Adhi Commuter, Pengembang Properti Basis Transportasi Terbesar

Empat tahun beroperasi, Adhi Commuter berhasil membukukan pendapatan naik. Namun, tren harga saham perusahaan justru turun lebih dari 26 % sejak dirilis Rabu (23/2).
Image title
15 Maret 2022, 15:30
ilustrasi rencana pengembangan TOD oleh Adhi Commuter Properti
acp.id
ilustrasi rencana pengembangan TOD oleh Adhi Commuter Properti

Adhi Commuter Properti, anak usaha Adhi Karya alias ADHI itu resmi menjadi perusahaan publik akhir Februari 2022. Emiten pelat merah yang tengah membangun 11 proyek tersebut, melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham ADCP pada Rabu (23/2). 

Melansir laman resmi perusahaan, Adhi Commuter adalah perusahaan pengembang properti berbasis transportasi massal pertama dan terbesar di Indonesia. Perusahaan itu pun resmi menjadi emiten kedelapan yang melantai di BEI tahun ini.

Dalam proses penawaran umum perdana saham alias initial public offering (IPO), Adhi Commuter menawarkan 2,2 miliar lembar saham dengan harga penawaran Rp 130 per lembar. Seluruh saham yang ditawarkan adalah saham baru, setara 10 % dari seluruh modal Adhi Commuter. Lewat aksi korporasi tersebut, emiten sektor properti itu memperoleh dana segar sebesar Rp 288,9 miliar. 

Dana hasil IPO itu akan digunakan untuk tiga hal, pertama 49 % untuk membayar sebagian pokok obligasi seri A. Kedua, sekitar 26 % akan digunakan untuk pengembangan proyek Adhi City Sentul. Ketiga, porsi 25 % dana hasil IPO akan digunakan untuk pengembangan lahan baru, berupa mixed use development di Cikunir, Bekasi. Lahan seluas 3,6 hektare itu milik PT Prakarsa Triotama Jaya, dan akan dikembangkan menjadi apartemen dan area komersial.

Advertisement

Hingga Senin (14/3), saham ADCP ditutup pada level Rp 97 per lembar, lebih rendah dibandingkan harga penawaran saat IPO, yakni Rp 130 per lembar. Artinya, sejak dirilis saham Adhi Commuter sudah turun 26,15 %, dengan rentang harga di kisaran Rp 95 - Rp 103 per lembar. Melansir RTI Business, tampak bahwa dalam sepekan terakhir saham properti ini cenderung bergerak di zona merah, dengan kapitalisasi pasar berkisar Rp 2,1 triliun

Sebagian besar atau sekitar 89,9 % saham ADCP dikuasai perusahaan induknya Adhi Karya. Di mana sebanyak 19,9 miliar lembar saham Adhi Commuter dikuasai perusahaan sektor infrastruktur tersebut.

 

Empat tahun beroperasi, Adhi Commuter berhasil meningkatkan pendapatannya. Sejak tahun pertama berdiri, yakni 2018, perusahaan itu mencatat pendapatan Rp 438,68 miliar dan laba bersih Rp 64,54 miliar. Tahun berikutnya, pendapatan tercatat naik 84,4 % menjadi Rp 808,9 miliar, dengan laba tumbuh 133 % di angka Rp 150,4 miliar.

Meski diterpa pandemi Covid-19, pada 2020 Adhi Commuter masih membukukan pendapatan naik 20,8 % menjadi Rp 977,2 miliar. Sementara untuk laba bersih turun 11,33 % ke level Rp 133,25 miliar. Hingga Agustus 2021, Adhi Commuter membukukan pendapatan Rp 268,13 miliar dan laba bersih Rp 42,65 miliar.

Berikut grafik perkembangan pendapatan dan laba dari Adhi Commuter yang dirangkum Databoks:

Adhi Commuter dan Hunian Sekitar LRT

Lahirnya Adhi Commuter bertujuan untuk memenuhi kebutuhan kawasan hunian masyarakat di sekitar jalur Light Rail Transit (LRT) Jabodetabek. Untuk itu, perusahaan induknya, Adhi Karya membentuk Departemen Transit Oriented Development (TOD) pada 27 April 2016. Proyek pertama yang diusahakan Departemen TOD ini adalah LRT City Bekasi, yaitu Eastern Green yang diluncurkan pada 27 Desember 2016. 

ADHI kemudian menggabungkan Departemen TOD dengan Departemen Hotel, menjadi Departemen TOD dan Hotel. Departemen baru tersebut, kemudian bekerja untuk pembangunan LRT City di Sentul pada 25 Juni 2017 dan LRT City Jatibening pada 9 September 2017.

Selang waktu berjalan, Adhi Karya memutuskan untuk memisahkan Departemen TOD dan Hotel dari induknya. Pada 2 Juli 2018, akhirnya didirikan Adhi Commuter Property sebagai subsidiari. Sembari membangun LRT City di berbagai daerah Jabodetabek, kuartal keempat 2019, Adhi Commuter juga mengakuisisi PT Mega Graha Citra Perkasa sebagai anak perusahaan Adhi Commuter. Tak hanya akuisisi, emiten itu juga memperoleh injeksi atau suntikan dana Rp 2 triliun pada 2019. 

Jajaran Proyek Adhi Commuter

Melansir prospektus Adhi Commuter, diketahui bahwa jelang IPO perusahaan tersebut sudah membangun 11 proyek dengan total luas lahan 144 hektare. Sedangkan total penjualan hunian sudah mencapai 17.896 unit.

