Tawaran Stabilitas Politik dan Ekonomi dari Jokowi vs Prabowo

Penulis: Amal Ihsan Hadian

Senin 13/8/2018, 23.07 WIB

Duet Joko Widodo-Ma'ruf Amin menawarkan stabilitas politik di periode kedua. Sedangkan Sandiaga Uno yang mendampingi Prabowo Subianto menyodorkan janji kondisi ekonomi yang lebih baik.

politik
123rf.com | aurielaki

Dua pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 dinilai menawarkan kekuatan elektabilitas yang berbeda. Dengan menggaet Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin sebagai pendampingnya, Joko Widodo (Jokowi) dianggap ingin menciptakan stabilitas politik di periode kedua pemerintahannya. Sedangkan duet Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berpeluang meningkatkan elektabilitas karena dianggap bisa menawarkan perbaikan kondisi ekonomi.

Duet Jokowi-Ma'ruf Amin mendaftarkan diri di Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jumat (10/8) siang. Dalam pidatonya di Gedung Joeang 45, Menteng, Jakarta Selatan, Jokowi memuji Ma'ruf sebagai figur yang utuh dan ulama yang bijaksana. Sebagai Ketua Umum MUI dan Rais Aam Syuriah Nahdlatul Ulama (NU), ia juga dihormati umat Islam. "Karena itu, saya menilai, beliau adalah figur yang tepat untuk mendampingi saya," kata Jokowi.

Terpilihnya Ma'ruf sebagai pendamping sang petahana sempat mengejutkan publik. Sebab, semula nama mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD yang santer disebut akan menjadi pasangan Jokowi.

Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M. Romahurmuziy mengakui, kriteria elektabilitas memang tidak menjadi pertimbangan utama ketika memilih Ma'ruf. Yang paling utama adalah akseptabilitas dari partai dan kekuatan politik pendukung Jokowi yang beraneka ragam. "Yang lain adalah pertimbangan kenyamanan dan stabilitas kontestasi besok supaya tidak ada nuansa kebencian yang terus ditebarkan atas dasar SARA,” katanya.

Menurut Direktur Eksekutif Indobarometer M. Qodari, figur Ma'ruf sebagai ulama senior yang dihormati banyak kalangan, termasuk kelompok oposisi dan petinggi dari organisasi Islam terbesar di Indonesia, berpotensi menarik dukungan dari umat Islam. Sebab, salah satu titik lemah Jokowi yaitu relasinya yang kurang akrab dengan kelompok Islam.

Isu-isu seperti kebangkitan komunisme, pembubaran ormas, serta persekusi ulama justru kerap mewarnai tema hubungan pemerintah dengan kelompok Islam selama beberapa tahun terakhir.

Direktur Eksekutif Economic Action Indonesia (EconAct Indonesia) Ronny P. Sasmita menilai, dengan memilih Ma'ruf, lebih mengindikasikan keinginan Jokowi menciptakan stabilitas politik di periode kedua pemerintahannya. Mantan Walikota Solo itu tampaknya yakin stabilitas dan pertumbuhan ekonomi sudah on the track dan mampu diatasi oleh tim ekonomi kabinet.

Yang diperlukan Jokowi ke depan justru stabilitas politik untuk menjaganya, dengan Ma'ruf sebagai pengawalnya, demi meminimalisir serangan politik identitas yang sering diarahkan ke pemerintah.

Pilihan ini juga didukung kajian lembaga survei politik Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Menurut peneliti LSI Adjie Alfaraby, pilihan pendamping yang tepat untuk Jokowi memang dari tokoh agama berpengaruh.

Survei tatap muka dengan multistage random sampling terhadap 1.200 orang yang dilakukan LSI, yang dilengkapi dengan focus group discussion menempatkan Ma'ruf di posisi pertama cawapres ideal dengan 21% elektabilitas. Di bawah Ma'ruf, ada Din Syamsuddin (17,2%), Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (12.3%), dan Mahfud MD (9%).

Di kutub yang berbeda, duet Prabowo-Sandiaga mengirimkan pesan fokus kampanyenya pada perbaikan kondisi ekonomi nasional. Menurut pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, sebagai pengusaha yang kenyang dengan berbagai masalah ekonomi dan bisnis, Sandiaga dipandang akan menjalankan kebijakan ekonomi yang mendukung penciptaan iklim investasi dan berusaha yang baik.

Meski begitu, pengusaha dan para investor sesungguhnya masih menunggu arah program ekonomi yang akan diusung oleh Prabowo-Sandiaga. Kalau mampu mengusung program kerja ekonomi yang menarik, daya tarik duet ini, terutama dari aspek tawaran perbaikan kondisi ekonomi akan sangat kuat.

Sentimen positif dari munculnya Sandiaga setidaknya sudah dinikmati para investor dari kenaikan harga saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG). Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (8/8), harga saham perusahaan yang didirikan Sandiaga ini Rp 3.680 per saham. Sehari kemudian, ketika nama Sandiaga diumumkan sebagai cawapres Prabowo, harga saham Saratoga naik menjadi Rp 3.790 per saham. Berdasarkan laporan keuangan Saratoga tahun 2017, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini masih memiliki 27,79% saham perusahaan investasi tersebut.

Pertanyaannya, apakah publik dan pasar puas dengan kondisi ekonomi saat ini sehingga yang diperlukan sekarang adalah stabilitas politik, atau kondisi ekonomi saat ini memang membutuhkan terobosan kebijakan dari pemerintah baru? Hal tersebut tergantung pada kondisi ekonomi saat ini. Kalau publik dan pelaku usaha menilai, kondisi ekonomi sedang sulit, maka tawaran potensi perbaikan ekonomi dipastikan akan lebih diminati.

Masalahnya, Bhima menilai, tantangan terbesar saat ini bagi calon pemimpin tahun 2019 sebenarnya justru datang dari sektor ekonomi. Gejolak dari perekonomian global misalnya, akan terus terasa hingga 2020 mendatang. Nilai tukar rupiah yang terus melemah misalnya, akan mempengaruhi biaya impor barang, meningkatnya beban utang perusahaan, hingga kenaikan harga kebutuhan pokok.

Di sisi lain, konsumsi rumah tangga belum pulih sehingga pertumbuhan akan makin tertekan. Tantangan dampak gejolak ekonomi global dan masalah sistemik ekonomi domestik ini akan menjadi perhatian utama publik. "Di sini publik dan pelaku usaha paling membutuhkan solusi yang konkrit dari dua pasangan calon," ujarnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha