Kejaksaan Kembangkan ASCCC untuk Perkuat Kompetensi SDM Berbasis Data

ASCCC diarahkan untuk menghubungkan data pembelajaran dan pengembangan SDM dengan kebutuhan organisasi.
Tim Publikasi Katadata
20 Agustus 2026, 17:25
Adhyaksa Smart Cognitive Command Center
Istimewa
Adhyaksa Smart Cognitive Command Center
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Perkembangan teknologi digital dan pemanfaatan data mendorong perubahan besar dalam tata kelola organisasi, termasuk di lingkungan Kejaksaan Republik Indonesia. Menghadapi kebutuhan tersebut, Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan terus mendorong penguatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) sekaligus pengembangan ekosistem pembelajaran yang lebih adaptif, terintegrasi, dan berbasis data.

Upaya tersebut diwujudkan melalui pengembangan ASCCC (Analitika Smart Cognitive Command Center), sebuah pendekatan yang mengintegrasikan pembelajaran, human capital, data, dan kecerdasan buatan untuk mendukung pengembangan kompetensi serta pengambilan keputusan strategis.

Transformasi ini menjadi penting di tengah perubahan dunia yang berlangsung cepat. Kejaksaan dituntut tidak hanya mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi juga memastikan SDM memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan organisasi dan tantangan penegakan hukum ke depan.

Melalui pendekatan Human Capital Intelligence, ASCCC diarahkan untuk menghubungkan data pembelajaran dan pengembangan SDM dengan kebutuhan organisasi. Dengan demikian, proses pengembangan kompetensi tidak lagi berjalan secara terpisah, melainkan menjadi bagian dari ekosistem yang terintegrasi.

“Inovasi ASCCC yang dilakukan sudah sesuai harapan kita bahwa harusnya tiap bidang mempunyai inovasi," ujar Jaksa Agung, ST Burhanuddin, dalam sebuah video dari akun instagram Kejaksaan.ri, Kamis (20/8).

Transformasi digital tidak hanya berbicara mengenai teknologi, tetapi juga bagaimana organisasi membangun SDM yang mampu belajar, beradaptasi, dan mengambil keputusan berdasarkan data.

ASCCC dikembangkan untuk membangun ekosistem yang menghubungkan sejumlah elemen penting, mulai dari human capital management, one data human capital, intelligence layer, decision intelligence, outcome & impact, hingga national legal learning ecosystem.

Pendekatan tersebut memungkinkan data pembelajaran dan pengembangan kompetensi dimanfaatkan secara lebih strategis. Informasi mengenai kompetensi, kebutuhan pembelajaran, hingga perkembangan SDM dapat menjadi dasar untuk menghasilkan rekomendasi yang lebih tepat bagi organisasi.

Dalam implementasinya, ASCCC dikembangkan secara bertahap melalui sejumlah fase, yakni Foundation Phase, Intelligence Phase, Predictive Phase, hingga Cognitive Phase.

Pada tahap Foundation Phase, fokus diarahkan pada pembangunan fondasi digital dan integrasi data nasional. Tahapan ini mencakup pengembangan data lake, learning management system (LMS) terintegrasi, serta national legal knowledge repository.

Selanjutnya, Intelligence Phase diarahkan untuk membangun organisasi berbasis kecerdasan melalui pengembangan AI competency, AI talent engine, serta AI learning recommendation.

Tahap berikutnya adalah Predictive Phase, yang diarahkan pada pembangunan tata kelola SDM yang prediktif melalui predictive governance, workforce forecasting, dan talent forecasting.

Adapun Cognitive Phase ditujukan untuk mengembangkan ekosistem pembelajaran yang lebih otonom melalui cognitive enterprise, decision support system, autonomous learning ecosystem, dan cognitive intelligence platform.

Dorong Pengambilan Keputusan Berbasis Data

Pengembangan ASCCC tidak berhenti pada pembangunan teknologi. Ekosistem tersebut juga diarahkan untuk menghasilkan evidence-based policy dan rekomendasi strategis bagi pimpinan.

Dengan memanfaatkan data dan analitik, kebutuhan organisasi dapat dipetakan secara lebih komprehensif. Informasi tersebut kemudian dapat menjadi dasar dalam menentukan arah pengembangan kompetensi, perencanaan talenta, hingga kebijakan pengelolaan SDM.

Pendekatan ini juga membuka peluang bagi organisasi untuk melakukan workforce forecasting dan talent forecasting, sehingga kebutuhan SDM dapat diantisipasi berdasarkan data dan proyeksi kebutuhan organisasi.

Pada akhirnya, pembelajaran diharapkan tidak lagi dipandang sebagai aktivitas yang berdiri sendiri. Pembelajaran menjadi bagian dari proses pengembangan karier, peningkatan kompetensi, serta pencapaian sasaran organisasi.

Pengembangan ASCCC juga diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Sejumlah kegiatan pembelajaran, diskusi, webinar, publikasi, kajian, hingga pengembangan road map menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem tersebut.

Kolaborasi menjadi salah satu elemen penting karena transformasi digital dan pengembangan SDM tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan sinergi antara pimpinan, pengelola SDM, lembaga pendidikan dan pelatihan, serta berbagai pihak yang memiliki kompetensi di bidang teknologi, data, dan pembelajaran.

Dukungan dari berbagai pemangku kepentingan juga memperkuat upaya membangun pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan organisasi.

Melalui ekosistem tersebut, pengembangan kompetensi diarahkan untuk menjawab kebutuhan masa depan sekaligus mendukung kesiapan SDM Kejaksaan dalam menghadapi perubahan lingkungan strategis.

Dengan pendekatan tersebut, transformasi digital tidak hanya menghasilkan sistem baru, tetapi juga membangun budaya belajar yang berkelanjutan.

ASCCC menjadi bagian dari perjalanan menuju organisasi pembelajar yang mampu memanfaatkan data, teknologi, dan kolaborasi untuk memperkuat kualitas SDM sekaligus mendukung pelaksanaan tugas Kejaksaan Republik Indonesia.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...