Bahan Baku Industri Susu 78% Impor, Kemenperin Bakal Intervensi Pakan

Kemenperin menyebutkan, 78 % bahan baku industri olahan susu dipasok dari luar negeri atau impor, sementara 22 % berasal dari peternak lokal.
Image title
3 Desember 2021, 15:43
industri, kemenperin, kementerian perindustrian, impor, peternakan
ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/foc.
Pekerja membungkus susu sapi perah di Perternakan Cibugary, Pondok Ranggon, Jakarta Timur, Sabtu (9/1/2021). Peternakan tersebut memproduksi susu sapi perah kurang lebih sebanyak 300 liter per hari dengan harga jual Rp10 ribu per liter.

Industri pengolahan susu di Indonesia masih bergantung pada impor. Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian alias Kemenperin, 78 % bahan baku industri olahan susu dipasok dari luar negeri atau impor, sementara 22 % berasal dari peternak lokal.

Tantangan utamanya datang dari produktivitas sapi perah yang minim. Di Pangalengan, produktivitas sapi perah sekitar 15-19 liter per ekor setiap harinya. Namun, di beberapa industri besar, produktivitas sapi perah sudah mencapai 30 liter per hari.

Di sisi lain, kendala yang masih dialami peternak umumnya harga pakan sapi yang masih tinggi. Untuk itu, Kemenperin akan melakukan intervensi untuk menekan harga pakan, terutama pada mesin pengolahan dan bahan pakan.

Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika mengatakan, pihaknya tengah mengupayakan meningkatkan produktivitas hasil susu per ekor sapi.

Advertisement

"Kami di Kemenperin membantu dari sisi pengolahannya, tapi bahan bakunya perlu bantuan dari Kementerian Pertanian," kata Putu dalam konferensi pers, Jumat (3/12).

Adapun susu segar diimpor dari berbagai negara dalam bentuk skim milk atau susu tanpa lemak, whole milk atau susu full cream, anhydrous milk fat atau AMF yang merupakan produk lemak diproses dari turunan susu, butter milk atau produk sampingan dari mentega dan whey alias air dadih atau endapan dari proses pembuatan keju.

"Kami bekerja keras untuk ke depannya industri susu ini bahan bakunya bisa disuplai dari dalam negeri," ujarnya.

Putu menyebutkan, kalau produktivitas dapat terus ditingkatkan, maka pendapatan dan kesejahteraan peternak susu akan semakin baik.

Lebih lanjut, dia menyebutkan bahwa industri agro secara keseluruhan memiliki peran besar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, yakni lebih dari 51 %. Industri makanan dan minuman juga menjadi penyumbang terbesar untuk industri agro, yakni sekitar 38 %.

Selain itu, investasi di sektor industri makanan dan minuman di kuartal III-2021 sebesar Rp 48,5 triliun, dan diperkirakan dapat menyerap sekitar 1,1 juta pekerja.

Putu menilai, kegiatan usaha peternakan dapat dijadikan solusi dan alternatif dalam upaya pemulihan ekonomi, mengingat masih terbukanya peluang-peluang tersebut.

Sementara itu, Koordinator Ruminansia Perah Kementerian Pertanian (Kementan), Cisilia Esti Sariasih mengatakan kemitraan Industri Pengolahan Susu (IPS) dengan peternak dalam negeri dapat mendorong modernisasi cara beternak untuk meningkatkan kualitas produk susu.

Kondisi industri susu nasional masih menghadapi masalah rumit, mulai dari populasi sapi perah yang rendah, produktivitas rendah, pemeliharaan sapi perah di bawah skala ekonomis, hingga neraca susu nasional yang tidak berimbang.

Data statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan tahun 2020 menyebutkan, populasi sapi perah nasional masih berada di angka 568.265 ekor dan produksi susu tercatat mencapai 947.685 ton.

Selain itu, tingkat konsumsi susu nasional juga masih berada di bawah negara ASEAN lainnya, yakni sebesar 16,2 kilogram per kapita per tahun.

“Saya berharap pengembangan sapi perah dan IPS nantinya tidak hanya terpusat di pulau Jawa, namun juga berkembang ke luar Jawa, mengingat potensi sumber daya alam yang berlimpah masih belum optimal dalam pemanfaatannya,” katanya.

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait