La Nina Berkurang, BMKG Waspadai Potensi Karhutla Pertengahan 2023

Andi M. Arief
29 Desember 2022, 18:05
BMKG, karhutla, la nina
ANTARA FOTO/Fransisco Carolio/WS/wsj.
Petugas Direktorat Sabhara Polda Sumatera Utara berusaha memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Simulop, Pangururan, Samosir, Sumatera Utara, Senin (8/8/2022). Seratusan personel gabungan dari Manggala Agni, TNI, Polri dan instansi terkait diterjunkan ke lokasi kebakaran yang telah menghanguskan sekitar 49 hektare lahan di empat desa di daerah itu..

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG menyatakan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla, pada 2023 akan lebih tinggi dibandingkan tiga tahun terakhir. Menurunnya intensitas La Nina pada April 2023 dinilai menjadi penyebab utamanya.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan tingkat La Nina yang masuk dalam kondisi moderat pada 2020-2022 membuat musim kemarau di dalam negeri cenderung basah. Menurunnya intensitas La Nina mulai April 2023 dinilai membuat musim kemarau Juni-September akan lebih panas dan kering.

"Jadi, relatif lebih kering dibandingkan tiga tahun terakhir, sehingga potensi Karhutla itu mulai meningkat karena curah hujan rendah," kata Dwikorita dalam konferensi pers virtual, Kamis (29/12).

Oleh karena itu, Dwikorita mendorong pemerintah daerah untuk mulai bersiap menurunkan potensi Karhutla saat potensi hujan di dalam negeri masih ada atau pada April-Mei 2023. "Kalau ada upaya modifikasi cuaca, sebaiknya di bulan-bulan itu di kala belum terlalu kering," ujarnya.

Walau intensitas La Nina berkurang, Dwikorita menyampaikan potensi bencana hidrometeorologi masih dapat terjadi pada Januari-Februari 2023. Bencana yang dimaksud adalah banjir dan tanah longsor akibat intensitas hujan.

Di sisi lain, Dwikorita memproyeksikan potensi gempa dan tsunami pada 2023 tetap harus diperhatikan. Pasalnya, BMKG memperhatikan adanya peningkatan aktivitas kegempaan yang dapat memicu terjadinya tsunami sepanjang 2022.

BMKG mendata total aktivitas gempa bumi dengan kekuatan lebih dari magnitudo 5 pada bulan ini mencapai 18 kejadian. Adapun, gempa terbesar terjadi di Kabupaten Garut atau sebesar magnitudo 6,4.

Seperti diketahui, Retakan lempeng Megathrust atau zona subduksi Selat Sunda menjadi penyebab atas gempa besar yang terjadi di Indonesia, dan mendatangkan ancaman tsunami yang perlu diwaspadai.

Retakan megathrust melibatkan lempeng samudera. Akibat gerakan lempeng yang tidak terbendung, tekanan antarmuka kedua lempeng jadi terkunci dan akhirnya mengakibatkan gempa bumi berskala besar.

Zona megathrust terbagi menjadi tiga zona besar, yakni Andaman Megathrust, Sumatera Megathrust dan Java Megathrust. Jangkauannya cukup luas yaitu lebih dari 5.500 km yang dimulai dari utara Myanmar ke barat daya Sumatera, lanjut ke Selatan Jawa dan Bali lalu berakhir di Australia. Di sinilah, tempat pertemuan antara lempeng Eurasia yang ditabrak atau dihujam oleh lempeng Indo-Australia.

Reporter: Andi M. Arief
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait