Misi Lain di Balik IPO Garudafood

Penulis: Hari Widowati

Jum'at 14/9/2018, 18.09 WIB

Garudafood memanfaatkan momentum penjualan saham perdana ke publik (IPO) untuk konversi surat utangnya. Jumlah saham publik yang minim berpotensi membuat transaksi saham perseroan tidak likuid.

ipo bursa
123rf.com | venimo

Setelah dinanti para investor selama bertahun-tahun, PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk akhirnya akan melangsungkan penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) pada bulan depan. Perseroan berpotensi meraup dana segar Rp 1 triliun dari aksi korporasi tersbeut plus pelaksanaan obligasi wajib konversi atau mandatory convertible bond (MCB). Namun, minimnya jumlah saham yang dilepas untuk investor publik akan membuat perdagangan saham Garudafood di Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak likuid.

Dalam prospektus yang diterbitkan perusahaan, Garudafood akan menawarkan 35 juta saham baru atau 0,47% dari modal disetor dengan harga penawaran Rp 1.100-Rp 1.400 per saham. Jadi, potensi dana yang akan diperoleh sekitar Rp 38,5 miliar-Rp 49 miliar.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Bersamaan dengan IPO, perseroan menerbitkan 727,84 juta saham baru atau 9,86% dari modal disetor sebagai pelaksanaan konversi surat utang MCB kepada Pelican Company Ltd (Pelican). Penukaran utang menjadi saham tersebut berdasarkan perjanjian investasi (investment agreement) yang ditandatangani kedua belah pihak pada 29 Maret 2018. Garudafood menerbitkan MCB tersebut pada 2017 dengan nilai Rp 935 miliar.

Direktur Utama Garudafood Hardianto Atmadja mengatakan, seluruh dana hasil IPO akan digunakan sebagai modal kerja dan mendukung strategi bisnis perusahaan dalam jangka panjang. Garudafood memiliki visi menjadi salah satu perusahaan makanan dan minuman terkemuka di Indonesia maupun ASEAN.

Penawaran saham Garudafood diharapkan menjadi pilihan investasi bagi investor di Indonesia karena pertumbuhan bisnis perusahaan berada di atas rata-rata pertumbuhan industri.

Garudafood yang merupakan salah satu anak usaha dari PT Tudung Putra Jaya (TPJ) atau Tudung Group didirikan pada 1994. Perusahaan yang pada awalnya hanya memasarkan Kacang Garuda ini berkembang menjadi industri makanan dan minuman dengan 5 merek utama, yakni Gery, Garuda, Chocolatos, Leo, dan Clevo. Produk-produknya terdiri atas biskuit, kacang, keripik, permen, minuman susu, dan serbuk cokelat yang mencakup 100 stock keeping unit (SKU).

Perseroan memiliki dua pabrik di Pati, Jawa Tengah; satu pabrik di Gresik, Jawa Timur, dan satu pabrik di Kawasan Industri Rancaekek, Sumedang, Jawa Barat. Total kapasitas produksi perseroan mencapai 249.528 ton per tahun. Perusahaan juga sudah mengekspor produknya ke lebih dari 20 negara dengan fokus ke Asean, Tiongkok, dan India.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 April 2018, Garudafood secara konsolidasi membukukan pendapatan Rp 2,9 triliun, meningkat 13,51% dibandingkan periode sama tahun lalu. Pertumbuhan penjualan ditopang oleh produk makanan yang tumbuh 20,29% menjadi Rp 2,55 triliun. Produk biskuit mencatat pertumbuhan tertinggi 31,52% karena siklus musiman menjelang Idul Fitri.

Sementara itu, penjualan produk minuman turun 19,08% menjadi Rp 356,12 miliar. Penyebabnya adalah perubahan perjanjian distribusi antara PT Sinarniaga Sejahtera (SNS) dengan PT Suntory Garuda Beverage (SGB), yaitu SNS hanya bertanggung jawab terhadap distribusi produk di luar Pulau Jawa.

Akibatnya, kontribusi produk makanan terhadap penjualan naik dari 82,79% menjadi 87,73% dari total penjualan. Tahun lalu, Garudafood membukukan penjualan bersih sebesar Rp 7,48 triliun, naik 13,31% dibandingkan dengan 2016.

Laba bersih Garudafood per 30 April 2018 mencapai Rp 216,35 miliar, melejit 215,03% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Kinerja laba bersih yang cemerlang ini merupakan dampak dari merger perusahaan dengan PT Garudafood Beverage Jaya (GFBJ) pada 2017. Adapun, laba bersih setelah penyesuaian laba entitas yang digabungkan (merging entity) tahun 2017 turun 40,37% menjadi Rp 345,65 miliar.

Total aset Garudafood per 30 April 2018 mencapai Rp 4,37 triliun, meningkat 22,57% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Total liabilitas perseroan turun 9,27% menjadi Rp 2,3 triliun karena perseroan mempercepat pelunasan sebagian kewajiban jangka panjangnya. Adapun ekuitas perseroan melesat 80,87% menjadi Rp 2,27 triliun karena adanya pencatatan MCB Pelican di pos ekuitas.

Pesaing Indofood dan Mayora

Masuknya Garudafood sebagai emiten baru akan memanaskan kompetisi di antara emiten makanan dan minuman yang sudah lebih dulu melantai di bursa, seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Mayora Indah Tbk (MYOR). Dari sisi kapitalisasi pasar, Indofood CBP memiliki kapitalisasi pasar terbesar Rp 103,79 triliun per 30 Juni 2018 sedangkan Mayora Indah Rp 63,5 triliun.

Menurut Director Head of Investment Banking PT Indo Premier Sekuritas Rayendra L Tobing, kapitalisasi pasar Garudafood setelah IPO diperkirakan mencapai Rp 8 triliun-Rp 10 triliun. Indo Premier Sekuritas adalah penjamin emisi dalam penawaran IPO Garudafood.

Minimnya kapitalisasi pasar Garudafood ini karena sedikitnya jumlah saham yang dilepas oleh perusahaan. Alhasil, pasca IPO nanti transaksi saham Garudafood di BEI diperkirakan tidak terlalu likuid.

Menurut Analis PT Reliance Sekuritas Anissa Septiwijaya, ada beberapa faktor yang menjadi katalis pertumbuhan bisnis Garudafood. Perseroan memiliki merek-merek yang sudah terkenal dan cakupan distribusi luas sebanyak 350 ribu titik distribusi.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi akan terus mendorong kepercayaan konsumen sehingga dapat mendorong pertumbuhan bisnis Garudafood. Di sisi lain, risiko investasi yang dihadapi perseroan adalah risiko persaingan usaha. Jika perseroan atau entitas anak usahanya tidak bisa menjaga atau meningkatkan daya saing, kinerja perusahaan akan terpengaruh.

Bagi investor jangka panjang, saham perseroan cukup menarik. Dalam prospektusnya, Garudafood akan membayarkan dividen tunai maksimal 40% dari laba tahun berjalan mulai 2019. Kebijakan dividen ini akan mempertimbangkan arus kas dan rencana investasi perseroan. Perubahan kebijakan dividen akan tunduk pada persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham.

Berdasarkan valuasi harga saham IPO dengan menggunakan harga penawaran terendah, Reliance menetapkan target harga saham Garudafood untuk 12 bulan ke depan sebesar Rp 1.850 per saham. Target tersebut mencerminkan price earning ratio (PER) sebesar 21,59 kali dan price to book value (PBV) 6,26 kali.

Jika dilihat berdasarkan valuasi PER dan PBV, saham Garudafood relatif lebih murah dibandingkan dengan kompetitornya. Saham Mayora memiliki PER 42,88 kali dan PBV 8,45 kali. Sedangkan saham Indofood CBP memiliki PER 22,65 kali dan PBV 5,03 kali.

Garudafood akan melakukan penawaran umum sahamnya pada 2-4 Oktober 2018. Adapun pencatatan saham di BEI akan dilaksanakan pada 10 Oktober 2018.