputusan manajemen dan bagi saya ini cara menjalankan bisnis dengan sangat bertanggung jawab.

Manajemen mengambil keputusan untuk beralih ke kemasan ramah lingkungan untuk semua pengiriman. Kami sepenuhnya menghilangkan plastik sekali pakai dari rantai pasok kami. Untuk melakukan itu, kami bekerja sangat keras dengan pemasok, perusahaan e-commerce, dan lain-lain untuk menjelaskan bahwa seiring pertumbuhan kami, kami tidak ingin meningkatkan jejak plastik sekali pakai, terutama plastik murni dalam banyak hal. 

Jadi, kami secara sistematis mengganti materialnya. Saat ini, kotak pengirimannya menggunakan kardus dengan forest certification atau kardus daur ulang, isinya juga terbuat dari kertas daur ulang. Kami bekerja dengan para vendor, bahkan untuk selotipnya, karena kami tidak ingin menggunakan selotip plastik. Kami bisa mengidentifikasi mana vendor yang memiliki pita kertas yang terbuat dari bahan alami, perekat alami sehingga tidak menggunakan bahan sintetis, jadi akan terurai ke alam. Atau, didaur ulang tergantung di mana pita itu dikumpulkan. 

Paket ramah lingkungan adalah bagian dari komitmen kami. Ini yang kami lakukan sejak awal menyadari perkembangan e-commerce.

 
Keberlanjutan seringkali dipandang sebagai pengeluaran tambahan, namun apakah ini justru investasi bagi L’Oreal?

Di L’Oreal, kami selalu meyakini prinsip yang kami sebut dengan dual excellence. Artinya, selain mengejar kinerja keuangan, kami juga fokus pada extra financial performance

Kami adalah satu-satunya perusahaan di dunia yang sepuluh tahun berturut-turut memiliki skor AAA dari Carbon Disclosure Project. Kami sangat bangga akan hal itu. Ini bukti bahwa komitmen kami bukan hanya soal keuangan, tapi investasi untuk masa depan. Karena itu juga program ini disebut L’Oreal for The Future.

Namun, saya juga melihat ini sebagai kepemimpinan yang sangat strategis yang kami ambil sebagai perusahaan, terutama di masa seperti ini, dengan ketidakpastian global yang kita semua hadapi. Sebenarnya, keberlanjutan yang memberi Anda nilai dan keunggulan.

Jadi, di luar pembahasan mengenai biaya dan investasi, saya justru memandang keberlanjutan sebagai pencipta nilai bagi bisnis. Biaya yang dikeluarkan untuk keberlanjutan sebaiknya dipandang sebagai investasi. Pada akhirnya, investasi itu akan menghasilkan nilai tambah yang nyata bagi perusahaan.

Apa harapan Anda dengan seluruh gerakan ini?

Tentu saja, portofolio kami akan terus berkembang. Dari segi pasar, harapannya adalah kami bisa mendapatkan lebih banyak konsumen untuk mengadopsi sistem ini. Kita kembali pada prinsip 80:20, bagaimana kita bisa menutup kesenjangan itu. Artinya 80% orang akan benar-benar mulai menerapkan sistem ini. 

Bayangkan jumlah penghematan yang bisa didapatkan masyarakat dari segi intensitas material dan emisi karbon, juga dari segi value. Sebab itu, saya rasa gerakan ini sesuatu yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Kita masih bisa menikmati produk kecantikan yang indah, tetapi dengan cara yang lebih bertanggung jawab. 

Halaman:
add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...