Angin Segar untuk Obligasi Bank di Tengah Himpitan Likuiditas

Penulis: Martha Ruth Thertina

Selasa 18/9/2018, 15.02 WIB

Obligasi terbitan bank-bank di Indonesia dinilai salah satu yang menarik karena imbal hasil tinggi dan fundamentalnya kokoh. Bank perlu menawarkan imbal hasil tinggi karena ada aneka kebutuhan dana.

bank
123rf.com | sakramir

Angin segar berhembus bagi perbankan di Indonesia di tengah gejolak pasar keuangan global. Surat utang yang diterbitkan oleh bank lokal dipandang sebagai pilihan menarik untuk investasi jangka panjang karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi dan fundamentalnya kokoh. Pandangan ini dapat membantu upaya perbankan menggalang pendanaan eksternal untuk menambah likuiditas dan aneka kebutuhan lainnya.

Imbal hasil obligasi korporasi merangkak naik, tak terkecuali obligasi perbankan. Tren ini sejalan dengan melemahnya nilai tukar rupiah, kenaikan suku bunga acuan yang mengerek bunga perbankan, serta lonjakan imbal hasil surat utang negara (SUN).

Bank Indonesia (BI) telah menaikkan bertahap suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 1,25% ke level 5,25%. Ini untuk merespons sederet tantangan global, di antaranya kenaikan bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil surat berharga negara tersebut yang memicu aksi jual di pasar keuangan domestik dan pelemahan rupiah.

Seiring kondisi global tersebut, imbal hasil SUN rupiah juga melonjak. Per 13 September lalu, SUN tenor 5 tahun berada di level 8,4% sedangkan tenor 10 tahun sebesar  8,5%, atau naik masing-masing 247,7 dan 220,5 basis poin sepanjang tahun ini. Berdasarkan data Asian Bond Online, lonjakan ini paling tinggi di antara banyak negara di kawasan Asia.

Meski terjepit imbal hasil tengah tinggi, beberapa bank tetap menerbitkan obligasi. Sebab, bank membutuhkan tambahan likuiditas untuk mendukung ekspansi kredit maupun pembiayaan kembali utang jatuh tempo alias refinancing.

Selain itu, beberapa bank sistemik menerbitkan obligasi subordinasi karena harus memenuhi recovery plan alias rencana aksi sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Recovery plan tersebut bertujuan agar bank siap melakukan bail-in saat dibutuhkan.

Tingginya imbal hasil yang ditawarkan membuat obligasi perbankan Indonesia saat ini masuk dalam radar investasi yang menarik bagi investor jangka panjang. Dalam kajiannya pekan lalu, analis DBS memaparkan obligasi bank-bank besar Indonesia dan Filipina – rata-rata rating Baa2 dan Baa3 - diperdagangkan dengan z-spread sekitar 130-150 basis poin (yield absolut sekitar 4,25-4,5%) saat ini.

“Ini setara dengan level dalam perdagangan obligasi perbankan India. Tapi, perbankan Indonesia dan Filipina memiliki kualitas fundamental yang lebih baik,” kata analis bank asal Singapura tersebut. Kualitas fundamental yang dimaksud yakni rasio kredit seret yang rendah serta level permodalan yang sehat, meskipun secara umum ukuran bank-bank itu lebih kecil.

Di sisi lain, perbankan dengan peringkat yang lebih tinggi seperti bank asal Thailand (Baa1) dan Korea (A1), obligasinya diperdagangkan dengan z-spread yang lebih ketat yaitu rata-rata sekitar 80-100 basis poin.

Analis DBS tak menafikan adanya risiko perdagangan. Namun, risikonya lebih kepada ekonomi makro berupa berlanjutnya aksi jual di pasar SUN, bukan pada risiko rating. “Untuk investor dengan pandangan jangka panjang, ini hanya sedikit menjadi perhatian."

Pada semester II ini, beberapa bank bersiap menerbitkan obligasi, yang terdekat yakni CIMB Niaga dan Bank Mandiri. CIMB Niaga dengan peringkat kredit Baa2, mulai menawarkan obligasi melalui skema penawaran umum berkelanjutan (PUB) II Tahap IV pada Jumat (14/9) lalu. Target perolehan dananya Rp 1,25 triliun, yang akan digunakan seluruhnya untuk ekspansi kredit. 

Obligasi ditawarkan dalam tiga seri yakni Seri A sebesar Rp 746 miliar dengan tenor setahun dan tingkat bunga 7,5% per tahun, lalu Seri B sebesar Rp 137 miliar dengan tenor tiga tahun dengan tingkat bunga 8,5%. Kemudian, Seri C sebesar Rp 117 miliar dengan tenor lima tahun dan tingkat bunga 8,8%. 

Sementara itu, Bank Mandiri --dengan peringkat Baa2-- berencana menerbitkan obligasi sebesar Rp 3 triliun. Surat utang tenor lima tahun ini menawarkan tingkat bunga 8,5%. Perkiraan masa penawaran umum pada Senin (17/9) atau Selasa (18/9) ini. Rencananya, dana hasil obligasi ini untuk ekspansi kredit.  

Tingkat bunga yang ditawarkan Bank Mandiri lebih tinggi dibandingkan bank dengan peringkat setara (Baa2), seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Central Asia (BCA) ataupun peringkat di bawahnya yaitu Bank Pan Indonesia (Baa3) yang menerbitkan obligasi pada semester I lalu.

Sebagai perbandingan, pada Februari lalu, BRI menerbitkan obligasi sebesar Rp 2,4 triliun. Terdapat dua seri  surat utang yaitu Seri A bertenor lima tahun sebesar Rp 1,84 triliun dengan tingkat bunga 6,65% dan seri B bertenor tujuh tahun sebesar Rp 605 miliar dengan tingkat bunga 6,9%.

Pada awal Juni lalu, bank pelat merah tersebut juga menerbitkan obligasi subordinasi (obligasi junior) dengan tenor lima tahun. Dana segar yang diserap Rp 500 miliar dengan tingkat bunga 7,7%. Tingkat bunga yang ditawarkan lebih tinggi karena prioritas bayar bila terjadi gagal bayar untuk obligasi junior memang lebih rendah dibandingkan obligasi senior. 

Tingkat bunga yang tak jauh berbeda ditawarkan BCA untuk obligasi subordinasinya pada akhir Juni hingga awal Juli lalu. BCA tercatat menawarkan obligasi korporasi total Rp 500 miliar yang dipecah menjadi dua, yaitu tenor tujuh tahun Rp 435 miliar dengan tingkat bunga 7,75%, dan tenor 12 tahun sebesar Rp 65 miliar dengan tingkat bunga 8%.

Sementara itu, Bank Pan Indonesia (Panin) menerbitkan obligasi dengan tenor lima tahun sebesar Rp 3,9 triliun pada akhir Februari lalu. Tingkat bunganya 7,6% per tahun. Pada awal Juni lalu, bank ini kembali menerbitkan obligasi sebesar Rp 100 miliar dengan tingkat bunga lebih tinggi yaitu 8%.

Bersamaan dengan itu, Panin juga menerbitkan obligasi subordinasi bertenor tujuh tahun sebesar Rp 1,3 triliun. Namun, tingkat bunga yang ditawarkan lebih tinggi yakni 9,5%.

Berdasarkan data OJK, total nilai penerbitan obligasi oleh perbankan mencapai Rp 16,73 triliun pada semester I tahun ini. Sebagian dari obligasi tersebut diterbitkan bank beraset besar, seperti BRI, BCA, Bank Panin, dan Bank Maybank Indonesia.  Nilai penerbitannya lebih kecil dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 29,71 triliun. 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha