PPKM Bakal Lanjut, Pelaku Usaha Andalkan Teknologi untuk Pacu Bisnis

Aturan PPKM darurat mengharuskan pusat perbelanjaan/mal/pusat perdagangan tutup. Sedangkan supermarket, pasar tradisional, toko kelontong, dan pasar swalayan dibatasi waktu operasionalnya.
Image title
16 Juli 2021, 15:07
Pengunjung melihat busana yang dijual PPKM di Neo Soho Mall, Jakarta Barat, Sabtu (8/5/2021). Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia memproyeksi tingkat kunjungan dan penjualan di pusat perbelanjaan pada momentum Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/rwa.
Pengunjung melihat busana yang dijual di Neo Soho Mall, Jakarta Barat, Sabtu (8/5/2021). Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia memproyeksi tingkat kunjungan dan penjualan di pusat perbelanjaan pada momentum Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini meningkat sekitar 30 hingga 40 persen dibandingkan Idul Fitri tahun lalu.

Rencana pemerintah memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat mikro membuat banyak pelaku usaha harus memutar otak. Mulai dari pelaku usaha kuliner serta busana menyiapkan strategi, termasuk mengandalkan platform digital untuk menopang bisnis tetap tumbuh.

Pemilik Ayam Goreng Nelongso Nanang Suherman misalnya, mengandalkan platform pesan antar-makanan serta teknologi finansial (fintech) untuk layanan pembayaran. "Mau tidak mau harus beradaptasi manfaatkan platform. Ini untuk pelayanan dibawa ke rumah (take away)," ujarnya dalam diskusi ShopeePay Talk, Jumat (16/7).

Bisnis kuliner yang digeluti Nanang sekitar 70% menyasar segmentasi pasar mahasiswa. Di mana saat pandemi, mahasiswa tidak dapat beraktivitas lagi di kampus. Alhasil, platform digital dinilai menjadi jalan untuk  membantu usahanya tetap terhubung dengan pelanggan.

Selain memanfaatkan beragam fitur yang ada di platform, Nanang  juga memanfaatkan beragam promo untuk menggaet minat konsumen. "Diskon atau uang kembali (cashback) cocok untuk segmen mahasiswa," ujar Nanang.

Advertisement

Saat ini, Ayam Goreng Nelongso sudah mempunyai lebih dari 70 cabang. Usaha kuliner yang digeluti Nanang kini sudah ada di beberapa kota, seperti Malang Raya, Bali, Surabaya, dan sejumlah daerah di Jawa Timur.

Nanang mengatakan, usaha kuliner memang terdampak pandemi Covid-19. "Namun yang jelas, selama pandemi tidak begitu tumbuh dibandingkan tahun-tahun lalu," ujarnya.

Sejak tahun lalu bisnis kuliner dan restoran memang termasuk salah satu bisnis yang paling terdampak oleh pandemi. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) sektor penyediaan akomodasi, serta makan dan minum terkontraksi sebesar 22,02% secara tahunan pada semester I tahun ini.

Pandemi juga membuat kunjungan ke pusat perbelanjaan dan restoran menurun drastis sejak pemerintah menerapkan pembatasan tahun lalu. Saat ini pun pemerintah menerapkan pembatasan kembali yakni PPKM darurat.

Berdasarkan aturan PPKM darurat itu, pusat perbelanjaan/mal/pusat perdagangan tutup. Sedangkan supermarket, pasar tradisional, toko kelontong, dan pasar swalayan yang menjual kebutuhan sehari-hari dibatasi jam operasional sampai Pukul 20.00 waktu setempat, dengan kapasitas pengunjung 50%. 

Strategi dengan memanfaatkan platform digital juga dilakukan usaha busana, salah satunya Cottonink. Sama seperti Nanang, Brand and Marketing Director Cottonink Ria Sarwono mengatakan, usaha busana yang dia geluti juga mengandalkan beragam platform e-commerce seperti Shopee dan Tokopedia. Untuk layanan pembayaran, perusahaan juga memanfaatkan platform fintech pembayaran.

"Platform digital, seperti e-commerce dan payment bisa jadi jawaban," katanya. Sebab, selama masa PPKM darurat, ritel offline tidak bisa beroperasi. 

Saat ini Cottonink telah memanfaatkan dua layanan, baik online dan offline. Selama masa pembatasan tersebut layanan online terus dimaksimalkan. Perusahaan juga mengandalkan berbagai fitur di platform e-commerce. Salah satu fitur yang diandalkan yakni live streaming yang dinilai mampu mendongkrak penjualan. 

Fitur yang ada di platform e-commerce juga memungkinkan pembeli untuk melihat produk dalam lebih banyak dimensi. Hal ini meningkatkan kepercayaan pembeli, sehingga transaksi melonjak.

Riset iiMedia Research menunjukkan, fitur live streaming mendorong transaksi e-commerce Tiongkok hingga 433 miliar yuan atau sekitar Rp 885 triliun pada 2019. Pada 2020, pendapatan e-commerce dari fitur itu menjadi 961 miliar yuan atau Rp 1.973 triliun karena ada pandemi Corona.

Entrepreneur & Founder Negeri Pembelajar Edu-tech Fellexandro Ruby menambahkan, platform digital juga berguna bagi pelaku usaha untuk mendapatkan data keuangan atau transaksi. "Ini berguna, di aplikasi bisa dicatat secara otomatis," ujarnya 

Sebab, menurutnya pelaku usaha harus menjaga arus kas atau cash flow selama pandemi. "Agar tahu dana bocor ke mana saja. Ini juga untuk memudahkan mengambil keputusan berikutnya," ujarnya. 

Selain untuk pencatatan keuangan, data transaksi juga bisa dimanfaatkan untuk mengolah strategi pemasaran yang tepat sasaran.

Diketahui, selama Covid-19, banyak usaha dari berbagai sektor menjalankan strategi digitalisasi. Pemerintah juga mencatat bahwa dalam setahun terakhir ada empat juta Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) yang merambah platform online. Maka, totalnya hampir 13 juta. Pemerintah pun optimistis target 30 juta UMKM go-digital pada 2023 bisa tercapai. 

Riset dari Mandiri Institute juga mencatat, UMKM yang bergerak dalam jaringan (daring) maupun luar jaringan (luring) memanfaatan cara yang berbeda. Berdasarkan data Agustus 2020, sebanyak 27% responden UMKM yang masih menjalankan usahanya secara luring memilih untuk mengurangi produksi. Sementara hanya 19% UMKM daring yang memilih opsi tersebut.

Sedangkan UMKM dengan akses digital dapat menerapkan beragam pilihan strategi di tengah krisis. Sebanyak 16% UMKM daring mencari alternatif lain dengan memodifikasi produknya. Hanya 5% UMKM bertahan secara luring menggunakan opsi yang sama. 

Mandiri Institute melakukan survei UMKM terhadap 320 responden. Mereka tersebar di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, serta Bali dan Nusa Tenggara. UMKM tersebut bergerak di sejumlah lini, seperti akomodasi, perdagangan, konstruksi, dan restoran. Detailnya bisa dilihat dalam databoks berikut:

 

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait