Transformasi Budi Daya Perikanan Menuju Ekonomi Biru
Pengembangan perikanan budi daya menghadapi sejumlah tantangan. Produktivitas tambak dan kolam di berbagai daerah belum optimal dibandingkan dengan potensi yang tersedia.
Selain itu, ketersediaan bibit atau benih unggul masih terbatas sehingga sebagian pembudidaya lebih banyak berfokus pada kegiatan pembesaran. Industri pakan juga masih bergantung pada bahan baku impor, yang membuat biaya produksi relatif tinggi.
Di sisi lain, pengelolaan lingkungan budi daya menjadi perhatian. Sebagian tambak di wilayah pesisir belum dilengkapi sistem pengolahan limbah yang memadai, sehingga berpotensi menurunkan kualitas ekosistem jika tidak dikelola secara berkelanjutan.
Guna menjawab tantangan tersebut, pemerintah mendorong transformasi budi daya melalui pendekatan ekonomi biru. Upaya ini dilakukan dengan mengembangkan kawasan modeling budi daya berbasis teknologi, revitalisasi tambak rakyat yang kurang produktif, serta memperkuat kampung perikanan budi daya di berbagai daerah.
Pendekatan ini sejalan dengan agenda kolaborasi global yang mendorong investasi dan inovasi sektor kelautan berkelanjutan, seperti yang diangkat dalam forum Ocean Impact Summit. Acara ini akan berlangsung di Bali pada 8-9 Juni 2026.
Melalui berbagai langkah tersebut, sektor perikanan budi daya diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Pendekatan ini juga menjadi bagian dari upaya memaksimalkan potensi lahan perikanan budi daya yang baru termanfaatkan sekitar 6 persen dari total potensinya 17,91 juta hektar.
