INFOGRAFIK: Pelemahan Rupiah Merambat ke Rumah Tangga
Nilai tukar rupiah tercatat masih sebesar Rp 17.704 per US$ pada 22 Mei 2026. Merujuk Trading Economics, pelemahan rupiah sudah mencapai -7,88% dalam satu tahun terakhir.
Kondisi terus melemahnya rupiah telah memicu Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebanyak 50 basis poin menjadi 5,25% dari 4,75%. Kenaikan ini lebih tinggi dari konsensus analis.
"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah dan langkah preemptive menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 sesuai sasaran," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Rabu, 20 Mei 2026.
Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai pelemahan rupiah bisa memicu imported inflation alias kondisi inflasi yang diakibatkan biaya impor barang yang meningkat.
Menurut data Badan Pusat Statistik, nilai impor barang konsumsi Indonesia mencapai US$ 22,4 miliar pada 2025. Ini adalah impor untuk barang-barang seperti makanan-minuman, buah, elektronik, dan kebutuhan sandang. Nilai ini setara dengan 9,3% dari total nilai impor pada periode yang sama.
Berbagai komoditas pangan juga masih bergantung pada impor, seperti kedelai. Tahun lalu, volume impornya mencapai 2,6 juta ton–setara 79,2% dari kebutuhan nasional. Liquified Petroleum Gas (LPG) juga tercatat 79,6%-nya masih dipenuhi dari skema impor.
Indonesia pun masih mengimpor gandum sebanyak 11,6 juta ton untuk 100% kebutuhan nasional pada 2025. Gandum adalah bahan baku produksi tepung terigu yang dipakai untuk membuat mi instan dan roti.
