Menakar Ketahanan Perbankan Menghadapi Anjloknya Kurs Rupiah

Penulis: Martha Ruth Thertina

Kamis 13/9/2018, 11.06 WIB

Pelemahan tajam nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memunculkan risiko bagi stabilitas perbankan. Namun, perbankan dianggap cukup punya otot buat menghadapi tantangan.

rupiah dolar
Elnur Amikishiyev | 123rf.com

Pelemahan nilai tukar rupiah yang berkepanjangan tidak akan memicu krisis perbankan, yang didukung permodalan yang kuat dan kondisi lingkungan yang baik. Namun, masih ada ancaman dari kemungkinan memburuknya likuiditas dan kualitas aset perbankan.

Di pasar spot valuta asing global, menurut Bloomberg Generic Composite Rate Index, Rabu (5/9) pekan lalu, nilai tukar rupiah sempat menembus level terburuk Rp 15.081 per dolar Amerika Serikat (AS), meski akhirnya ditutup di level Rp 14.938. Pada saat bersamaan, nilai tukar rupiah di pasar kontrak berjangka (forward) melambung tinggi. Kurs rupiah di pasar forward untuk jangka waktu satu bulan telah menembus level Rp 15.100 per dolar AS, sedangkan untuk jangka tiga bulan mencapai Rp 15.400.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Meski kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada penutupan Rabu (12/9) lalu mereda ke level Rp 14.863 per dolar, kurs jual di perbankan sempat menembus level Rp 15.000 per dolar AS pada Rabu pekan lalu. Kurs jual dolar AS di Bank CIMB Niaga misalnya, tercatat Rp 15.150 per dolar AS. Sementara di Bank Central Asia (BCA) Rp 15.100, dan di Bank Mandiri Rp 15.012

Dihitung dari posisi akhir Desember 2017 hingga Rabu pekan lalu, nilai tukar rupiah telah anjlok lebih dari 10%. Ini salah satu pelemahan kurs terbesar di Asia. Sentimen pendorong dari dinamika terutama didorong kenaikan bertahap bunga acuan di Amerika dan memanasnya isu perang dagang AS vs Tiongkok. Sementara dari dalam negeri, sentimen negatif terutama dari defisit neraca transaksi berjalan yang kian menganga.

Pertanyaannya, apakah krisis nilai tukar akan menular ke sektor keuangan seperti terjadi di negara lain seperti Turki? Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengungkapkan, regulator telah melakukan stress test terhadap perbankan nasional dengan nilai tukar rupiah hingga Rp 20.000 per dolar AS. Hasilnya kondisi perbankan masih cukup kuat. Merujuk ke analisis lembaga rating internasional, ada empat indikator untuk melihat sampai sejauh mana kerentanan perbankan terhadap tekanan.

Lingkungan operasi

Hitungan lembaga pemeringkat Internasional Moody’s Investor Service, pertumbuhan ekonomi akan mencapai 5,2% pada 2018 dan 2019, sedikit lebih kuat dibandingkan tahun lalu yang 5,1%. Kondisi ini akan mendukung operasional perbankan dalam 12-18 bulan ke depan, sehingga kredit bisa tumbuh 10-12%, lebih tinggi dari realisasi tahun lalu 8,2%.

Bila mengacu pada statistik perbankan Indonesia per Juni, pertumbuhan kredit per akhir Juni tercatat mencapai 10,75% secara tahunan. Pertumbuhan kredit tertinggi terjadi pada bank kecil atau bank umum kegiatan usaha (BUKU) I dengan modal inti kurang dari Rp 1 triliun yang tumbuh 16,47% secara tahunan.

Selanjutnya bank menengah atau kategori BUKU III yang bermodal inti antara Rp 5 triliun hingga kurang dari Rp 30 triliun tumbuhan 13,04% per tahun. Sementara itu, bank besar atau BUKU IV dengan modal inti di atas Rp 30 triliun mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 11,64%. Adapun bank kecil kategori BUKU II dengan modal inti antara Rp 1 triliun sampai kurang dari Rp 5 triliun tercatat hanya membukukan pertumbuhan kredit 2,4%.

Permodalan

Moody’s melihat potensi tetap kuatnya permodalan bank ke depan. Saat ini, rasio kecukupan modal perbankan di Indonesia disebut sebagai yang tertinggi di Asia. Moody’s menilai peningkatan pendapatan dan turunnya biaya kredit akan memampukan perbankan untuk menghasilkan permodalan yang cukup guna mengakselerasi pertumbuhan aset.

Mengacu pada data statistik perbankan Indonesia per Juni, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) bank berada pada level 22,01%, jauh di atas batas aman 8%. Tebalnya CAR terpantau meluas dari mulai bank kecil, menengah maupun besar. Kondisi tersebut bukan hanya memberikan keleluasaan bagi bank dalam menggenjot penyaluran kreditnya, tapi juga menunjukkan kesiapan bank dalam mengatasi risiko tekanan.

Kualitas aset

Moody’s memprediksi kualitas aset akan stabil dalam 12-18 bulan ke depan, lantaran ekonomi yang menguat akan mendorong pendapatan korporasi tumbuh. Rasio kredit seret atau non-performing loan (NPL) dan kredit yang direstrukturisasi bakal tetap di bawah kondisi tertinggi di 2016, setelah terjadi penurunan signifikan pada 2017 lalu, yang disokong oleh perbaikan kualitas kredit di bank-bank menengah dan besar.

Mengacu pada statistik perbankan Indonesia per Juni, rasio NPL bruto telah menciut ke level 2,67% terhadap total kredit setelah sempat bertengger di level 3% pada 2016 dan 2017 lalu. Level tersebut jauh di bawah batas aman yang ditetapkan otoritas yaitu NPL neto maksimal 5%.Secara rinci, rasio NPL bank besar kategori BUKU IV tercatat sebesar 2,42%, sedangkan bank menegah kategori BUKU III tercatat berada di level 2,67%.

Sementara itu, rasio NPL di bank kecil kategori BUKU I dan II tercatat lebih tinggi dibandingkan industri perbankan yaitu masing-masing sebesar 3,2% dan 3,4%. Meskipun terbilang tinggi, namun rasio NPL ini masih di bawah batas aman yang ditetapkan pemerintah yaitu NPL neto 5% terhadap total kredit.

Eksposur perbankan domestik terhadap kredit dalam mata uang asing terbilang moderat. Kredit dalam valuta asing mencapai Rp 751,73 triliun, melonjak 16,46% secara tahunan. Namun, porsinya terhadap total kredit perbankan hanya 15,11%. Meskipun pertumbuhan kredit valas tinggi, namun rasio kredit seret tercatat masih terkendali, bahkan lebih baik dibandingkan dua tahun sebelumnya.

Likuiditas

Kondisi likuiditas valas perbankan tampaknya perlu menjadi catatan. Bila mengacu pada data statistik perbankan per Juni, LDR perbankan tercatat berada di level 92,76%, atau yang tertinggi sejak Juli 2014. Pengetatan terjadi seiring dengan rendahnya pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) di tengah peningkatan pertumbuhan kredit. Per Juni lalu, pertumbuhan DPK hanya mencapai 7%. Selain itu, arus keluar modal asing.

Likuiditas paling ketat terjadi pada bank menengah kategori BUKU III dengan LDR 99,8%, sementara itu bank BUKU IV, II dan I tercatat memiliki LDR masing-masing sebesar 89,4%, 89,3%, dan 79,8%. Secara khusus, LDR bank campuran dan bank asing tercatat jauh lebih ketat. LDR bank campuran mencapai 135,55% dan bank asing 125,05%.

Moody’s menilai, ada potensi pelonggaran likuiditas seiring dengan naiknya simpanan perbankan. Namun Tim Ekonom Bank Mandiri berpendapat, pengetatan likuiditas masih berlanjut. Sebab, likuiditas yang seret bukan hanya tercermin dari tingginya LDR, tapi juga penempatan dana perbankan di instrumen BI. Per akhir Agustus penempatan dana tercatat Rp 220 triliun, lebih rendah dari posisi akhir Juli 269 triliun.

Rasio kepemilikan surat berharga terhadap aset di bank buku I dan II juga terpantau kecil yaitu hanya 3,9% dan 6,2%. Rasio ini di bawah bank BUKU III dan IV yang mencapai 8% dan 8,9%. Ini menunjukkan bahwa risiko likuiditas di bank-bank kecil lebih tinggi karena kemampuan mencari pendanaan jangka pendek dari pasar uang antarbank dan repo intsrumen BI lebih kecil.

Tim ekonom Bank Mandiri pun menilai bank harus mendorong DPK untuk tumbuh lebih tinggi mengimbangi pertumbuhan kredit. “Hal ini untuk menjaga agar LDR tetap terkendali di bawah batas atas BI yaitu sebesar 92%,” demikian tertulis. Selain itu, pemerintah juga bisa mempercepat realisasi belanja dan mengurangi penerbitan surat berharga dalam mata uang rupiah.