Pandemi Selamatkan Kinerja Fintech Cashlez dari Kerugian Besar

Cashlez membukukan pendapatan bersih Rp 84,32 miliar atau naik 407,7% secara tahunan. Kinerja itu berhasil menekan rugi bersih dari Rp 10,85 miliar di 2019, menjadi rugi bersih Rp 7,13 miliar di 2020.
Image title
2 Juni 2021, 15:57
Ilustrasi pembayaran dengan e-money melalui mesin milik Cashlez kinerja
cashlez
Ilustrasi pembayaran dengan e-money melalui mesin milik Cashlez

Masih bukukan kerugian di tahun lalu, PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (CASH) mengincar pertumbuhan transaksi bruto hingga 10 triliun tahun ini. Harapan tersebut sejalan dengan target perusahaan untuk menggaet 5.000 merchant baru hingga akhir 2021.

Tekanan pandemi Covid-19 membuat transformasi perekonomian digital terus bergerak cepat. Hal itu seiring upaya masyarakat mengadopsi protokol new normal , termasuk dalam melakukan aktivitas bisnis. Alhasil, terjadi perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi menuju pembayaran non tunai atau cashless payment.

Mengantongi izin resmi dari Bank Indonesia (BI) dan Sertifikasi PCI DSS v3.2.1, Cashlez gencar mengembangkan produk dan layanannya untuk meningkatkan cashless society di Tanah Air. Upaya tersebut berhasil mendorong pendapatan bersih Cashlez tahun lalu mencapai Rp 84,32 miliar, atau naik 407,7% secara tahunan. Capaian itu berhasil menekan rugi bersih dari Rp 10,85 miliar di 2019, menjadi rugi bersih Rp 7,13 miliar di 2020.

Adapun sepanjang 2020, Cashlez mencatatkan pertumbuhan nilai transaksi bruto sebanyak 56,16% atau Rp 5,95 triliun. Itu sejalan dengan data bank sentral yang menunjukkan, nilai transaksi uang elektronik meningkat 41,15% atau Rp 204,91 triliun di tahun lalu.

BI juga mencatat, nilai transaksi kartu ATM/debit per April 2021 mencapai Rp 659,6 triliun dari 608,7 juta. Jumlah tersebut meningkat 1,9% dari bulan Maret 2021 yakni Rp 647,2 triliun dari 613,6 juta transaksi.

“Dengan perkembangan digitalisasi yang pesat, kami melihat potensi sangat besar di industri solusi pembayaran,” kata Presiden Direktur Cashlez, Suwandi dalam keterangan resminya Rabu (2/6).

Untuk itu, Suwandi optimistis tahun ini perusahaan mampu membukukan kinerja lebih baik dibandingkan tahun lalu. Akhir Desember 2020, total merchant yang bergabung dengan Cashlez lebih dari 9.000 merchant. Termasuk didalamnya beberapa brand ternama seperti KalCare, Brawijaya Hospital, BFI Finance, Shafira, Zoya, dan Fish & Cheap.

“Akselerasi ekonomi digital telah membuka peluang bagi solusi pembayaran yang inovatif untuk beradaptasi ke perilaku baru,” ujarnya.

Selain memutuskan untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun lalu, Cashlez juga mengakuisi PT Softorb Technology Indonesia (STI). Perusahaan juga memproses pembayaran menggunakan standarisasi QR Code atau Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dari BI.

Perusahaan finansial teknologi di bidang payment gateway tersebut ke depan akan terus konsiten menjalankan strategi perusahaan. Diantaranya, menyediakan solusi terbaik, teknologi yang relevan dan menyajikan produk aman dan mudah digunakan bagi para pelaku usaha.

Berdiri sejak 2015, Cashlez menciptakan sistem mPOS (mobile point of sale) yang dilengkapi dengan penerimaan pembayaran menggunakan kartu kredit atau debit berbasis aplikasi pada smartphone (Android dan iOS). Selain menerima kartu, merchant dapat menerima metode pembayaran digital lainnya seperti QRIS, Cashlez‐Link untuk pembayaran e‐commerce dan pembayaran Virtual Account.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait