Po Sun Kok, Taipan Properti yang Berkibar Melalui Pollux Properties

Sepanjang 2021, saham Pollux Properties merosot 72,16 % menjadi Rp 1.250 dari harga penutupan 30 Desember 2020. Pengusaha properti Kalimantan Po Sun Kok mulai membangun bisnis Pollux dari Singapura.
Image title
6 Januari 2022, 13:55
Po Sun Kok, Taipan Properti yang Berkibar Melalui Pollux Properties
www.technopolis-pollux.com

Industri properti Indonesia terus berjuang menghadapi tekanan pandemi Covid-19 sepanjang tahun lalu, tak terkecuali Pollux Properties. Meskipun mampu meningkatkan pendapatan dan laba kuartal ketiga 2021, secara tahunan harga saham emiten berkode POLL ini tetap melorot. Indeks Harga Saham Gabungan alias IHSG 2021 pun ikut terpengaruh.

Pada pengujung tahun lalu (30/12), saham POLL ditutup di level Rp 1.250 per lembar, naik 1,63 % dibandingkan hari sebelumnya di Rp 1.230. Meski begitu, sepanjang 2021, saham POLL merosot 72,16 % dari harga penutupan 30 Desember 2020 yakni Rp 4.490, melansir Tradingview. 

Bahkan, menurut data RTI Business, saham ini cenderung menurun sejak tiga tahun belakangan. IDX Channel pun memasukkan perusahaan asal Singapura tersebut ke jajaran saham paling ‘apes’ pada 10 Desember 2021.

Level harga tertinggi yang pernah disentuh saham POLL tahun lalu yakni Rp 5.700 per lembar pada 15 Maret 2021. Sebelumnya, saham properti ini sempat bertengger di level tertinggi di atas Rp 10 ribu, hingga sempat disuspensi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada September 2020.

Advertisement

Pollux Properties melantai di Bursa Efek Indonesia pada 11 Juli 2018 melalui penawaran saham perdana (IPO). Dalam initial public offering  ini, Pollux menggandeng UOB Kay Hian Sekuritas sebagai underwriter. Saham POLL ditawarkan 1,25 miliar lembar dengan harga Rp 615 per saham.

Per November 2021 lalu terdapat dua pengendali saham POLL. PT Borneo Melawai Perkasa memiliki 78,9 % atau setara 6,5 miliar lembar saham dan PT Pollux Multi Artha menggenggam kurang dari 5 %.

Sementara itu, porsi kepemilikan saham terbesar kedua yakni UOB Kay Hian Pte., Ltd sekitar 8,3 %. Setelah itu disusul UOB Kay Hian (Hong Kong) yang menguasai 6,1 %, dan Citibank Hong Kong di angka 6 %.

Di sisi lain, kinerja keuangan Pollux Properties tak seburuk pergerakan harga sahamnya. Pendapatan perusahaan meningkat 130 % dari Rp 260,9 miliar menjadi Rp 602,1 miliar per September 2021. Alhasil, emiten mampu membukukan laba naik 131,9 % menjadi Rp 155,2 miliar, dari Rp 66,9 miliar periode yang sama tahun lalu.

Perusahaan tersebut juga memiliki portofolio bisnis dari Sumatera hingga Nusa Tenggara.

Merintis Usaha dari Negeri Merlion

Pollux Properties Indonesia didirikan pada 16 Desember 2014, sebagai bagian dari konglomerasi Pollux Properties Ltd. yang sudah lebih dahulu berdiri pada 1999. Pendirinya adalah keluarga Po Sun Kok, pengusaha properti asal Kalimantan Barat. 

Setelah 15 tahun berkarya di Singapura, Po Sun Kok memutuskan untuk mengembangkan properti di Tanah Air. Uniknya, pilihan pertama Po Sun Kok jatuh tidak di ibukota Jakarta atau jantung pariwisata Indonesia, Bali, melainkan di Semarang, Jawa Tengah.

Kota ini dipilih karena di sinilah usaha garmen ibu Po Sun Kok yang bernama Golden Flower Group berkembang. Kini, Golden Flower Group sudah mampu memasok merek-merek besar seperti Calvin Klein, Zara, dan Muji.

Memulai usaha di Singapura, Pollux Singapore sudah memiliki enam properti yang bernama Louis Kienne Serviced Residences Havelock, Mayfair Residences, Berkeley Residences, Garden Park Residences, Pavillion Square, Metro Loft, dan Park Residences Kovan.

Di dalam negeri, Pollux Properties memiliki enam anak perusahaan, yaitu PT Pollux Barelang Megasuperblok, PT Pollux Aditama Kencana, PT Pollux Lito Karawang, PT Duta Megah Laksana, PT Mega Kuningan Pinnacle, dan PT Mega Daya Prima.

Keenam anak perusahaan ini mengusahakan enam properti perusahaan yang terletak di pulau Jawa, Sumatera, dan Nusa Tenggara. Dilansir dari laman resmi perusahaan, dua dari enam properti ini masih dalam tahap pembangunan dan sisanya sudah dibuka dan beroperasi.

Properti pertama yang dimiliki oleh Pollux adalah World Capital Tower (WCT) yang terletak di Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Pembangunan gedung ini sudah dimulai sejak tahun 2013 dan selesai di kuartal kedua 2017 lalu.

Gedung pencakar langit ini menjulang setinggi 244,3 meter dengan 54 lantai dan total luas area tujuh hektare. Dalam pembangunan gedung ini, WCT berkolaborasi dengan PT Mega Kuningan Pinnacle sebagai developer. WCT ini telah beroperasi pada awal 2020. 

Kedua, ada Pollux Chadstone, sebuah wilayah superblok yang berada di Cikarang. Di dalam Pollux Chadstone terdapat enam fasilitas, yaitu apartemen, Pollux Mall, Louis Kienne Hotel & Serviced Apartment, pusat ritel dan restoran, SOHO (Small Office Home Office), dan rumah sakit. Properti ini sudah beroperasi.

Ketiga, resor, condotel, dan vila mewah di Lombok dengan nama Amarsvati. Properti ini dibangun setinggi 11 lantai di lahan 1,2 hektare di Pantai Malimbu. Untuk mengoperasikan Amarsvati, Pollux menunjuk Louis Kienne, operator hotel ternama dari Singapura. Sebelumnya Pollux juga telah menggunakan jasa Louis Kienne di properti awal perusahaan di Semarang. 

Keempat, Central Business District (CBD) pertama di Karawang yang diberi nama Karawang Technopolis. Daerah ini masih dalam tahap pembangunan, namun sudah berhasil menjual 20 % unit di fase pertama. Fase awal ini direncanakan selesai pada 2022 dengan luas tanah 42 hektare.

Kelima, apartemen dan hotel bernama Pollux Skysuites dengan luas tanah setengah meter. Proyek ini terletak di Mega Kuningan Barat, Jakarta Selatan dan rencananya rampung pada kuartal IV tahun 2022.

Keenam, ada superblok bernama Pollux Habibie Meisterstadt. Sesuai namanya, properti ini dibangun atas kerjasama dengan keluarga presiden RI ke-3, B. J. Habibie. Proyek ini terletak di Batam dengan ukuran tanah sembilan hektare. Apartemen Meisterstadt sudah dilakukan serah terima secara bertahap.

Pollux Properties Wujudkan Impian B. J. Habibie

Presiden RI Ketiga BJ Habibie
Presiden RI Ketiga BJ Habibie (ANTARA/Rangga Pandu)

 

Dilansir dari berbagai sumber, Presiden RI ke-3 BJ Habibie ingin mewujudkan visi istrinya, Ainun Habibie untuk membangun rumah sakit. Pada 28 September 2013, Habibie datang ke Batam untuk meninjau lahan di kawasan Batam Centre dan mengumumkan akan membangun rumah sakit di sana. 

Batam dipilih karena infrastruktur kotanya sudah mendukung bila pasien datang dari luar Batam atau luar negeri. Habibie juga berharap rumah sakit ini dapat bekerja sama dengan dokter di Singapura, Malaysia, Cina, hingga daerah Asia lainnya. Dalam jangka panjang, B. J. Habbie berharap bisa membangun kompleks rumah sakit yang dilengkapi dengan pusat perkantoran dan pendidikan. 

Pollux Properties kemudian tertarik untuk bekerjasama dengan keluarga Habibie dan memulai kerja sama itu pada 5 Desember 2015. Nama Meisterstadt sendiri berakar dari kata Jerman, Meister yang berarti master dan Stadt yang artinya kota. Bila diartikan, Meisterstadt berarti kota dengan standar tinggi. Pembangunan properti ini ditandai dengan groundbreaking pada 27 Agustus 2016. 

Merujuk laman resmi Meisterstadt, sebanyak 85 % dari unit fase 1 properti ini sudah terjual. Meisterstadt ini memiliki delapan menara apartemen, 113 unit ruko, menara hotel, dan menara rumah sakit.

Reporter: Amelia Yesidora
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait