The Fed Sebut Uang Digital Lebih Layak Dibandingkan Uang Kripto

Ketua The Fed Jerome Powell sepakat bahwa uang digital AS bisa menjadi alternatif yang lebih layak dalam sistem pembayaran. Mengingat, stablecoin merupakan uang kripto mematok nilainya pada dolar AS.
Image title
15 Juli 2021, 11:35
The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell
Reuters
The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell

Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) memandang uang digital keluarannya mampu menjadi alternatif alat pembayaran yang lebih layak dibandingkan mata uang kripto (cryptocurrency) ataupun stablecoin. Selain itu, mata uang digital The Fed dinilai bakal menekan kebutuhan masyarakat terhadap uang kripto.

Dilansir dari Reuters, pada Kongres The Fed Rabu (14/7), Ketua The Fed Jerome Powell sepakat bahwa uang digital Amerika Serikat (AS) bisa menjadi alternatif yang lebih layak dalam sistem pembayaran. Mengingat, stablecoin merupakan uang kripto yang mematok nilainya pada mata uang konvensional seperti dolar AS.

“Anda tidak memerlukan stablecoin dan cryptocurrency jika Anda memiliki mata uang digital AS,” kata Powell dalam Kongres di hadapan Komite Jasa Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat AS kemarin.

Dia menambahkan, pejabat Fed akan secara luas memeriksa ekosistem pembayaran digital dalam makalah diskusi dan akan dirilis awal September ini. Menurut Powell, ini merupakan langkah kunci yang mempercepat upaya The Fed untuk menentukan apakah harus mengeluarkan mata uang digital bank sentral (CBDC).

Advertisement

Sementara itu, Powell mengaku skeptis bahwa aset kripto akan menjadi alat pembayaran utama di Negeri Paman Sam. Namun, untuk stablecoin diprediksi masih mendapat lebih banyak perhatian atau daya tarik. Hanya saja, masih banyak regulasi yang diperlukan untuk stablecoin bisa mengambil peran besar dalam sistem keuangan.

"Kami memiliki kerangka peraturan yang cukup kuat seputar simpanan bank atau dana pasar uang. Tapi tidak ada untuk stablecoin. Jika mereka akan menjadi bagian penting, kami memerlukan peraturan yang sesuai,” ujarnya.

Pernyataan Powell tersebut sejalan dengan pernyataan Gubernur Fed Lael Brainard Mei lalu. Menurut dia, baik rumah tangga dan bisnis dapat dirugikan oleh sistem pembayaran yang terfragmentasi dan menampilkan terlalu banyak stablecoin.

Pejabat Fed saat ini tengah menghadapi perdebatan sengit untuk mencari tahu apakah alat pembayaran versi digital dolar benar dibutuhkan. Sementara, beberapa pembuat kebijakan mengatakan CBDC tidak diperlukan.

Wakil Ketua Fed untuk Pengawasan Randal Quarles Juni lalu menyampaikan bahwa rencana melahirkan perlu menghapus hambatan besar. Untuk itu, perlu dibuatkan aturan yang jelas dengan analisis yang kritis dan cermat.

Kemarin, Powell menegaskan kembali bahwa The Fed perlu berkonsultasi dengan Kongres dan publik jika ingin mengembangkan CBDC. “Akan lebih penting bagi AS untuk melakukannya dengan benar daripada bergerak cepat,” jelasnya.

Di sisi lain, Bank Sentral Eropa (ECB) tengah mengembangkan desain CBDC dan mencari jawaban terkait dampaknya terhadap kebijakan moneter, stabilitas keuangan dan risiko aktivitas terlarang seperti pencucian uang. Bank sentral juga akan mengevaluasi perubahan yang diperlukan untuk kerangka kerja legislatif Uni Eropa (UE).

Ketua ECB Chritine Lagarde menjelaskan sudah sembilan bulan sejak pihaknya menerbitkan laporan terkait euro digital. Analisis lebih lanjut juga dilakukan untuk mencari masukan dari warga dan profesional, serta melakukan beberapa eksperimen dengan hasil menggembirakan.

“Semua ini telah membuat kami memutuskan untuk meningkatkan dan memulai proyek euro digital,” ujar Lagarde dilansir dari Forbes, kemarin (14/7).

Euro digital akan memiliki dampak besar pada ekonomi Eropa dan global. Euro adalah mata uang kedua yang paling banyak diperdagangkan setelah dolar AS. Euro juga menjadi mata uang resmi di 19 dari 27 anggota UE, di mana lebih dari € 26 miliar atau setara Rp 497 triliun uang kertas beredar pada Mei 2021. Namun, ECB menekankan bahwa digital euro akan melengkapi uang tunai, bukan menggantikannya.

Pada 2020 Bahama meluncurkan CBDC pertama, Dolar Pasir. Selain itu, Bank Rakyat China (PBoC) telah menerapkan yuan digital sejak 2014 dan menjadi salah satu program paling maju di dunia. Negeri Tirai Bambu tersebut mengumumkan awal pekan ini 10 juta orang telah memenuhi syarat untuk berpartisipasi dalam uji coba yuan digital ritel.

Sama seperti gubernur bank sentral dan pembuat kebijakan di AS, Lagarde mengaku belum merasakan urgensi untuk menjadi ekonomi besar pertama yang meluncurkan CBDC. Meskipun begitu, Lagarde mengakui uang digital akan menjadi masa depan sistem pembayaran Eropa.

“Pekerjaan kami bertujuan untuk memastikan bahwa di era digital, warga dan perusahaan terus memiliki akses ke bentuk uang teraman, uang bank sentral,” kata Lagarde.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait