Amazon Panaskan Persaingan E-Commerce di Indonesia

Penulis: Hari Widowati

Selasa 18/9/2018, 19.19 WIB

Indonesia merupakan pasar e-commerce terbesar di ASEAN yang menjadi kunci bagi Amazon untuk memenangkan persaingan dengan Alibaba dan Tencent.

digital
Mohamad Faizal Ramli | 123rf.com

Persaingan bisnis perdagangan online (e-commerce) di Indonesia akan semakin ketat dengan rencana masuknya Amazon Inc.  Raksasa e-commerce asal Amerika Serikat (AS) akan bersaing dengan dua korporasi besar asal Tiongkok, yaitu Alibaba Group Holdings dan Tencent Holding, yang sudah lebih dulu hadir di Indonesia. Pasar e-commerce ASEAN diyakini bakal menyumbang pertumbuhan tertinggi bagi raksasa-raksasa e-commerce  global.

Niat Amazon untuk ekspansi ke Indonesia diungkapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. "Saya sedang berdiskusi dengan Amazon yang berencana masuk ke Indonesia. Saya mau memastikan mereka memenuhi regulasi di Indonesia, terutama kesiapan dalam membayar pajak," katanya di Jakarta, Senin (17/8) malam.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Jika niat tersebut direalisasikan, Indonesia akan menjadi negara kedua yang menjadi titik operasi Amazon di Asia Tenggara. Sejak November tahun lalu, Amazon memulai ekspansinya di kawasan tersebut melalui operasinya di Singapura. Di negara jiran itu, Amazon melalui layanan logistik e-commerce reguler Amazon, Amazon Prime, dan Amazon Prime Now.

Ketika Amazon memutuskan masuk ke Singapura, perusahaan teknologi tersebut berusaha mengimbangi ekspansi Alibaba Group Holding yang sudah lebih dahulu gencar berinvestasi di Asia Tenggara. Alibaba merupakan pesaing terkuat bagi Amazon. Kedua perusahaan ini sama-sama memiliki kapitalisasi pasar di atas US$ 1 triliun dan terbilang royal menginvestasikan dana untuk berbagai akuisisi.

Pada 2016, Alibaba membeli saham mayoritas Lazada senilai US$ 1 miliar. Setahun berselang, Alibaba menambah kepemilikan sahamnya di e-commerce yang berbasis di Singapura tersebut menjadi 83% dengan suntikan modal sebesar US$ 1 miliar. Lazada beroperasi di Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Asia Tenggara merupakan pasar terpenting bagi Alibaba di luar Tiongkok.

Menurut CB Insights, lembaga riset dan konsultan global, Lazada menggunakan US$ 30 juta-US$ 40 juta dari suntikan modal Alibaba untuk mengakuisisi Redmart, perusahaan rintisan (startup) e-groceries di Singapura. Redmart disiapkan untuk menghadapi Amazon Prime Now.

Berdasarkan laporan keuangan Alibaba, hingga akhir tahun lalu pendapatan perusahaan dari bisnis retail dan perdagangan internasional mencapai US$ 727 juta, tumbuh 93% dibandingkan periode yang sama 2016. Alibaba mengatakan, Lazada merupakan salah satu pendorong utama pertumbuhan bisnis tersebut.

Ekspansi Alibaba di Asia Tenggara berlanjut dengan investasi senilai US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp 14,7 triliun di Tokopedia pada putaran pendanaan seri F di pertengahan Agustus 2017. Chief Executive Officer dan Co-founder Tokopedia William Tanuwijaya mengatakan, suntikan modal dari Alibaba akan digunakan untuk membangun pusat riset dan pengembangan di dalam negeri.

Tokopedia juga ingin mendatangkan talenta terbaik lokal maupun internasional untuk berkarya di Indonesia. Langkah-langkah ini akan mendukung misi Tokopedia untuk pemerataan ekonomi dan kesejahteraan melalui teknologi.

Indonesia menjadi alasan kuat bagi Amazon untuk menyamakan kedudukan dengan Alibaba. Para pelaku e-commerce lokal sejak lama mendengar kabar bahwa Indonesia berada di bawah radar Amazon. McKinsey dalam riset The Digital Archipelago menyebutkan, bisnis perdagangan daring (online commerce) di Indonesia bernilai US$ 8 miliar per tahun.

Indonesia merupakan pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara. Sekitar 30 juta penduduk atau 11,5% penduduk telah menjadi konsumen e-commerce. McKinsey memprediksi, pada 2022 sekitar jumlah konsumen e-commerce akan tumbuh menjadi 30% dari jumlah penduduk dengan total nilai transaksi hingga sebesar US$ 65 miliar.

Alasan lainnya, layanan Amazon di Singapura ternyata kurang diminati. Singapore Business Review melaporkan layanan belanja kebutuhan sehari-hari atau e-groceries hanya 2% dari total nilai pasar retail di Singapura. Sebagian besar pasar e-groceries inipun sudah dikuasai Redmart.

Amazon juga belum mampu menggeser kebiasaan masyarakat Singapura yang lebih suka berbelanja ke supermarket dan mal yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka.

Langkah Amazon tidak akan mudah. Selain Alibaba, Amazon juga akan bersaing dengan Tencent Holding yang merupakan pemegang saham mayoritas di JD.com. Di Indonesia, JD.com beroperasi melalui JD.id. Tencent juga merupakan pemegang saham terbesar Sea Limited, induk perusahaan Shopee.

Menurut riset Snapcart yang melibatkan 6.123 responden pada Januari 2018, Shopee menjadi e-commerce terpopuler di Indonesia. Business Development Director Snapcart untuk Asia Pasifik Felix Sugianto mengatakan, Tokopedia dan Lazada berada di urutan kedua dan ketiga di jajaran e-commerce terpopuler di Indonesia. Keberhasilan Shopee tidak lepas dari gencarnya iklan yang dipasang di berbagai media online maupun offline dalam beberapa tahun terakhir.

Sistem Pembayaran

Ketatnya persaingan para pemain global di pasar e-commerce Indonesia akan diikuti oleh sistem pembayaran yang mereka miliki. Seperti diketahui, Alibaba melalui Ant Financial memiliki platform pembayaran digital Alipay dengan jumlah pengguna mencapai 520 juta pengguna. Nilai transaksi yang dibukukan Alipay tahun lalu US$ 6,5 miliar.

Di Indonesia, Ant Financial menggandeng PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek) dengan produk dompet elektronik DANA. Aplikasi dompet elektronik tersebut tersedia di platform Blackberry Messenger (BBM) yang telah diunduh lebih dari 100 juta pengguna.

Sementara itu, Tencent memiliki layanan sistem pembayaran bernama TenPay atau lebih populer disebut WeChat Pay yang memiliki 800 juta pengguna di Tiongkok. Layanan WeChatPay telah terhubung dengan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) melalui kerja sama dengan perusahaan switching lokal.

Alipay maupun WeChat Pay memanfaatkan QR code untuk pembayaran berbagai transaksi. Metode pembayaran ini disebut-sebut sebagai masa depan sistem pembayaran di Asia Tenggara meskipun saat ini penerapannya belum sempurna. Tencent melalui JD.id telah membuka toko cashless pertama di PIK Avenue, Jakarta, pada 6 Agustus lalu.

Pengunjung yang berbelanja di toko tersebut tidak perlu antre di kasir. Mereka bisa memindai barcode lalu langsung keluar dari toko. Hal ini berkat teknologi kecerdasan buatan, radio frequency identification (RFID), dan data kartu kredit yang sudah tersimpan dan data kartu kredit konsumen yang sudah disimpan ke dalam akun JD.id.

Konsep toko cashless pertama kali justru diperkenalkan oleh Amazon dengan nama Amazon Go di Seattle, Amerika Serikat. Amazon juga memiliki sistem pembayaran bernama Amazon Pay yang dapat digunakan untuk transaksi online di AS, Inggris, Kanada, India, Jepang hingga Malaysia. Jumlah pengguna sistem pembayaran berbasis QR code milik Amazon ini mencapai 33 juta pengguna.