Kisah William Soeryadjaya Bangun Astra, Tumbang Terseret Bank Summa

William Soeryadjaya meninggal pada 2 April 2010. Gurita bisnis Astra yang dibangunnya merambah banyak sektor hingga saat ini.
Image title
28 September 2021, 11:40
Astra, William Soerdjaja, profil tokoh, Grup Astra
Arief Kamaludin | Katadata
Astra

Nama Astra sering berseliweran di masyarakat Indonesia. Hal itu menyusul luasnya garapan bisnis yang dikelola perusahaan dengan nama resmi PT Astra International tersebut. Bisnis Grup Astra memang beragam dan menyentuh berbagai aspek kehidupan.

Konglomerasi perusahaan itu mencakup perdagangan umum, perindustrian, pertambangan, pengangkutan, pertanian, pembangunan, jasa dan konsultasi. Hingga 2020, Grup Astra mengembangkan bisnisnya secara bersinergi dan terdiversifikasi pada tujuh segmen usaha. 

Adapun ketujuh segmen garapan Grup Astra, seperti otomotif, jasa keuangan, hingga alat berat, pertambangan, konstruksi dan Energi. Ada juga segmen agribisnis, infrastruktur dan logistik, teknologi informasi, serta properti.

Asal Mula Lahirnya Astra

Dalam buku Man of Honor, Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya yang dikutip Historia, diceritakan kalau Grup Astra lahir dari langkah tiga pemuda keturunan Tiongkok. Mereka membeli perusahaan ekspor-impor yang sudah tidak aktif. Ketiga pemuda tersebut adalah William Soeryadjaya, Tjia Kian Tie selaku adik William, dan E. Hardiman alias Liem Peng Hong yang merupakan teman kakak-beradik itu saat mengenyam pendidikan di Belanda. 

Keputusan membeli perusahaan dilakukan pada 1956, saat Kian Tie yang telah lama menetap di Belanda akhirnya pulang bersama E. Hardiman. Dalam membangun bisnis, William bertanggungjawab atas operasional dan keuangan perusahaan. Adiknya yang lain, Benjamin Suriadjaya (Tjia Kian Joe) yang pada saat itu masih mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung juga menjadi salah satu pemegang saham.

Kian Tie menjadi pencetus pertama nama Astra, terinspirasi dari mitologi Yunani, Astrea. Astrea merupakan dewi terakhir yang terbang ke langit dan mengubah wujudnya menjadi bintang yang bersinar terang. Kian Tie ingin masa depan Astra nantinya juga gemilang.

William kemudian menambah kata "internasional" di belakang Astra dengan harapan kelak perusahaannya bisa berkiprah ke ranah internasional.

Mimpi Jadi Nyata

Pada 20 Februari 1957, PT Astra International Incorporation (AII) berdiri dengan modal Rp 2,5 juta, serta memiliki kantor di Jalan Sabang 36A, Jakarta. Awalnya, Astra bergerak di sektor perdagangan umum,  sebagai importir minuman soft drink merk Prim Club Kornet CIP, distributor produk lokal pasta gigi Fresh O Dent serta ODOL-Dent. Astra juga menjadi eksportir minyak goreng dan kopra, serta mengimpor besi beton serta kawat besi.

Bisnis Astra semakin jaya setelah Program Benteng, semasa Kabinet Karya di bawah Djuanda Kartawidjaja, resmi dihentikan pada Maret-April 1957 . Kondisi tersebut sekaligus menandai pengalihan sistem ekonomi terpimpin.

Program Benteng merupakan kebijakan ekonomi yang diluncurkan pemerintah Indonesia pada April 1950 dan secara resmi dihentikan tahun 1957. Tujuan lahirnya kebijakan ini, yakni untuk membina pembentukan kelas pengusaha Indonesia "pribumi". Dampaknya, pebisnis dari etnis non-pribumi sempat mengalami kesulitan saat kebijakan tersebut berlaku. 

Periode 1968-1969, Astra diperkenankan memasok 800 kendaraan truk merk Chevrolet. Saat itu, pemerintah sedang mengadakan program rehabilitasi besar-besaran. Alhasil, sejalan dengan tinggnya kebutuhan akan truk, penjualan Astra laris manis. Apalagi, saat itu terjadi kenaikan kurs dolar AS dari Rp 141 menjadi Rp 378 per dollar AS.

William Penguasa Gurita Astra

Hingga 1961, Kian Tie, Benjamin, dan Hardiman memutuskan untuk mengalihkan semua saham milik mereka ke William. Sejak saat itu, William pun menjadi pemilik tunggal PT Astra Internasional.

Masih dilansir dari buku Man of Honor, Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya, William Soeryadjaya sempat merasakan hidup sebagai keluarga serba berkecukupan. Pria dengan nama asli Tjia Kian Liong tersebut lahir di Majalengka, 20 Desember 1922. William merupakan anak kedua dari lima bersaudara dan merupakan anak laki-laki tertua.

