Ragam Alasan Berhenti Kerja di Era Industri 4.0

Oleh Andrea Lidwina, 4/10/2019, 07.05 WIB

Padahal, memasuki era industri 4.0, kemampuan yang harus dimiliki tenaga kerja makin banyak agar tidak digantikan dengan mesin atau otomatisasi.

Unduh Infografik
Share

Banyak alasan pekerja keluar dari pekerjaannya. Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) menyebutkan selama 2016-2018, alasan berhenti karena kemampuan yang tak sesuai kebutuhan kerja tumbuh paling tinggi, yaitu 280 persen. Kemudian, disusul masa kerja yang telah berakhir (61 persen), gaji kurang memuaskan (6 persen), dan lingkungan kerja yang tidak nyaman (5 persen).

(Baca: Angka Pengangguran Lulusan Universitas Meningkat)

Sementara itu, alasan keluar kerja karena kehamilan, perusahaan bangkrut, dan pemutusan hubungan kerja (PHK) justru menurun dalam dua tahun terakhir.

(Baca: Minim Keterampilan, Indonesia Sulit Cetak Pengusaha)

Padahal, memasuki era industri 4.0, kemampuan yang harus dimiliki tenaga kerja makin banyak agar tidak digantikan dengan mesin atau otomatisasi. Tenaga kerja dituntut menguasai functional skill—kemampuan soal teknologi, matematika, disiplin ilmu yang dipelajari, dan literasi data. Selain itu pekerja juga butuh memiliki soft skill yakni kemampuan berpikir analitis dan kreatif, komunikasi, mudah beradaptasi, serta kewirausahaan.