Upaya Grup Indika Menyapih Bisnis NET TV

Penulis: Hari Widowati

Senin 16/7/2018, 17.50 WIB

PT Net Mediatama Televisi (NET TV) akan mencari pendanaan dari IPO dan MCB senilai total Rp 1 triliun. Tokopedia sebagai pembeli MCB akan menjadi pemegang saham NET dalam aksi korporasi itu.

tv digital
Sommai Larkjit | 123rf.com

Konglomerasi usaha milik keluarga Sudwikatmono, Indika Group, memiliki rencana besar untuk bisnis anak usahanya PT Net Mediatama Televisi (NET TV). Pengelola stasiun televisi tersebut tengah mencari dana Rp 1 triliun melalui dua skema, yakni penawaran saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan penerbitan mandatory convertible bond (MCB). Melalui aksi korporasi tersebut, Tokopedia akan menjadi pemegang saham terbesar kedua bagi NET TV.

Direktur PT NH Korindo Sekuritas Amir Suhendro Samirin mengatakan, NET TV hendak melepas satu miliar saham atau setara 4,88% saham setelah initial public offering (IPO) dengan target dana Rp 200 miliar. Perusahaan juga akan mengonversi MCB senilai Rp 800 miliar yang dibeli oleh Tokopedia menjadi 4,37 miliar saham atau setara 19,32% dari modal disetor perseroan.

"MCB ini akan dieksekusi saat pelaksanaan IPO," kata Amir. NH Korindo Sekuritas merupakan penjamin emisi yang ditunjuk NET TV untuk melaksanakan aksi korporasi tersebut. Dengan demikian, pasca-IPO, saham NET TV yang dicatatkan di BEI akan mencapai 24,2%. Indika Group tetap menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan 75,8%.

Menurut Associate Director of Equity NH Korindo Sekuritas Dedy Efian, opsi penerbitan MCB dilakukan karena perusahaan membutuhkan dana segar sebelum IPO. Namun, ia enggan bercerita lebih lanjut mengenai alasan Tokopedia menjadi pembeli MCB tersebut. "Soal itu, harus ditanyakan langsung ke William (William Tanuwijaya, pendiri dan CEO Tokopedia)," ujarnya.

Seperti diketahui, Tokopedia merupakan perusahaan teknologi yang bergerak di bisnis e-commerce dan menjadi salah satu dari empat unicorn di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, Tokopedia gencar beriklan di berbagai media, khususnya televisi. Menurut data Sigi Kaca Pariwara, belanja iklan Tokopedia di televisi mencapai Rp 559,99 miliar pada 2015, Rp 416 miliar pada 2016, dan Rp 225,7 miliar untuk periode Januari-September 2017. Jika melihat alokasi belanja iklan yang cukup besar tersebut, Tokopedia diperkirakan bisa melakukan sinergi dengan NET TV untuk menghemat belanja iklannya di masa depan.

NET TV, yang didirikan oleh Agus Lasmono dan Wishnutama Kusubandio pada 2012, mengklaim memiliki konsep dan format yang berbeda dengan televisi yang ada di Tanah Air. Nama NET sejatinya merupakan singkatan dari news and entertainment. Dalam wawancara dengan Marketeers, Wishnutama mengungkapkan, ia banyak belajar dari media di Amerika Serikat (AS). Misalnya soal kebijakan iklan yang berdurasi tiga menit. Ia meyakini iklan tersebut akan lebih banyak ditonton daripada iklan dengan durasi tujuh menit. 

Wishnutama juga ingin mengubah cara pandang agensi dan pengiklan yang selama ini hanya melihat peringkat (rating) acara maupun cost per rating poin (CPRP) dalam beriklan. Dengan demikian, harus jelas siapa yang menjadi target iklan, parameter, dan acara yang digunakan untuk menyampaikan iklan tersebut. NET TV juga menggunakan berbagai platform untuk memperluas siarannya, seperti YouTube, aplikasi di Android, dan iPhone.

NET TV berencana menggunakan dana hasil IPO untuk mendanai ekspansi dan pengembangan usahanya. Jika penawaran sahamnya berjalan mulus, NET TV akan melantai di bursa pada 29 Agustus 2018.

Berdasarkan riset Media Partners Asia pada Maret 2018, televisi free to air (FTA) masih menjadi platform unggulan untuk beriklan walaupun pangsa pasarnya semakin tergerus oleh internet. Pada 2015, pangsa pasar iklan televisi mencapai 64 % atau US$ 1,24 miliar dari total belanja iklan sebesar US$ 1,94 miliar. Tahun berikutnya, pangsa pasar iklan televisi menjadi 62 % atau US$ 1,28 miliar dari total belanja iklan US$ 2,06 miliar.

Pada 2017, pangsa pasar iklan televisi kembali tergerus menjadi 59 % atau US$ 1,25 miliar dari total belanja iklan US$ 2,1 miliar. Media Partners Asia memprediksi pangsa pasar iklan televisi akan turun menjadi 56 % atau US$ 1,29 miliar dari total belanja iklan US$ 2,3 miliar pada 2018.

Sementara itu, riset Nielsen mengenai pangsa pasar pemirsa televisi (audience share) pada periode Januari-Mei 2018 menunjukkan ANTV, anak usaha PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) melalui SCTV berada di urutan teratas untuk kategori televisi hiburan masing-masing sebesar 15,6 %. Di urutan selanjutnya terdapat Indosiar dengan pangsa pemirsa 13,3 %, RCTI 11, 8%, dan MNC TV 9,6 %. Sementara itu, pangsa pemirsa GTV mencapai 6,8 %, Trans7 dan Trans TV masing-masing 5,8 %, disusul RTV 4,1 %, dan NET TV 2,8%.

Lebih Selektif

Sejumlah analis belum dapat memperkirakan valuasi IPO NET TV mengingat perusahaan tersebut belum melaksanakan due diligence meeting untuk investor publik. Minimnya jumlah saham yang dilepas untuk investor publik diprediksi akan membuat pergerakan saham NET TV kurang likuid. Berdasarkan data RTI, saat ini PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) memiliki price earnings (PE) ratio terendah di antara emiten media, yakni 12,01 kali dengan kapitalisasi pasar Rp 13,28 triliun. PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) memiliki PE 16,9 kali dan kapitalisasi pasar Rp 6,63 triliun. Adapun PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) memiliki PE 22,24 kali dengan kapitalisasi pasar terbesar, yakni Rp 31,88 triliun.

Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Christine Natasya mengatakan sentimen negatif dari pasar global dan pelemahan nilai tukar rupiah saat ini membuat harga sejumlah saham anjlok. Hal ini membuat investor lebih berhati-hati untuk menempatkan dananya di saham, termasuk saham emiten media.

Harga saham MNCN sejak awal tahun ini merosot 28,02 % ke level Rp 925 pada 13 Juli lalu. Pasalnya, investor khawatir terhadap utang dolar jangka panjang perseroan yang mencapai US$ 250 juta. Pada kuartal I 2018, perseroan juga membukukan penurunan pendapatan sebesar 18,96 % menjadi Rp 7,05 triliun.

Harga saham SCMA juga turun 11,38 % sejak awal tahun ini ke level Rp 2.180. Namun, pada kuartal I 2018 perseroan mencatat kinerja yang lebih baik dengan pertumbuhan pendapatan 15 % menjadi Rp 1,16 triliun. "Walaupun audience share Trans dan MNCN naik baru-baru ini, SCMA masih berada di urutan kedua untuk prime time dan all time audience shares sedangkan rerata prime-time audience shares SCMA merupakan yang tertinggi sebesar 19,7 %," ujar Christine dalam risetnya.

SCMA dengan SCTV memegang posisi tertinggi untuk pangsa pemirsa prime time pada periode November 2017 hingga April 2018. RCTI merebut berhasil merebut posisi tersebut sejak Mei-Juni 2018 dengan pangsa pemirsa 18,4 %. Dengan kompetisi yang semakin ketat di antara emiten media, SCMA dan MNCN akan menggantungkan kinerjanya pada stasiun televisi andalannya.

"Kami masih tetap optimis dan berhati-hati (cautiously optimistic) terhadap sektor media pada semester II 2018 dan memilih SCMA karena perusahaan tidak memiliki utang dalam dolar AS," kata Christine. Mirae merekomendasikan beli saham SCMA dengan target harga Rp 2.980 per saham. Adapun saham MNCN direkomendasikan trading buy dengan target harga Rp 1.400 per saham.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha