Beban Berat Menjaga Rupiah Hingga Akhir Tahun

Penulis: Amal Ihsan Hadian

Kamis 20/9/2018, 23.32 WIB

Meski nilai tukar rupiah mulai menguat belakangan ini, potensi pelemahan masih besar hingga akhir tahun. Bank sentral AS berencana menaikkan lagi suku bunga acuan sehingga dolar akan makin menguat.

rupiah dolar
Elnur Amikishiyev | 123rf.com

Nilai tukar rupiah akan terus menghadapi tekanan berat sampai akhir tahun. Sebab, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) kemungkinan masih bakal menaikkan suku bunga acuan pada empat bulan tersisa tahun ini. Sedangkan upaya Bank Indonesia (BI) membangkitkan rupiah dengan mengerek suku bunga acuan dan mengintervensi pasar terbentur keterbatasan cadangan devisa dan risiko ekonomi.

Pada Kamis dan Jumat pekan depan (27-28 September 2018), BI akan menggelar rapat dewan gubernur (RDG). Rapat rutin  bulanan untuk memutuskan suku bunga acuan tersebut berlangsung setelah rapat dewan gubernur The Fed, yang disebut Federal Open Market Committee (FOMC), pada awal pekan depan.

"Kami ingin menunggu pengumuman dari The Fed sehingga kami taruh RDG pada pekan keempat September. Harapannya, ketika itu, nanti kami sudah tahu posisi suku bunga bank sentral AS,” ujar Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo.

The Fed sudah menaikkan suku bunga acuannya -yang disebut Federal Funds Rate (FFR)- dua kali sepanjang tahun ini. Pasar memperkirakan bank sentral AS akan kembali menaikkan FFR, yang sekarang sudah berada di level 1,74%-2%, sebanyak dua kali lagi di sisa tahun ini. Waktunya diperkirakan pada akhir September ini dan Desember mendatang.

Langkah The Fed merupakan bagian dari normalisasi kebijakan moneter AS dan juga antisipasi untuk mengimbangi laju pertumbuhan ekonomi AS yang mulai menggeliat. Masalahnya, kenaikan suku bunga The Fed akan mengerek suku bunga di AS. Alhasil, produk perbankan dan instrumen investasi finansial di AS menjadi semakin menarik. Ini menyebabkan pelarian arus modal dari negara berkembang ke Paman Sam, termasuk dari Indonesia.

Artinya, masih ada dua gelombang tekanan besar yang akan dihadapi rupiah dari kebijakan suku bunga The Fed. Padahal, BI  sudah empat kali menaikkan suku bunga acuan sejak awal tahun ini. Terakhir BI menaikkan suku bunga 7-Day Reserve Repo Rate (7-DRRR) pada Agustus lalu menjadi 5,5% dari 5,25%. Tujuannya menjaga selisih suku bunga acuan dengan FFR sehingga rupiah tidak semakin tertekan oleh penguatan dolar AS.

Sampai Kamis (20/9) lalu, kurs rupiah sudah mencapai Rp 14.840 per dolar AS. Ini jauh lebih lemah dibandingkan posisi awal Januari yang Rp 13.416 per dolar. Artinya, sepanjang tahun ini, kurs rupiah sudah melorot 10,6%.

Di pasar modal, net foreign sell atau penjualan asing bersih sejak awal tahun sampai 13 September lalu sudah mencapai Rp 54.07 triliun. Di rentang waktu yang sama, net sell asing di pasar surat berharga negara Rp 20,54 triliun.

Tekanan lain datang dari kebijakan The Fed merampingkan neracanya. Sejak krisis finansial 2007-2008, The Fed menjalankan program quantitative easing, yakni memborong surat berharga di pasar keuangan AS untuk menginjeksi likuiditas ke perekonomian.

Saat puncak program, The Fed memborong obligasi pemerintah dan swasta hingga US$ 85 miliar per bulan. Sebagian dari likuiditas inilah yang kemudian diinvestasikan ke emerging market, termasuk Indonesia.

Melihat pemulihan ekonomi AS, The Fed menghentikan program quantitative easing sejak 2013. Secara bertahap mereka mulai melepas kembali surat berharga ke pasar, yang lazim disebut tapering off.

Per 3 September lalu, aset surat berharga yang dimiliki Fed sebesar US$ 4,208 triliun, berkurang dari posisi akhir 2017 yang mencapai US$ 4,449 triliun. Artinya, selama 8 bulan di tahun ini, The Fed sudah melepas obligasi ke pasar senilai US$ 241 miliar atau sekitar US$ 30,12 miliar per bulan.

Menurut Kepala Riset BlackRock Invesment Institute, Elga Bartsch, dengan kenaikan suku bunga acuan dan tersedianya surat berharga untuk dibeli, kondisi pasar finansial di AS akan semakin menarik. Konsekuensinya, akan terjadi arus modal asing keluar dari emerging market, termasuk Indonesia, kembali ke AS.

Lantaran menghadapi ancaman yang masih berlanjut, Moody’s Investors Service menilai, risiko terbesar bagi perekonomian Indonesia akan datang dari pelemahan rupiah. Meski peringkat kredit Indonesia saat ini masih di level investment grade dengan prospek "Stabil", pelemahan rupiah yang berkepanjangan akan berdampak besar ke perekonomian. Sebab, ketergantungan pemerintah dan swasta yang tinggi terhadap pendanaan dari luar negeri.

Menurut Vice President dan Analis Senior Moody’s Joy Rankothge, sebenarnya pemerintah, BI, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku pengambil kebijakan fiskal dan moneter, baik makro dan mikro, sudah menjalankan tugas dengan baik untuk menstabilkan nilai tukar dan meminimalisir dampak fluktuasi kurs rupiah terhadap sektor keuangan.

Namun, kebijakan lewat suku bunga dan intervensi serta daya tahan perekonomian sejatinya juga memiliki batas. Jika pelemahan terhadap rupiah berkepanjangan, pada akhirnya bakal mengerek biaya utang pemerintah dan swasta serta inflasi.  Kondisi tersebut membawa implikasi serius berupa memburuknya profil kredit yang disalurkan perbankan.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha