E-Commerce Mendorong Popularitas Transaksi Non-tunai

Penulis: Hari Widowati

Kamis 20/9/2018, 18.48 WIB

Sekitar 76% konsumen menggunakan sistem pembayaran non-tunai dalam transaksi e-commerce. Ini juga membuka peluang perusahaan fintech membesarkan jangkauan usaha dan pasarnya.

digital
123rf.com | apinan

Meningkatnya popularitas perdagangan secara online (e-commerce) di Indonesia mengubah gaya hidup masyarakat, termasuk dalam sistem pembayaran. Sekitar 76% konsumen telah menggunakan sistem pembayaran non-tunai dalam transaksi e-commerce. Ini juga membuka peluang layanan keuangan berbasiskan teknologi atau financial technology (fintech) membesarkan jangkauan usaha dan pasarnya.

Berdasarkan survei yang dilakukan Katadata Insight Center (KIC) terhadap 20 ribu responden di 34 provinsi selama periode 27 Agustus-9 September 2018, sebanyak 76,08% responden menggunakan pembayaran non-tunai untuk belanja online. Pembayaran melalui metode transfer di Anjungan Tunai Mandiri (ATM) mendominasi sebanyak 31%.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Sedangkan mobile banking merupakan jenis pembayaran terpopuler kedua sebesar 19,1%, disusul internet banking 13,3%. Sebanyak 11,03% responden menggunakan pembayaran melalui virtual account sedangkan melalui digital payment atau fintech hanya sebesar 1,66%.

Untuk pembayaran transaksi e-commerce secara tunai, payment point berupa gerai waralaba seperti Alfamart, Indomaret, dan lainnya digunakan oleh 14,62% responden. “Pembayaran setelah barang diterima (cash on delivery/COD) sebesar 9,3%,” kata  Jamilatuz Zahro,  Senior Data Analyst Katadata dalam laporan Indonesia E-Commerce Mapping 2018 yang dirilis 18 September lalu.

Menurut survei KIC, secara nominal 35,36% konsumen e-commerce membelanjakan Rp 100 ribu-Rp 500 ribu per bulan. Sekitar 23,22% konsumen membelanjakan Rp 500 ribu-Rp 1 juta per bulan sedangkan 18,2% responden bertransaksi senilai Rp 1 juta- Rp 3 juta per bulan.

Sebanyak 12% responden bertransaksi dengan nominal di bawah Rp 100 ribu sedangkan 11% responden berbelanja di atas Rp 3 juta per bulan.

Sebagai perbandingan, survei Daily Social pada 2016 menunjukkan pembayaran yang digunakan untuk transaksi di e-commerce secara transfer bank atau lewat ATM mencapai 49,01%. Metode pembayaran lainnya melalui mobile banking 0,4%; internet banking 21,43%; virtual account 1,79%; dan digital payment sebesar 0,6%. Adapun, 26,77% masih membayar secara tunai melalui jaringan waralaba dan sistem COD.

Tingginya jumlah pengguna pembayaran non-tunai menunjukkan kepercayaan konsumen terhadap perusahaan e-commerce meningkat. Konsumen yakin bahwa barang yang dibeli di situs belanja daring sesuai dengan gambar yang ditampilkan. Jika tidak yakin, konsumen tentu akan lebih memilih membayar tunai ketika barang sudah diterima atau sistem COD.

Penggunaan sistem pembayaran non-tunai juga mencerminkan perilaku konsumen yang mengedepankan kepraktisan dan kecepatan dalam transaksi.

Jika dilihat dari riset tersebut, dominasi perbankan dalam pembayaran transaksi konsumen di e-commerce menunjukkan masyarakat Indonesia masih menggantungkan transaksi keuangannya pada sistem pembayaran konvensional. Perusahaan-perusahaan fintech membutuhkan waktu lebih lama dan produk yang lebih menarik agar masyarakat secara perlahan-lahan melepaskan ketergantungan pada sistem pembayaran konvensional.

Go-Pay, anak usaha Go-Jek Indonesia yang bergerak di sistem pembayaran, memperluas penggunaannya bukan hanya di ekosistem Go-Jek tetapi juga merambah pembayaran di toko offline maupun online. Untuk transaksi e-commerce, Go-Pay bekerja sama dengan Adidas, The Body Shop, Sociolla, Hijup, Cotton Ink, Rollover Reaction, By Lizzy Parra (BLP), Sayur Box, Loket.com, Naked Press, hingga Panorama Tours.

Sementara itu, PT Cashlez Worldwide Indonesia (Cashlez) bermitra dengan bank maupun perusahaan e-commerce untuk memperluas layanannya. Layanan Cashlez Link bisa digunakan untuk berbelanja di Blanja.com, Blibli.com, Elevenia, MatahariMall.com, Tokopedia, Bukalapak, Shopee, dan Ralali.com. Adapun perbankan dan switching company yang menjadi mitra Cashlez adalah PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk, Maybank, JCB, Mastercard, dan Visa.

Founder dan CEO Cashlez Teddy Setiawan mengatakan, dengan metode pembayaran mobile point of sale (mPOS) dan Cashlez Link, transaksi non-tunai diharapkan tumbuh hingga 300% karena proses belanja lebih mudah dan praktis. "Visi Cashlez terhadap cashless society adalah menciptakan aplikasi pembayaran frictionless yang dapat mendorong orang beralih dari pembayaran tunai ke elektronik," ujar Teddy dalam siaran pers di situs Cashlez.

PT Nusa Satu Inti Artha, penyelenggara layanan dompet elektronik DOKU, beberapa waktu lalu bermitra dengan Bank Danamon untuk memperluas layanannya. DOKU membantu Danamon menyediakan platform dompet elektronik bernama D-Wallet yang membidik 1 juta pengguna.

Menurut CEO DOKU Thong Sennelius, layanan dompet elektronik tersebut dapat digunakan untuk transaksi e-commerce di Lazada, AliExpress, hingga membeli tiket pesawat untuk maskapai Air Asia dan Citilink.

Ekosistem Pembayaran Digital

Senior Research Manager IDC Financial Insights Handojo Triyanto mengatakan, kerja sama antara perusahaan fintech sistem pembayaran dan perbankan bakal semakin marak. Kerja sama tersebut bertujuan untuk interoperabilitas atau memperluas penggunaan sistem pembayaran elektronik yang disediakan fintech.

"Fenomena ini sudah terlihat, khususnya di bidang pembayaran karena kecepatan mendominasi pasar penting untuk sistem pembayaran," kata Handojo.

Perbankan memanfaatkan fintech untuk mengikuti perubahan perilaku konsumen dengan gaya hidup yang semakin terikat dengan gawai (gadget). Fintech juga diuntungkan karena bisa memperluas basis konsumennya dan menghemat dana investasi dengan memanfaatkan jejaring perbankan.

Laporan McKinsey berjudul The Digital Archipelago juga menyebutkan penetrasi internet dan antusiasme masyarakat Indonesia dalam menggunakan teknologi digital mendorong pertumbuhan e-commerce. Pasar perdagangan online di Indonesia diprediksi akan tumbuh secara signifikan hingga mencapai US$ 65 miliar pada 2022. Sekitar 30% dipicu oleh konsumsi.

Kesuksesan perkembangan ekosistem perdagangan daring ini membutuhkan perbaikan pada lima faktor. Pertama, infrastruktur dan logistik yang dapat diandalkan. Kedua, sistem pembayaran yang aman, tak terbatas, dan scalable. Ketiga, ekosistem perdagangan digital yang melibatkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Keempat, sumber daya manusia yang kuat. Kelima, iklim investasi yang sehat.

"Adopsi sistem pembayaran online dan keamanan menjadi prasyarat pasar perdagangan daring yang terus tumbuh," tulis McKinsey. Saat ini baru 49% penduduk Indonesia memiliki akses terhadap layanan jasa keuangan. Angka ini di bawah penetrasi layanan jasa keuangan di Malaysia sebesar 85% dan Thailand 82%.

Hal ini menunjukkan peluang pertumbuhan sistem pembayaran non-tunai sangat besar. Namun, keamanan siber juga menjadi faktor yang harus ditangani dengan serius agar tidak menjadi disinsentif bagi transaksi e-commerce di masa depan.