Adhi Commuter memiliki keunikan tersendiri dibandingkan para pengembang properti atau hunian lainnya. Dalam membangun properti, Adhi Commuter menawarkan hunian dengan prinsip TOD, di mana pemilik properti akan dimudahkan dalam hal akses menuju transportasi publik seperti Transjakarta, MRT, hingga LRT.

Terdapat dua lini bisnis dari Adhi Commuter, yaitu bisnis properti dan bisnis recurring income. Dari lini bisnis properti, anak usaha ADHI tersebut mengembangkan apartemen, rumah tapak, dan area komersial dengan merek LRT City, Adhi City, dan Member of LRT City. Sementara untuk bisnis recurring income, Adhi Commuter menjalankan usaha perhotelan.

Dari merek LRT City, Adhi Commuter fokus membangun integrated mixed development yang terhubung langsung dengan stasiun LRT. Bahkan, Adhi Commuter mengembangkan tujuh proyek LRT City dan tersebar di Bekasi, Bogor, Tangerang, dan Jakarta.

Untuk proyek LRT City di Bekasi terbagi lagi menjadi tiga proyek, yaitu Gateway Park, yakni hunian dekat dengan stasiun LRT Jatibening Baru, kemudian Green Avenue dan Eastern Green yang terletak di dekat stasiun LRT Jatimulya. 

Ada juga tiga proyek LRT City di Jakarta, yaitu LRT City MTH (MT Haryono) di dekat stasiun LRT Ciliwung, LRT City Tebet di dekat stasiun LRT Cikoko, dan LRT City Ciracas di dekat stasiun LRT Ciracas. Sementara itu, di Bogor terdapat Royal Sentul Park yang dekat dengan stasiun LRT Sentul. 

Adhi Commuter Properti mencatat, proyek yang telah selesai dibangun dan sudah dihuni adalah Eastern Green dan Gateway Park. Sementara itu, Royal Sentul Park dan LRT City MT Haryono sudah selesai dibangun namun belum dihuni. Adapun tiga proyek lain yang masih dalam proses pembangunan antara lain LRT City Tebet, LRT City Ciracas, dan Green Avenue.

Lebih lanjut, Adhi Commuter melalui prospektus perusahaan menyampaikan ada tiga proyek baru LRT City, yaitu LRT City Cibubur yang dekat dengan stasiun LRT Harjamukti, LRT City Cikunir dekat dengan stasiun LRT Cikunir 2, serta LRT City RNI Pancoran dekat dengan stasiun LRT Pancoran. 

RENCANA OPERASIONAL LRT JABODEBEK
RENCANA OPERASIONAL LRT JABODEBEK (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc.)

 

Dari merek Member of LRT City, Adhi commuter fokus membangun hunian bertingkat berupa apartemen yang terintegrasi dengan transportasi publik selain LRT, yaitu Bus Rapid Transit (BRT) dan Kereta Rel Listrik (KRL). Pertama, ada Grand Central Bogor yang terletak dekat dengan Stasiun KRL Bogor. Kedua, Cisauk Point yang masih dalam tahap pembangunan, terletak di Tangerang dan dekat dengan Stasiun KRL Cisauk. Ketiga, Oase Park di Tangerang Selatan dan dekat dengan Halte Transjakarta Ciputat dan pintu tol Pamulang. 

Untuk proyek Adhi City berada di Sentul dan memiliki luas kawasan 120 hektare. Pada Adhi City Sentul, terdapat klaster perumahan tapak, apartemen berskala kecil (low-rise vertical), pusat bisnis, hingga integrasi transportasi publik. Melansir laman Adhi City Sentul, kawasan hunian tersebut berada dekat Stasiun LRT Sentul dan pintu tol Sirkuit Sentul. 

Terakhir, Adhi Commuter juga mengusahakan jaringan hotel dengan nama GranDhika. Hotel tersebut tersebar di tiga kota besar Indonesia, yaitu di Jakarta, Medan, dan Semarang. Jaringan hotel Adhi Commuter ini memiliki peringkat bintang empat, dengan target pasar adalah pelancong bisnis dan keluarga. 

Pimpinan Adhi Commuter

Sebagai anak perusahaan dari Adhi Karya, Komisaris Utama Adhi Commuter saat ini dipimpin Pudjung Setya Brata. Dia juga menjabat sebagai Direktur Operasi II di ADHI sejak 2014 hingga saat ini.

Pudjung sudah berkarir dua dekade lebih di Adhi Karya, di mana pria kelahiran Purworejo 56 tahun itu mengawali karirnya sebagai Project Manager Cikampek – Cirebon Double Tracking Project Segment I, Divisi Konstruksi II periode 2001-2004. Pudjung merupakan sarjana Teknik Sipil dari Universitas Diponegoro pada tahun 1990 dan gelar master Manajemen Strategik dari Prasetiya Mulya Business School pada 2015. 

Sementara itu, jabatan Direktur Utama Adhi Commuter dipegang Rizkan Firman untuk periode 2020 hingga 2025. Berbeda dari Pundjung, Rizkan tidak memiliki histori bekerja di Adhi Karya sebelumnya. Rizkan merupakan alumni Universitas Diponegoro, lulusan 1994 dengan gelar sarjana teknik arsitektur.

Sebelum menjabat sebagai direktur utama Adhi Commuter, Rizkan adalah direktur utama PT Jakarta River City sejak 2016. Dia juga pernah bekerja di PT Wijaya Karya dan Wika Realty dari 1996 hingga 2018.

 

Reporter: Amelia Yesidora
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait