ESG & Transisi Batu Bara: Seberapa Siap Industri Bergerak?
Dalam beberapa tahun terakhir, praktik Environmental, Social, and Governance (ESG) mulai semakin mendapat perhatian di sektor pertambangan batu bara.
Perusahaan tidak lagi hanya dinilai dari capaian produksi dan kinerja keuangan, tetapi juga dari bagaimana mereka mengelola dampak lingkungan, menjalankan tanggung jawab sosial, serta membangun tata kelola yang lebih akuntabel.
Dalam riset Katadata Green berjudul Implementasi ESG untuk Transisi Energi dan Akselerasi Dekarbonisasi Industri Batu Bara, perkembangan implementasi ESG di industri ini terlihat belum sepenuhnya menunjukkan arah yang konsisten.
Setelah mengalami penguatan sejak 2021, laju perbaikan terlihat melambat pada 2024. Pergerakan tersebut terlihat dari tren median skor ESG perusahaan batu bara dalam empat tahun terakhir.
Pada aspek lingkungan (environment), skornya meningkat cukup tajam dari 40,3 pada 2021 menjadi 54,8 pada 2022 dan kembali naik ke 55,5 pada 2023. Namun, tren positif tersebut tidak berlanjut karena pada 2024 nilainya turun menjadi 50.
Adapun, aspek sosial (social) menunjukkan perkembangan yang lebih bertahap tetapi cenderung stabil. Skornya naik dari 23,8 pada 2021 menjadi 31,7 pada 2022, lalu terus meningkat menjadi 34,7 pada 2023 dan 35,4 pada 2024.
Sementara itu, aspek tata kelola (governance) relatif tidak banyak berubah. Selama periode 2021–2024, skor median bergerak di kisaran 49–50, yang menunjukkan bahwa penguatan sistem tata kelola belum berkembang secepat dua pilar lainnya.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan praktik ESG belum terjadi secara merata. Di beberapa perusahaan, ESG mulai terintegrasi ke dalam strategi bisnis, tetapi di sebagian lain implementasinya masih bersifat parsial dan belum konsisten di seluruh aspek.
Jika dilihat dari capaian skor ESG tahun 2024, terdapat kelompok perusahaan yang menunjukkan tingkat kesiapan berbeda-beda. Kelompok terdepan dengan skor ESG minimal 55 diisi oleh Alamtri Resources, Indika Energy, dan Indo Tambangraya Megah.
Di bawahnya, kelompok adaptif kuat yang memperoleh skor 50–54,9 menunjukkan perkembangan implementasi ESG yang cukup baik, tetapi masih membutuhkan konsistensi agar tidak berhenti pada inisiatif jangka pendek.
Sementara itu, kelompok menengah masih menjalankan praktik ESG secara selektif dan belum merata antar pilar. Adapun perusahaan dengan skor rendah menunjukkan bahwa ESG belum menjadi bagian utama dalam sistem pengelolaan perusahaan.
Pembahasan ini menjadi semakin penting jika melihat posisi batu bara yang masih dominan dalam sistem energi nasional. Pada 2023, sekitar 64 persen pembangkitan listrik nasional masih berasal dari batu bara (U.S. Energy Information Administration, 2025).
Produksi nasional bahkan mencapai 830 juta ton pada 2024 atau melampaui target yang ditetapkan berdasarkan data Minerba One Data Indonesia Kementerian ESDM.
Di sisi konsumsi domestik, data EIA (2025) menunjukan sekitar 57,4 persen masih diserap oleh PLTU pada 2024. Sementara subsektor minerba juga menyumbang sekitar 75–85 persen penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor energi pada 2024.
Karena itu, penguatan ESG tidak hanya relevan sebagai ukuran keberlanjutan perusahaan, tetapi juga sebagai cara membaca kesiapan industri batu bara menghadapi transisi energi.
Di tengah peran batu bara yang masih besar, implementasi ESG dapat menjadi salah satu jembatan untuk memastikan transformasi menuju sistem energi yang lebih rendah emisi tetap berjalan secara bertahap, terukur, dan berkelanjutan.
