INFOGRAFIK: Rotasi Petinggi OJK-BEI Imbas Bursa Anjlok
Beberapa pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) kompak mundur pasca Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi hingga trading halt pada 29-30 Januari 2026.
Koreksi Itu terjadi imbas penundaan rebalancing indeks oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menilai transparansi data kepemilikan saham Indonesia belum cukup ideal.
Friderica Widyasari Dewi diangkat menjadi Anggota Dewan Komisioner Pengganti Ketua & Wakil Ketua Dewan Komisoner OJK. Sementara, Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik menjadi Pejabat Sementara Direktur Utama.
Keduanya hadir dalam rapat virtual bersama MSCI pada Senin (2/2). Dalam pertemuan tersebut, otoritas menyatakan segera mengejar target peningkatan batas porsi saham publik atau free float menjadi 15% pada Maret 2026.
“Data yang sekarang mau 1% itu kita buka. Itu bahkan Februari sudah bisa. Jadi, ini sekarang sudah 1 Februari, sebentar lagi kita bisa. Kemudian yang ketentuan untuk peningkatan free float dari 7,5% sampai 15% itu kita kejar bisa Maret,” kata Friderica kepada wartawan di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2).
Kiki, sapaan akrabnya, mengatakan sejumlah indeks saham di kawasan Asia juga bergerak melemah. Indeks Kospi Korea Selatan, misalnya, turun cukup dalam hingga 5,4%. Pelemahan juga terjadi di bursa Hong Kong, India, Singapura, dan Cina.
