Pakai Standar Baru Global, Berapa Tingkat Kemiskinan Indonesia?

Tim Publikasi Katadata
19 Januari 2026, 19:24

Tingkat kemiskinan Indonesia dalam perspektif global menjadi sorotan setelah Bank Dunia (World Bank) memperbarui garis kemiskinan internasional untuk mencerminkan perubahan harga, pola konsumsi, dan standar hidup global terkini berbasis Purchasing Power Parity (PPP) 2021. Pembaruan ini membuat angka kemiskinan di banyak negara, termasuk Indonesia, terlihat meningkat, namun bukan berarti kondisi sosial ekonomi masyarakat memburuk.

Dengan standar baru tersebut, 5,44 persen penduduk Indonesia tercatat hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem global, yaitu pengeluaran di bawah US$3 per orang per hari. Angka ini menjadi tolok ukur internasional terbaru untuk kemiskinan ekstrem dan sekaligus menjadi basis target ambisius pemerintah. Presiden Prabowo menargetkan Indonesia bebas kemiskinan ekstrem pada 2029, sebuah sasaran yang kini dapat diukur dengan standar global yang lebih baru.

Jika ambang batas dinaikkan ke level negara berpenghasilan menengah-bawah, yaitu US$4,2 per hari, proporsi penduduk Indonesia yang berada di bawah garis ini mencapai 19,88 persen. Sementara pada standar negara berpenghasilan menengah-atas, dengan batas US$8,3 per hari, persentasi penduduk Indonesia berada sebanyak 68,25 persen.

Kendati terlihat melonjak, Bank Dunia menegaskan bahwa kenaikan ini tidak mencerminkan bertambahnya jumlah orang miskin secara riil. Peningkatan persentase terjadi karena garis kemiskinan global kini dipatok lebih tinggi dan lebih ambisius, seiring meningkatnya standar minimum hidup yang dianggap layak secara internasional. Dengan kata lain, yang berubah adalah alat ukurnya, bukan semata-mata kondisi masyarakatnya.

Penting memahami kapan masing-masing garis kemiskinan digunakan. Untuk analisis kemiskinan dalam negeri, seperti perumusan kebijakan sosial dan penargetan bantuan, garis kemiskinan nasional tetap menjadi acuan utama meskipun tidak dapat dibandingkan antarnegara.

Sebaliknya, untuk perbandingan lintas negara, digunakan garis kemiskinan internasional Bank Dunia, meskipun angka ini belum tentu sepenuhnya menggambarkan tingkat kemiskinan riil di setiap negara karena perbedaan standar hidup dan konteks sosial ekonomi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini