Kebijakan Hati-hati Bunga Acuan BI di Tengah Berbagai Tekanan

Penulis: Martha Ruth Thertina

Jum'at 21/9/2018, 19.29 WIB

Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mengerek lagi suku bunga acuan menyusul kemungkinan kenaikan bunga acuan di AS. Kebijakan ini di tengah tekanan terhadap rupiah dan perekonomian dalam negeri.

Bunga bank
Denphumi Jaisue | 123rf.com

Bank sentral negara-negara ekonomi berkembang tengah bersiap menghadapi babak lanjutan kenaikan bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), Fed Fund Rate. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan depan, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menaikkan lagi suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate. Tujuannya untuk meredam arus keluar dana asing dan menjaga kurs rupiah. Sejumlah risiko perekonomian juga menjadi tantangan terhadap kebijakan BI.  

Pekan depan, tepatnya 25-26 September, para petinggi bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan kembali menggelar rapat di Washington D.C, guna menentukan kebijakan moneternya. Dari dot plot terakhir, ekspektasi para petinggi The Fed belum berubah yakni dua kali kenaikan lagi tahun ini: kemungkinannya pada September dan Desember.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Sejumlah negara tengah memantau keputusan bank sentral AS tersebut, bahkan sudah ada yang membuat langkah antisipatif. Bank sentral Turki baru saja mengerek kembali bunga acuannya.

Sedangkan BI masih akan menunggu hasil rapat The Fed pekan depan, untuk menentukan kebijakan bunga acuan. Sebelumnya, sejak Mei lalu, BI telah menaikkan bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebanyak empat kali dengan total 1,25%. Kebijakan itu untuk meredam tekanan arus keluar dana asing dari pasar keuangan serta pelemahan kurs rupiah yang terutama dipicu oleh kebijakan moneter dan fiskal AS.

Namun, setelah kenaikan agresif beberapa bulan lalu, BI tampak sudah percaya diri dengan posisi bunga acuan yang sudah bertahan sejak Agustus lalu sebesar 5,5%. Berbeda penyikapannya pada Mei lalu, ketika BI menggelar rapat tambahan menjelang pengumuman Fed Fund Rate. Langkah ini dilakukan agar bunga acuan lebih menarik untuk menarik dana asing dan memperkuat rupiah.

Meski begitu, para ekonom dalam survei Bloomberg melihat BI berpeluang besar menaikkan lagi bunga acuan dalam RDG pekan depan. Prediksinya, kenaikan bunga acuan sebesar 25 basis poin meskipun ada juga yang memproyeksikan lebih yaitu 50 basis poin.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memprediksi kenaikan bunga acuan 50-100 basis poin di sisa tahun ini dan sedikitnya 75 basis poin tahun depan. Artinya, bunga acuan bisa berada di atas 7% tahun depan.

Penyebabnya, bukan semata tekanan dari eksternal. Defisit perdagangan barang dan jasa serta transaksi berjalan membuat  terbatasnya pasokan valuta asing sehingga semakin melemahkan rupiah. Alhasil, kenaikan bunga acuan yang seiring dengan kenaikan Fed Fund Rate menjadi penting. “Paling tidak kenaikannya sama (dengan kenaikan The Fed) atau lebih besar,” ujar David kepada D-Inside.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam menyampaikan pandangan yang tak jauh berbeda, yaitu kenaikan bunga acuan BI yang setara dengan The Fed. Berbeda halnya kalau ada perbaikan fundamental, seperti neraca transaksi berjalan.

Pada Agustus lalu, neraca dagang barang tercatat defisit US$ 1,02 miliar. Sedangkan total defisit sepanjang tahun ini sudah sebesar US$ 4,09 miliar. Adapun, transaksi berjalan juga defisit dan diperkirakan nilainya bisa sampai US$ 25 miliar akhir tahun ini.

Di sisi lain, ada pula pandangan agar BI tidak agresif menaikkan bunga acuan. Alasannya, secara historis, kebijakan itu hanya meredam pelemahan rupiah dalam jangka pendek. Padahal, meningginya bunga acuan akan menyebabkan melambatnya pertumbuhan ekonomi. Risiko lainnya adalah berkurangnya daya tarik investasi di pasar saham karena potensi keuntungan perusahaan menyusut.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan kebijakan moneter BI masih sama yaitu ahead the curve. Jadi, bakal antisipatif menghadapi kebijakan moneter di negara maju, termasuk AS.

Namun, BI juga mempertimbangkan faktor-faktor lain sebelum memutuskan bunga acuan. Pertimbangan itu adalah kondisi neraca dagang dan pertumbuhan ekonomi yang berisiko melambat di semester II.

Sumber D-Inside di salah satu perusahaan keuangan mengatakan, Gubernur BI Perry Warjiyo juga menimbang faktor  pertumbuhan ekonomi dalam menetapkan arah kebijakan moneternya. "Berbeda dengan Gubernur BI sebelumnya Agus Martowardojo yang lebih fokus ke moneter," katanya.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun ini berkisar 5,2%, dan target optimistis di tahun depan sebesar 5,3%. Meskipun Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut adanya risiko target meleset hingga ke level 5,15%.

Kondisi Pasar Keuangan

Pelaku pasar terpantau mulai mengambil posisi menjelang pengumuman Fed Fund Rate pada September ini. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun melesat mulai akhir Agustus lalu hingga kembali menembus level 3% sejak Jumat (14/9) lalu.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau mengalami gejolak tajam dengan kecenderungan turun. Meskipun level indeksnya masih cukup tinggi yakni di kisaran 93.

Di dalam negeri, indeks harga saham gabungan (IHSG) berfluktuasi. Investor asing membukukan pembelian bersih Rp 157,98 miliar dalam sepekan terakhir. Namun, bila dilihat dalam rentang satu bulan terakhir, terjadi penjualan bersih Rp 2,13 triliun dan total Rp 53,48 triliun sepanjang tahun ini.  

Sementara itu, imbal hasil surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun berada di posisi 8,26%, turun dibandingkan posisi awal September lalu yang menembus 8,58%. Meski begitu, mengacu pada data Kementerian Keuangan, aksi jual oleh investor asing masih mewarnai pasar SUN.

Pada awal September lalu, kepemilikan asing di SUN sebesar Rp 853,77 triliun. Sedangkan pada Rabu (19/9) lalu, jumlahnya berkurang Rp 16,61 triliun menjadi Rp 837,16 triliun. Bila dibandingkan dengan posisi tertingginya sepanjang tahun ini yaitu Rp 880,2 triliun pada akhir Januari lalu, maka kepemilikan asing telah turun Rp 43,04 triliun.     

Seiring kondisi tersebut, nilai tukar rupiah melemah tajam terhadap dolar AS. Pada perdagangan di pasar spot, rupiah sempat menembus Rp 14.938 per dolar AS pada awal September lalu, sebelum kemudian cukup stabil bertengger di kisaran 14.800-an.

Pada Kamis (20/9), nilai tukar rupiah ditutup di level 14.849, melemah 1,79% dibandingkan posisi sebulan sebelumnya dan 9,55% bila dibandingkan posisi penutupan akhir tahun lalu.