Bayang-bayang Stagnasi Pertumbuhan Ekonomi di Semester II

Penulis: Martha Ruth Thertina

Jum'at 14/9/2018, 09.13 WIB

Indikasi pertumbuhan ekonomi pada semester II tahun ini akan stagnan, bahkan melambat. Survei keyakinan konsumen dan bisnis ke depan menunjukkan pesimisme. Mengapa?

Pertumbuhan macet
ANTARA FOTO

Harapan pemerintah terhadap percepatan pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun ini terancam pupus. Indikasinya dari beberapa hasil survei konsumen dan bisnis. Sedangkan sistem perizinan bisnis terintegrasi secara elektronik yang belum siap berisiko menghambat investasi, yang merupakan kontributor terbesar kedua pertumbuhan ekonomi.

Awal pekan ini, Bank Indonesia (BI) merilis hasil survei keyakinan konsumen untuk bulan Agustus 2018. Indeks keyakinan konsumen (IKK) terpantau kembali menurun yaitu 121,6. Padahal, pada bulan sebelumnya angka indeks masih 124,8. Meskipun, indeks yang di atas 100 menunjukkan konsumen masih optimistis.

Penurunan IKK terutama dipengaruhi oleh pelemahan keyakinan terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, serta untuk membeli barang tahan lama saat ini. Secara khusus, indeks ketersediaan lapangan kerja masih bertahan pada level pesimistis sejak Maret lalu. Per Agustus 2018, indeksnya tercatat 93,9.

Selain itu, penurunan IKK dipengaruhi oleh menyusutnya keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan mendatang alias hingga Februari 2019 tahun depan.

Hasil survei konsumen tersebut searah dengan survei sejenis yang sebelumnya dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam survei ini, perkiraan indeks tendensi konsumen pada kuartal III hanya 96,99, anjlok dari dua kuartal sebelumnya yang sebesar 103,83 (kuartal I) dan 125,43 (kuartal II). Hal ini menunjukkan pesimisme konsumen.

BPS menilai, pesimisme akibat adanya perkiraan penurunan pendapatan dan berkurangnya rencana pembelian barang-barang tahan lama seperti elektronik, perhiasaan, kendaraan bermotor, dan rumah, maupun melakukan rekreasi dan hajatan/pesta.

Di sisi lain, BPS melansir indeks tendensi bisnis pada kuartal III yang diperkirakan menurun pada hampir seluruh lapangan usaha, kecuali transportasi dan pergudangan; dan kategori jasa lainnya yang cenderung stagnan. Secara keseluruhan indeks tendesi bisnis berada pada level 106,05, tidak sekuat dua kuartal sebelumnya yaitu 106,28 (kuartal I) dan 112,82 (kuartal II).

Bertolak dari indeks tendensi konsumen dan bisnis tersebut, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyebut adanya ancaman stagnasi pertumbuhan ekonomi pada semester II tahun ini. Apalagi perkiraan indeks sektor pengolahan atau Prompt Manufacturing Index (PMI) kuartal III juga melemah sebagaimana termuat dalam hasil survei kegiatan dunia usaha (SKDU) yang dilansir BI.

Padahal sektor industri pengolahan merupakan penopang utama atau prime mover perekonomian. "Ketika sektor industri hanya tumbuh 3,97% secara tahunan (year on year/yoy) dan industri non-migas hanya 4,41% maka akan sulit diharapkan terjadinya akselerasi pertumbuhan ekonomi.”

Investasi Jadi Penghambat

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam memprediksi faktor penahan laju ekonomi berasal dari perlambatan investasi bisnis. Selama ini, investasi merupakan kontributor kedua pertumbuhan ekonomi, setelah konsumsi rumah tangga.

Penyebabnya, menurut Pieter, pelaksanaan sistem perizinan terintegrasi secara elektronik atau Online Single Submission (OSS) tidak lancar. Alhasil, sistem baru itu justru menghambat perizinan, yang juga berdampak lanjut terhadap investasi. “Investasi yang melambat berdampak negatif terhadap pertumbuhan,” ujarnya kepada D-Inside.

Pemerintah mulai menerapkan sistem OSS pada awal Juli lalu. Sistem ini sebetulnya mendapat dukungan dari para pengusaha namun penerapannya yang tanpa transisi menuai kritikan. Keputusan tersebut dianggap justru menghambat proses perizinan. Bahkan, sempat ada informasi soal perizinan yang belum bisa diproses dengan sistem baru.

Menurut Pieter, tantangan suku bunga yang terus naik juga memengaruhi investasi, namun tak signifikan. Begitu juga pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sebab, ada industri yang justru diuntungkan oleh pelemahan kurs tersebut sehingga terpacu untuk berekspansi.

Di sisi lain, kontributor utama pertumbuhan ekonomi yaitu konsumsi rumah tangga diperkirakan masih akan stabil. Pieter mengacu pada indeks keyakinan konsumen BI yang menurun tapi masih dalam zona optimistis. Apalagi, inflasi diperkirakan masih akan terjaga di level yang rendah untuk menyokong daya beli konsumen.

Atas dasar itu, Pieter memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada semester II ini akan berkisar 5,05% hingga 5,15%, atau lebih rendah dari semester I yang sebesar 5,17%. Artinya, risikonya bukan hanya stagnasi pertumbuhan ekonomi, tapi dapat mengarah ke perlambatan pada paruh kedua 2018. Inilah yang mengancam target pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah yaitu 5,2%.

 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha