Korporasi Besar Menangguk Untung dari Kenaikan Pajak Impor

Penulis: Hari Widowati

Rabu 12/9/2018, 18.19 WIB

Kenaikan pajak impor barang khususnya barang konsumsi menjadi momentum bagi sejumlah perusahaan, termasuk konglomerasi, untuk merebut kembali pasar domestik dari serbuan produk impor.

digital bisnis
123rf.com | Ratchanida Thippayos

Kebijakan pemerintah menahan laju impor dengan menaikkan tarif Pajak Penghasilan (PPh) atas 1.090 jenis barang konsumsi impor bakal membuka peluang bagi sejumlah produsen domestik untuk merebut kembali pasar dalam negeri. Mulai dari produsen keramik PT Arwana Citra Mulia Tbk, produsen ban PT Gajah Tunggal Tbk dan PT Multistrada Arah Sarana Tbk, produsen sabun dan kosmetik PT Unilever Indonesia Tbk dan PT Kino Indonesia Tbk, produsen tekstil dan garmen PT Sri Rejeki Isman Textile Tbk hingga produsen otomotif PT Astra International Tbk.

Analis PT Danareksa Sekuritas Helmy Kristanto menyebutkan, ada tiga poin dari kebijakan kenaikan tarif PPh impor. Pertama, pengendalian impor ditujukan untuk produk-produk konsumsi sehingga akan mendorong produk domestik yang menjadi substitusinya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Kedua, pengendalian impor akan mendorong daya saing harga produk-produk dalam negeri sebesar 15%-20% terhadap produk impor. Ketiga, instrumen fiskal yang digunakan untuk pengendalian impor adalah PPh 22 sehingga akan menciptakan level of playing field yang sama bagi para importir dan meminimalisasi potensi sanksi dari World Trade Organization (WTO).

Dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang Perubahan Rancangan PMK No 34/PMK.010/2017 tersebut ada tiga kategori. Untuk kategori barang impor yang merupakan bahan baku yang penting bagi proses produksi mencakup 57 komoditas, tarif PPh Pasal 22 tetap sebesar 2,5%.

Sebanyak 719 komoditas dalam kategori barang konsumsi yang merupakan produk intermediari tarifnya naik dari 2,5% menjadi 7,5%, misalnya tekstil, ban, dan keramik. Sedangkan sebanyak 428 komoditas akan dikenakan tarif maksimum 10% adalah impor barang jadi untuk konsumsi yang dapat diproduksi di dalam negeri, seperti kosmetik, sabun, peralatan rumah tangga, hingga mobil yang diimpor utuh (completely built up/CBU).

Menurut Helmy, respons kebijakan yang cepat menunjukkan langkah proaktif pemerintah untuk menghadapi dinamika lingkungan makro tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi. "Meskipun ada kemungkinan langkah balasan dari negara-negara yang terdampak kebijakan ini."

Kenaikan tarif PPh impor ini akan menahan laju impor keramik, khususnya keramik asal Tiongkok yang dalam beberapa tahun terakhir menggerus pasar produsen keramik lokal dengan harga yang sangat murah. Ketua Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Elisa Sinaga mengatakan, pasokan keramik impor meningkat rata-rata 22% per tahun.

Sebelumnya, Asaki telah meminta pemerintah melakukan safeguard yang merupakan kebijakan untuk memulihkan atau mencegah kerugian akibat serbuan impor produk sejenis yang diproduksi industri dalam negeri.

Arwana Citramulia merupakan produsen keramik yang memiliki pangsa pasar sekitar 20% di Indonesia. Pada 2018, perusahaan menargetkan penjualan bersih Rp 1,9 triliun atau tumbuh sekitar 10% dibandingkan tahun lalu.

Hingga semester I lalu, penjualan bersih Rp 932,52 miliar, naik 14,4% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Laba bersih juga tumbuh 13,3% menjadi Rp 69,62 miliar. Perseroan akan meningkatkan kapasitas produksi pabrik di Sumatera Selatan dari 8 juta meter persegi (m2) per tahun menjadi 14 juta m2 per tahun. Peningkatan kapasitas ditargetkan tuntas tahun depan.

Industri ban dalam negeri selama ini juga menghadapi serbuan impor ban ilegal yang diperkirakan mencapai 1 juta unit per tahun. Gajah Tunggal tahun ini memproyeksikan pertumbuhan pendapatan 5%-10% menjadi sekitar Rp 14,8 triliun-Rp 15,8 triliun.

Pada semester I 2018, penjualan perseroan mencapai Rp 7,18 triliun atau setara US$ 525 juta. Meskipun penjualan naik, rugi bersih membengkak 127,9% menjadi Rp 93,8 miliar. Penyebab utamanya adalah rugi kurs Rp 358,39 miliar. Padahal, di semester I 2017 perseroan masih membukukan laba kurs Rp 50,3 miliar.

Direktur Corporate Communication dan Investor Relations Gajah Tunggal Catharina Widjaja mengatakan, pertumbuhan penjualan tahun ini terutama ditargetkan dari pasar domestik karena penjualan ekspor melambat. Perseroan memperkuat pasokan di pasar original equipment manufacturer (OEM) dan pasar ban pengganti (replacement) dalam negeri, khususnya untuk Toyota dan Honda. Tahun ini perseroan mendapatkan tambahan beberapa merek mobil untuk pasar OEM, yakni VW Passat dan Daimler.

Pada semester I 2018, kontribusi penjualan ban di pasar domestik mencapai 51% dari total penjualan perseroan. Pasar ekspor menyumbang 41% sedangkan kontribusi pasar OEM dan replacement sebesar 9% terhadap penjualan.

Gencar Beriklan

Produk kosmetik dan perlengkapan mandi (toilettries) impor, termasuk sabun, produk perawatan kulit, manikur dan pedikur termasuk komoditas yang akan dikenai tarif PPh 22 sebesar 10%. Sepanjang tahun lalu, nilai impor kosmetik dan toilettries mencapai US$ 226,7 juta atau sekitar Rp 3,17 triliun. Jika dibandingkan dengan impor produk tersebut pada 2016 sebesar US$ 175,48 juta, ada kenaikan 29%.

Unilever Indonesia sebagai salah satu produsen kosmetik dan toilettries di Indonesia hingga semester I 2018 membukukan penjualan bersih Rp 21,18 triliun, relatif sama dengan periode yang sama tahun lalu Rp 21,26 triliun. Hal ini disebabkan perlambatan permintaan di segmen home personal care (HPC), termasuk kosmetik dan toilettries.

Kebijakan pengendalian impor ini diperkirakan menjadi sentimen positif bagi Unilever untuk mendorong penjualan produk-produknya. Tim Analis PT Indo Premier Sekuritas memprediksi Unilever bakal meningkatkan belanja iklan televisi. Berdasarkan laporan Nielsen, pada semester I 2018 belanja iklan televisi naik 10% menjadi Rp 62 triliun.

"Segmen HPC berkontribusi 68% terhadap pendapatan Unilever. Lemahnya penjualan pada produk rumahan pada semester I akan diterjemahkan menjadi pengeluaran yang lebih agresif pada belanja iklan di televisi," kata Tim Analis Indo Premier.

Sekretaris Perusahaan Unilever Sancoyo Antarikso mengatakan, perseroan masih mempelajari dampak kenaikan tarif PPh impor barang konsumsi tersebut. Pada awal tahun ini, perseroan optimistis pertumbuhan penjualan tahun ini akan lebih baik dibandingkan 2017 yang hanya naik 2,9% menjadi Rp 41,2 triliun.

Sementara itu, Sri Rejeki Isman Textiles (Sritex) akan tetap fokus memperbesar kontribusi ekspor terhadap penjualan perusahaan. Sekretaris Perusahaan Sritex Welly Salam mengatakan, kontribusi ekspor terhadap penjualan perseroan tahun lalu mencapai 54% sedangkan tahun ini diperkirakan bisa mencapai 58-60%.

"Sektor tekstil tidak terlalu terpengaruh (kenaikan PPh impor)," ujar Welly. Saat ini perseroan telah mengekspor produknya ke 100 negara, antara lain ke Malaysia, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok, Amerika Serikat (AS), dan beberapa negara Eropa.

Perseroan akan meningkatkan utilisasi pabrik mendekati maksimal karena peningkatan permintaan pelanggan. Saat ini utilisasi pabrik Sritex mencapai 80-85%. Penambahan kapasitas baru dengan membangun pabrik diperkirakan akan dilakukan pada 2019 setelah perseroan selesai menghitung kebutuhan belanja modal.