Halodoc Jawab Keraguan Soal Dokter Konsultasi: Bukan AI
Jakarta -- Halodoc, ekosistem layanan kesehatan digital, mengungkapkan bahwa dokter konsultasi mereka yang tersedia 24 jam itu bukanlah kecerdasan buatan (AI), tapi dokter asli yang punya perizinan lengkap.
"Saya sering ditanya sebagai HR, yang kerja di HR Halodoc juga itu sering ditanya, ini dokternya Halodoc ini AI ya jangan-jangan? Ini jangan-jangan robot di belakangnya?" ujar Thomas Suhardja, Chief Human Capital Halodoc, dalam acara perilisan laporan kesehatan Indonesia Health Insights Q2 2026, di Jakarta, Senin (27/4/2026).
"Nah saya bisa pastikan itu 20 ribu dokter ada SIP -nya. Dan mereka yang jawab itu beneran dokter kita, bukan AI, bukan robot," sambung dia.
Thomas mengatakan Halodoc memang memberdayakan AI sebagai bagian dari layanannya, yakni HILDA (Halodoc InteLligent Digital Assistant). Fitur AI ini, yang bisa diakses di bagian tengah bawah aplikasi Halodoc, berfungsi memberi asistensi pada pelanggan soal pertanyaan-pertanyaan awam terkait kesehatan, seperti boleh tidaknya makan obat dengan teh, dan mengarahkan pengobatan ke spesialis yang pas.
Pengembangan teknologi ini pun melibatkan dokter, selain pihak divisi produk dan teknologi. Ditambah basis data yang diambil dari riwayat konsultasi di Halodoc, Thomas menyebut HILDA lebih punya validitas soal data kesehatan dibanding sekadar pencarian standar soal kesehatan via Google.
"Kalau misal terkait kesehatan iya," ucapnya.
Sementara itu, dokter asli hadir terpisah di bagian konsultasi, dilengkapi dengan nama dan foto mereka. "HILDA tuh tombolnya di tengah, itu memang AI. Tapi kalau dokter, ada fotonya," lanjut dia.
Ia, sebagai pimpinan divisi HR, pun memandang AI tidak akan bisa mengganti karyawan manusia. Pihaknya lebih menggunakan AI, yang dikolaborasikan dengan tenaga manusia, untuk mengoptimalisasikan layanan bagi pelanggan. Contohnya, mempercepat administrasi seperti pemeriksaan pengajuan klaim.
"Karyawan itu bisa berinteraksi, punya kreativitas, bisa punya critical thinking, yang AI mungkin bisa sama, tapi karyawan punya cara pendekatan yang tidak akan bisa digantikan," jelas Thomas.
Telekonsultasi Pangkas Biaya Kesehatan
Pada acara yang sama, Indonesia Health Insights juga mengungkap bahwa pilihan telekonsultasi bisa memangkas pengeluaran anggaran keseharan karena tingkat penyelesaiannya tinggi tanpa perlu ke klinik atau rumah sakit.
Bahwa, integrasi layanan telekonsultasi sebagai lini pertama layanan kesehatan dapat menuntaskan hingga 95% kasus kronis (kondisi yang memerlukan pemantauan konsisten jangka panjang), menyelesaikan 94% kasus akut (datang tiba-tiba dan mendorong pasien untuk segera mengambil keputusan). Hal ini tanpa membutuhkan kunjungan fisik ke fasilitas kesehatan dalam periode observasi 30, 60, hingga 90 hari.
“Dengan mengintegrasikan ekosistem Halodoc sebagai tunjangan kesehatan karyawan, perusahaan dapat menghadirkan akses layanan kesehatan yang lebih mudah, lengkap, dan hassle-free, sekaligus berpotensi menekan biaya kesehatan hingga 15% dalam satu tahun melalui layanan telekonsultasi atau Digital Cashless Outpatient (DCO)," papar Thomas.
"Penghematan ini membuka ruang bagi perusahaan untuk mengalokasikan anggaran ke program kesejahteraan atau inisiatif strategis yang lebih berdampak lainnya bagi karyawan”, tambah dia.
Khusus untuk ekosistem terintegrasi Halodoc for Business, ada dua jenis layanan kesehatan terintegrasi dalam satu ekosistem digital:
● Digital Cashless Outpatient (DCO): Layanan konsultasi dokter online 24 jam dan pengiriman obat cashless yang tersambung langsung dengan asuransi kesehatan karyawan melalui aplikasi Halodoc.
● Third Party Administrator (TPA): Sistem pemrosesan klaim berbasis teknologi AI yang mampu menekan biaya operasional hingga 18%, dengan tetap menjaga akurasi tinggi dalam verifikasi dokumen dan validasi klaim.
“Telekonsultasi tidak menggantikan layanan pemeriksaan secara langsung, tapi jika dibutuhkan untuk melakukan kunjungan fisik, dapat menjadi lebih selektif dan tepat sasaran," tutup Puspa Angelia, Head of Business Strategy Halodoc.
