Stop Impor Pangan, Janji Manis Jelang Pilpres

Oleh Widya Nandini, 8 November 2018

Isu stop impor pangan menjadi komoditas politik jelang pemilihan umum.

Stop Impor Pangan Janji Manis Jelang Pilpres
Unduh Infografik
Share

Jelang pemilihan umum 2019, isu swasembada pangan kembali bergaung. Prabowo Subianto menjanjikan stop impor pangan bila terpilih sebagai presiden. Janji tersebut diucapkan pada acara Tabligh Akbar dan Deklarasi Komando Ulama Pemenangan Prabowo-Sandi di Gelanggang Olahraga Gor Soemantri Brojonegoro, Kuningan, Jakarta, Minggu (4/11).

Pernyataan serupa pernah dilontarkan Joko Widodo pada pemilu 2014. Dengan lantang ia mengatakan bahwa Indonesia harus berani menghentikan impor pangan seperti beras, kedelai, daging, dan lainnya.

Kampanye stop impor pangan selalu menjadi komoditas politik yang seksi bagi setiap calon presiden. Namun, kampanye semacam ini dinilai tidak rasional. Guru Besar Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas Santosa mengatakan sebaiknya setiap calon presiden membuat program yang masuk akal.

Sebagai contoh, ia menambahkan, upaya swasembada empat komoditas pangan di era pemerintahan Presiden Jokowi tidak tercapai sama sekali. “Optimisme boleh saja, tidak salah. Yang salah ketika sama sekali irasional sehingga meninabobokan masyarakat. Jadi buatlah program rencana yang rasional,” katanya saat dihubungi Katadata (7/11).

Selama periode 2013 sampai 2017, tren impor sejumlah komoditas pangan mengalami peningkatan. Di antaranya gula, jagung, dan kedelai. Bahkan untuk komoditas beras sempat mencatatkan impor sebesar 1,3 juta ton pada 2016.

(Baca : Prabowo Janji Tak Akan Impor, Faisal Basri: Tidak Masuk Akal)