Industrialisasi Hijau, Strategi Ekonomi di Tengah Dinamika Geopolitik
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat akan menentukan kembali nasib industri andalan negara tersebut, yakni migas. Analisis Oilprice.com mengatakan, pemerintah Amerika Serikat dan Venezuela akan memprivatisasi industri minyak nasional. Langkah ini akan menarik Negeri Bolivarian itu serta pengelolaan pasokan minyaknya ke dalam orbit pengaruh negara adidaya tersebut.
Pengalaman Venezuela menjadi contoh ketergantungan pada komoditas mentah menyebabkan negara berkembang lebih rentan pada ketegangan ekonomi dan politik global. Selain memberikan daya tawar internasional yang lemah, negara berkembang seperti Indonesia juga rawan terjebak pada kegiatan ekonomi beremisi tinggi yang menyumbang pada krisis iklim dunia.
Profesor Ekonomi SOAS London Ha-Joon Chang dalam forum "SOAS Development Leadership Dialogue's 11th Future Leaders Programme" di Malaysia (11/25) mengatakan, negara yang tidak melakukan industrialisasi rawan terpapar guncangan eksternal.
Ketegangan geopolitik dan krisis iklim dapat menjadi momentum bagi negara berkembang untuk membangun ekonomi dan berkontribusi pada aksi iklim. Salah satunya adalah lewat kebijakan industrialisasi hijau. Kebijakan ini berfokus pada pengembangan kapasitas manufaktur pada sektor-sektor yang berkontribusi pada pengurangan emisi.
Industrialisasi juga memungkinan integrasi manufaktur dan sektor ekonomi lain yang sudah berkembang untuk diarahkan mendukung sektor-sektor hijau. Menempuh jalur ini memberikan setidaknya tiga dampak. Pertama, memperkuat ketahanan ekonomi lewat diversifikasi ekonomi dan membuka lapangan kerja hijau.
Kedua, menaikkan nilai tambah domestik lewat inovasi teknologi dan mengurangi ketergantungan impor. Ketiga, meningkatkan daya tawar bagi negara untuk bernegosiasi dalam kerja sama dagang dan transfer teknologi.
Industrialisasi hijau menjadi strategi yang semakin banyak diadopsi negara-negara lainnya. Cina mengambil peran kian besar sebagai produsen energi terbarukan dunia, menyumbang 40 persen kapasitas dunia. Ia menguasai masing-masing 80 persen dan 60 persen pangsa pasar global untuk tenaga surya dan bayu dunia. Saat ini, Cina memiliki pusat produksi lintas benua, termasuk di Indonesia, untuk memasok dan mengolah bahan baku.
Pada awal 2024 Brazil meluncurkan Nova Indústria Brasil, paket kebijakan untuk membangkitkan industri di beberapa sektor strategis, termasuk di pengembangan energi terbarukan. Salah satu industri yang diandalkan adalah pengembangan bioetanol untuk memanfaatkan agroindustri tebu Brazil yang pesat.
Sementara itu, Malaysia telah mendiversifikasi ekonominya lewat pengembangan industri electrical & electronics products atau E&E sejak 1980an. Sektor E&E berkontribusi pada manufaktur berteknologi tinggi seperti semikonduktor yang banyak digunakan di perangkat elektronik seperti komputer, ponsel genggam, bahkan kendaraan listrik.
Editor: Jeany Hartriani