Cukup singkat bagi William bisa merasakan tinggal di keluarga berkecukupan. Saat itu, ayahnya merupakan pebisnis di bidang jasa angkutan dan hasil bumi. Tak berlangsung lama, saat usia 12 tahun kedua orang tua Willam Soeryadjaya meninggal. 

Hingga usia 19 tahun, William terpaksa putus sekolah dari MULO, yakni sekolah menengah pertama pada zaman pemerintah kolonial Belanda di Indonesia. Dia memutuskan untuk menjual kertas di Cirebon. Selain menjadi pedagang kertas, dia juga berdagang benang tenun di Majalaya.

Rupanya usahanya belum cukup untuk menafkahi saudara-saudaranya. William kemudian membuka kios di Bandung dan menjual barang-barang kebutuhan pokok, seperti gula, minyak, beras, dan kacang. Di Bandung, dia bertemu dengan Lili Anwar, wanita yang dinikahinya pada 1947.

Baru menikah dua minggu, William memutuskan untuk memboyong istrinya ke Belanda. Saat itu, adik William yakni Kian Tie mendapatkan beasiswa pendidikan di Universitas Amsterdam. William pun melanjutkan pendidikannya di Negeri Kincir Angin, sekaligus mengajarkannya ilmu penyamakan kulit.

Selang setahun pernikahan, pada 1948, Lili melahirkan anak pertamanya dengan nama Edward Soeryadjaya di Belanda. Keluarga kecil tersebut hidup cukup sederhana di rantau, hingga pada 1949, mereka akhirnya kembali ke Indonesia.

Di Tanah Air, William mulai menjalankan usaha penyamakan kulit yang dipelajarinya selama di Belanda. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, Lili turut membantu keuangan keluarga dengan berjualan alat tulis, makanan, serta veld bed (ranjang lipat).

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, bisnis penyamakan kulit William gagal. Tak patah arang, dia pun membantu istrinya untuk menjalankan usaha veld bed.

Kemudian, pada 1952 William bersama dengan iparnya, Tjoat Hoan mendirikan CV Sanggabuana, yang bergerak di bidang ekspor-impor. Sanggabuana memasok produk kertas, besi, hingga semen dan alas beton.

Butuh perjuangan besar membangun perusahaan tersebut, di tengah kebijakan program Benteng, yang  membuat bisnis Sanggabuana tidak berjalan mulus. Saat itu, banyak pengusaha pribumi yang akhirnya menjual lisensi bisnis mereka ke pengusaha asing. Akhirnya, pada 1956 Sanggabuana berulang kali mengganti direksi dengan alasan ketidakcocokan dan ketidakcakapan pengelola.

Setelah bergonta-ganti pengelola, mitra kerja William yang dikabarkan dekat dengan presiden Soekarno, berniat mengambil alih Sanggabuana. Singkat cerita, berbagai cara dilakukan termasuk melaporkan William dengan tuduhan penggelapan pajak.

William kemudian dijebloskan ke penjara Banceuy, Bandung. Hanya sebulan mendekam di buih, William kemudian bebas karena kurangnya bukti penggelapan pajak, seperti yang dituduhkan sebelumnya. 

Masa Kejayaan dan Kejatuhan

Astra sempat terpilih menjadi salah satu pemasok bahan bangunan berupa pipa, baja, dan karet untuk pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga air Waduk Jatiluhur pada 1964.

Pasca kekuasaan Orde Lama berlalu, Astra kemudian mengembangkan bisnisnya dan masuk ke usaha otomotif, alat-alat berat, dan alat-alat teknik. Pada 1966, Astra dipercaya menjadi importir 80 ribu aspal dari Marubeni Corporation dan mengimpor 800 unit truk merk Chevrolet buatan General Motors Co.

Selang 20 tahun lebih, tepatnya pada 1992 kondisi Astra nyaris jatuh ketika Bank Summa milik si sulung Edward Seoryadjaya tidak berjalan mulus. Bisnis anak William tersebut mengalami goncangan karena sistem manajemen yang buruk, serta liberalisasi perbankan yang membuat Bank Summa tersungkur.

Bank Summa terjerat kredit macet sebesar Rp 1,2 triliun dan utang hingga Rp 500 miliar. Pemerintah dengan cepat melikuidasi Bank Summa pada 14 Desember 1992. Saat itu, William harus melepaskan 100 juta lembar saham Astra miliknya demi menyelamatkan bisnis Edward.

Dilansir dari artikel Majalah Tempo berjudul Malam yang Menenggelamkan Soeryadjaya, William percaya bahwa sejak awal, "yang diincar sebenarnya Astra (robohnya Summa), itulah awal kejatuhan kami".

William menghembuskan napas terakhirnya pada 2 April 2010 di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan.

Penyumbang bahan: Nada Naurah (Magang)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait