INFOGRAFIK: Karhutla Picu Lonjakan Kasus ISPA
Kementerian Kesehatan menyebut kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyebabkan peningkatan kasus infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).
Dalam periode Juli-Agustus 2026, total kumulatif kasus ISPA di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak karhutla mencapai 50.891 kasus. Dari jumlah ini, 12.600 kasus atau 24,8% dari total kasus terjadi pada anak-anak berusia di bawah lima tahun.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Andi Saguni menyebut, lonjakan kasus ISPA juga terjadi di daerah-daerah yang bahkan tidak memiliki titik api.
“Karena memang asap ini bertiup ke provinsi sebelahnya begitu, sehingga menimbulkan risiko atau kejadian penyakit ISPA ini,” kata Andi Saguni dalam konferensi pers bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Selasa, 1 September.
Total kasus kumulatif ISPA di Indonesia dari awal tahun hingga 29 Agustus 2026 tembus 11,5 juta kasus. Dibandingkan dengan jumlah kumulatif kasus ISPA pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai 7,9 juta kasus, jumlah ini sudah naik 45% yoy. Dari tujuh provinsi terdampak karhutla, provinsi Kalimantan Timur mencatatkan jumlah terbanyak kasus kumulatif ISPA, yaitu mencapai 245 ribu kasus pada minggu ke-33 2026.
Memasuki musim kemarau panjang pada awal Agustus, sejumlah provinsi di Sumatra dan Kalimantan terdampak karhutla hebat. Ribuan titik-titik api tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, hingga Sumatera Selatan.
Kemenkes melalukan berbagai upaya promotif, preventif, dan penyediaan layanan kesehatan sebagai bagian dari pengendalian dampak kesehatan karhutla.
“Paling utama adalah pemantauan lapangan di lokasi terdampak karhutla. Termasuk pembagian masker dan terutama pengecekan ketersediaan obat-obatan. Jadi kalau asma, tentunya ada obat asma di puskesmas dan rumah sakit, dan juga oksigen di fasilitas pelayanan kesehatan,” kata Andi Saguni.
