Riset Halodoc: Masalah Kesehatan Mental Memuncak di Minggu Ketiga Ramadhan
Jakarta -- Kesehatan mental warga yang berpuasa, yang turut mendorong gangguan kesehatan fisik, terdeteksi paling terguncang di pekan ketiga Ramadan. Pemicunya adalah terutama tekanan internal keluarga.
Hal itu terungkap dalam 'Indonesia Health Insights Report Q1 2026' dari Halodoc, di Jakarta, Selasa (10/3/2026).
"Keluhan kesehatan bergerak, gonta-ganti sepanjang Ramadhan. Minggu pertama, kedua, fokus pada wellness. Masalahnya pencernaan, konstipasi. Minggu ketiga, keluhan makin meningkat terkait mental. Puncaknya di minggu ketiga itu terjadi banyak kecemasan, gangguan tidur," tutur Fibriyani Elastria, Chief Marketing Officer Halodoc.
Data Halodoc 2025 menunjukkan pada pekan ketiga bulan puasa gangguan cemas tumbuh 27%, berdasarkan angka konsultasi pasien. Angka ini lebih tinggi dibanding pekan kedua (25%), pekan keempat (22%), dan pekan pertama (17%).
"Kecenderungan ini menandakan bahwa beban psikologis masyarakat tidak hanya muncul pada fase awal adaptasi, tetapi berkembang menjadi tekanan emosional kumulatif akibat kelelahan, peningkatan aktivitas sosial, serta persiapan ekonomi menjelang Idulfitri," demikian tertulis dalam riset tersebut.
Fibriyani mengungkap faktor utama yang memengaruhi kesehatan mental selama Ramadhan itu adalah konflik dan tekanan relasi keluarga (58%). Selanjutnya, luka emosional dan kenangan masa lalu (16%), perubahan pola hidup (11%), tekanan ekonomi dan ketidakpastian masa depan (10%), dan kesepian di kalangan perantau (5%).
"Penyebabnya terkait konflik atau tekanan urusan keluarga," ujar dia.
"[Misalnya] mau ketemu keluarga besar, akan ada pertanyaan soal kapan punya pacar, kapan menikah, kapan punya anak, kapan punya anak kedua, dan seterusnya. [Atau] ada luka emosional masa lalu, akan ketemu lagi di momen bermaaf-maafan, ingat hal-hal menyakitkan, ini memicu lagi [stres]," urai Fibriyani.
Mental Pengaruhi Fisik
Riset juga menemukan keluhan radang tenggorokan di pekan ketiga itu tumbuh 8%. Meski begitu, keluhan radang tenggorokan ini lebih tinggi di pekan pertama Ramadhan (13%). Sementara, pada minggu kedua dan keempat, angkanya menurun signifikan (4% dan 1%).
Halodoc menyebut lonjakan kedua di pekan ketiga itu merupakan hasil dari tekanan kumulatif pada sistem kekebalan tubuh. Yakni, terkait dengan perubahan jam tidur, potensi kekurangan makronutrien, yang meningkatkan hormon stres dan menekan respons imun.
"Daya tahan tubuh udah berkurang, sudah mulai lelah," kata Fibri.
Di sisi lain, tingkat konsultasi Maag dan GERD pada 2025 menunjukkan tren yang menurun tiap pekannya. Yakni, 21% di minggu pertama Ramadhan, 16% di minggu kedua, 9% di pekan ketiga, dan -7% di minggu keempat.
"Gangguan pencernaan merupakan reaksi awal tubuh terhadap perubahan drastis pada pola makan dan waktu makan, terutama saat tubuh baru menyesuaikan diri dengan ritme sahur dan berbuka, lalu secara perlahan menurun seiring tubuh mulai menyesuaikan ritme baru," menurut riset tersebut.
dr. Waluyo Dwi Cahyono, Mitra Dokter Spesialis Halodoc, menjelaskan kadar stres amat terkait dengan masalah pencernaan. Sementara, beberapa sumber stres, baik tekanan sosial atau pun isu keagamaan, muncul jelang Ramadhan berakhir.
"Hormon kortisol naik memicu produksi asam lambung, akibatnya iritasi lambung. Pencernaaan pun mengalami gangguan jadinya," kata dia.
Agar tak mengalami masalah pencernaan lebih parah saat Ramadhan dan Idulfitri, Farhana June Jamil, Head of Apical Innovation Centre (AIC) - Global, menyarankan untuk menghindari makanan yang berbahan dasar trans fat (minyak cair diproses menjadi lebih padat agar lebih tahan lama dan gurih atau partial hydrogenation, sering digunakan pada produk roti).
"Rekomendasi WHO itu adalah konsumsi industrial trans fat harus dibatasi. Ini meningkatkan risiko penyakit jantung. Kuncinya bukan melarang makan makanan khas lebaran, tapi bijak memilih bahan-bahan," urai dia.
