Outlook Perekonomian Indonesia 2026 Versi Bank DBS
Tahun 2026 akan menjadi ujian penting bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam mengeksekusi program dan kebijakan yang dapat membawa perekonomian tumbuh lebih tinggi. Dalam hal ini, Bank DBS Indonesia melihatnya dengan nuansa optimistis.
Dalam laporan bertajuk Indonesia 2026 Outlook: Time to Deliver oleh Bank DBS, proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan mencapai 5,2 persen. Perekonomian akan ditopang oleh kebijakan fiskal yang lebih berani dan pro pertumbuhan. Strategi ini berkebalikan dengan pengelolaan anggaran negara yang selama ini cenderung penuh kehati-hatian.
Menurut laporan tersebut, belanja pemerintah pada 2026 naik menjadi Rp3.843 triliun. Kenaikan sejalan dengan perluasan program prioritas, seperti program makan bergizi gratis (MBG), pembangunan infrastruktur, dan ketahanan pangan. Sejalan dengan itu, defisit APBN dipatok melebar menjadi 2,68 persen dari PDB.
Bank Indonesia, di sisi lain, mensinkronkan ekspansi fiskal dengan kebijakan moneter yang longgar. Sepanjang 2025, bank sentral telah memangkas suku bunga sebesar 125 basis poin menjadi 4,75 persen. Bank DBS pun memperkirakan pemangkasan 75 basis poin lagi menjadi 4,00 persen pada tahun depan.
Bagi Bank DBS, kunci 2026 bukan lagi desain kebijakan, melainkan eksekusi. Jika koordinasi fiskal dan moneter tetap solid, iklim investasi terus diperbaiki, serta pembangunan SDM dilanjutkan, Indonesia berpeluang keluar dari jebakan pertumbuhan 5 persen, dan melangkah menuju fase industrialisasi yang lebih matang.
Laporan ini adalah bentuk komitmen Bank DBS sebagai bank teraman di Asia dalam menjadi mitra tepercaya bagi nasabah untuk menavigasi bisnis dan investasi di tengah berbagai perubahan. Bank DBS pun memiliki solusi terpadu untuk bisnis dan individu dan dilengkapi dengan insights pasar yang cepat dan mendalam.
