Kementan Siapkan 1,7 Juta Hewan Kurban di Tengah Lesunya Permintaan

Direktur Jenderal Kesehatan Hewan, Nasrullah memprediksikan jumlah pemotongan hewan kurban tahun ini mengalami penurunan sekitar 10%, dia meminta masyarakat tidak perlu khawatir.
Image title
19 Juli 2021, 18:59
Penjual hewan kurban menjajakan hewan dagangannya di Pasar Hewan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (19/7/2021). Jelang Hari Raya Idul Adha 1442 H aktivitas jual beli hewan kurban di Pasar Hewan Jonggol terpantau padat tanpa menjalankan protokol
Muhammad Zaenuddin|Katadata
Penjual hewan kurban menjajakan hewan dagangannya di Pasar Hewan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (19/7/2021). Jelang Hari Raya Idul Adha 1442 H aktivitas jual beli hewan kurban di Pasar Hewan Jonggol terpantau padat tanpa menjalankan protokol kesehatan hingga berpotensi menjadi klaster baru penyebarkan COVID-19 di masa PPKM Darurat.

Kementerian Pertanian (Kementan) menjamin ketersediaan pasokan hewan kurban di puncak perayaan Idul Adha 1443 Hijriah mencukupi dan aman. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan terdapat 1.767.522 ekor hewan kurban yang terdiri dari sapi, kerbau, kambing, dan domba.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sebelumnya sudah memastikan kesiapan dan ketersediaan pasokan kurban di Rumah Potong Hewan (RPH) dan sentra penjualan hewan kurban yaitu depo 1000 sapi kurban di Bogor, Jawa Barat, Kamis (15/7). Mentan didampingi Walikota Bogor, Bima arya memantau pergerakan jual beli hewan, serta memastikan kesehatan dan ketersediaannya.

"Persiapan Idul Kurban Insyaallah semua bisa berjalan baik karena harga di lapangan dalam kendali. Kurang lebih seperti apa yang ada masih dalam kondisi cukup," kata Syahrul dalam keterangan pers, Senin (19/7).

Selain di Kota Bogor, Mentan sempat meninjau RPH Manggala di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (18/7). Dia memastikan persiapan dan kesiapan penyelenggaraan kurban dalam kondisi aman dan terkendali serta tertib dalam mematuhi protokol kesehatan.

Advertisement

"Harganya stabil, dimana ada sedikit kenaikan sekitar Rp 500 ribu per ekor. Tetapi di hari raya ini memang harus naik, kalau tidak berarti daya beli turun," ujarnya.

Direktur Jenderal Kesehatan Hewan, Nasrullah memprediksikan jumlah pemotongan hewan kurban tahun ini mengalami penurunan sekitar 10%, dia meminta masyarakat tidak perlu khawatir. "Ada kemungkinan tahun ini ada penurunan 10% dari tahun sebelumnya. Data kami di 2020 tercatat ada 1.683.354 ekor hewan kurban," katanya.

Sementara itu, Pemerintah dan pelaku usaha, serta  pemerintah daerah telah melakukan koordinasi untuk menjamin ketersediaan hewan kurban di pasar.

Nasrullah mengingatkan bahwa Kementan telah mengeluarkan surat edaran Nomor 8017 Tahun 2021 tentang tata cara penyembelihan hewan kurban 2021. Dalam surat edaran tersebut dijelaskan pemotongan hewan kurban bisa dilakukan di RPH atau di luar RPH.

"Silahkan melaksanakan pemotongan hewan kurban di RPH maupun di luar RPH asalkan tetap mematuhi protokol kesehatan dan sesuai dengan surat edaran yang kami terbitkan," pungkasnya.

Di sisi lain, Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Nanang Purus Subendro mengatakan, permintaan sapi kurban turun signifikan jelang Idul Adha 2021. Diterapkannnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat diklaim sebagai penyebab utama turunnya permintaan dan penjualan sapi kurban.

“Calon pembeli yang datang langsung ke lapak itu sangat sepi. Bahkan beberapa ada yang membatalkan pesanan padahal sudah bayar down payment (DP), lantaran di komplek perumahan tidak diizinkan melakukan pemotongan," kata Nanang kepada Katadata.co.id, Senin (19/7).

Nanang mengatakan, permintaan sapi kurban turun sampai 40% dibanding tahun lalu. Alhasil, kondisi tersebut turut berdampak langsung pada turunnya omzet atau penghasilan para pedagang sapi.

Sebelumnya, pedagang selalu memperkirakan sisa penjualan hewan kurban berkisar 10%-20% dari total pasokan. Dengan begitu, saat pedagang mampu menjual 80% dari total pasokan yang mereka sediakan, pedagang bisa dinyatakan sudah untuk. Namun, tahun ini lain ceritanya.

“Banyak sekali teman-teman yang menyiapkan 100 ekor hanya laku 50-60 ekor. Masalahnya, saat ini yang laku itu jauh dari yang diharapkan,” ujarnya.


Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait