500 UMKM Ditargetkan Gaet Pembiayaan dari Urun Dana Online Tahun Ini

Hingga Mei 2021, OJK mencatat jumlah penerbit atau UMKM yang memanfaatkan Equity Crowd Funding (ECF) tumbuh 17,05% sepanjang 2021 menjadi 151 penerbit.
Image title
8 Juni 2021, 21:22
Perajin mendemonstrasikan pembuatan produk kerajinan kreatif dalam pameran Solo Art Market (SAM) di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (5/6/2021). Selain untuk mengangkat potensi UMKM dan pariwisata Kota Solo, pameran tersebut diharapkan dapat membantu perajin, sen
ANTARA FOTO/Maulana Surya/hp.
Perajin mendemonstrasikan pembuatan produk kerajinan kreatif dalam pameran Solo Art Market (SAM) di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (5/6/2021). Selain untuk mengangkat potensi UMKM dan pariwisata Kota Solo, pameran tersebut diharapkan dapat membantu perajin, seniman dan pelaku komunitas kreatif di Solo dalam memasarkan produknya.ANTARAFOTO/Maulana Surya/hp.

Pengurus Asosiasi Layanan Urun Dana Indonesia (AUPDI) James Wiryadi menargetkan sebanyak 500 usaha kecil mikro (UKM) siap melakukan penawaran efek atau sebagai penerbit. Itu didukung proyeksi meningkatnya total pengguna, di mana akhir 2021 diprediksi sebanyak 400 ribu member baru akan bergabung.

“Kami optimistis di Desember 2021 penyelenggara mampu menghimpun dana lebih dari Rp 500 miliar,” kata James yang juga co-Founder dan CEO CrowdDana dalam seminar daring, Selasa (8/6).

Sebagai informasi, untuk mendukung perkembangan financial technology (fintech) di industri Pasar Modal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan Peraturan OJK (POJK) Nomor 57/POJK.04/2020 tentang Penawaran Umum Efek Melalui Layanan Urun Dana Berbasis Teknologi Informasi atau yang sering dikenal Securities Crowfunding (SCF). Melalui konsep penawaran efek, mekanisme SCF dilakukan melalui aplikasi atau platform digital.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen mengatakan, hingga 31 Mei 2021, total penyelenggara sudah bertambah menjadi 5. Di samping itu, jumlah penerbit atau pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang memanfaatkan Equity Crowd Funding (ECF) mengalami pertumbuhan 17,05% sepanjang 2021 (ytd) menjadi 151 penerbit.

Advertisement

Adapun jumlah dana yang berhasil dihimpun mengalami peningkatan 43,02% (ytd) menjadi Rp273,47 miliar. Dari sisi pemodal, juga mengalami pertumbuhan sebesar 49,06% (ytd), dari sebelumnya per 31 Desember 2020 hanya 22.341 investor, menjadi sebanyak 33.302 investor.

Sebelum POJK Nomor 57 diterbitkan, fintech crowdfunding diatur dalam POJK Nomor 37 Tahun 2018 tentang Layanan Urun Dana Melalui Penawaran Saham Berbasis Teknologi Informasi atau ECF. Hingga Desember 2020, jumlah penerbit ECF baru 4 penyelenggara, dengan 129 penerbit. Sedangkan dana yang berhasil dihimpun baru Rp 191,2 miliar.

“Jumlah penerbit ECF saat ini terbilang masih sangat sedikit dibandingkan data Kemenkop UKM 2018 yang mencatat ada 64 juta pelaku usaha di Indonesia,” kata Hoesen secara daring, Selasa (8/6).

Ke depan, Hoesen berharap perubahan ketentuan dapat memperluas jenis pelaku usaha yang dapat terlibat. Jika sebelumnya hanya perusahaan berbadan hukum PT, kini badan usaha seperti CV, Firma, dan Koperasi bisa menjadi penerbit.

Selain itu, POJK 57 juga memperluas jenis efek yang dapat ditawarkan, dari sebelumnya hanya berupa saham, sekarang diperluas menjadi efek berupa surat utang seperti obligasi dan sukuk. Di samping memberikan kemudahan dari sisi penerbit (UMKM), kebijakan juga diharapkan memberikan kesempatan luas bagi para investor ritel.

“Ini khususnya investor yang berdomisili di daerah kedudukan UMKM yang menerbitkan SCF. Dengan begitu bisa ikut berkontribusi untuk pengembangan ekonomi di daerah masing-masing,” ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM Agustus 2020, kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto Indonesia rata-rata mencapai 60%. Sedangkan kontribusi UMKM dalam menyerap tenaga kerja mencapai 96,8% dari total tenaga kerja di Indonesia.

Dengan munculnya pandemi Covid-19 sejak awal 2020, keberlangsungan usaha para pelaku UMKM ikut terpengaruh. Hoesen menyampaikan, dari survei yang diterbitkan Asian Development Bank pada Juli 2020, dampak pandemi Covid-19 membuaat 50% UMKM menutup usahanya. Selain itu, sebanyak 88% usaha mikro tidak memiliki kas, tabungan atau kehabisan pembiayaan keuangan, dan sekitar 60% usaha mikro mengurangi tenaga kerja.

Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 1A OJK, Luthfy Zain Fuady mengingatkan, berinvestasi selalu memiliki risiko, termasuk di SCF. Dari sisi penerbit, terdapat risiko gagal melakukan penghimpunan dana. Sedangkan dari sisi pemodal terdapat beberapa risiko seperti proyek penerbit tidak berjalan, saham tidak likuid, ridak mendapat dividen yang mengindikasikan arus dana masuk cashflow tersendat.

“Terakhir risiko kegagalan operasional dari penyelenggara yang bisa berdampak pada default atau gagal bayar,” kata Luthfy.

Saat ini, terdapat lima penyelenggara layanan ECF diantaranya, PT Santara Daya Inspiratama (Santara), PT Investasi Digital Nusantara (Bizhare), serta PT Crowddana Teknologi Indonesia (Crowddana). Selain itu, ada juga PT Numex Teknologi Indonesia (LandX) dan PT Dana Saham Bersama (Dana Saham). 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait