Jokowi Ingatkan Tetap Waspadai Resesi Meski Ekonomi RI Q3 Tumbuh 5,7%

Jokowi mengingatkan, dalam kondisi resesi ekonomi global, banyak negara di dunia kesulitan. Akibatnya, harga barang-barang naik sampai dua kali lipat.
Intan Nirmala Sari
26 November 2022, 12:15
Presiden Joko Widodo menyapa relawan saat menghadiri acara Gerakan Nusantara Bersatu: Satu Komando Untuk Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (26/11/2022). Gerakan Nusantara Bersatu dari berbagai elemen relawan Jokowi itu untuk men
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nym.
Presiden Joko Widodo menyapa relawan saat menghadiri acara Gerakan Nusantara Bersatu: Satu Komando Untuk Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (26/11/2022). Gerakan Nusantara Bersatu dari berbagai elemen relawan Jokowi itu untuk menyelaraskan persepsi barisan satu komando di bawah arahan Presiden Joko Widodo.

Presiden Joko Widodo mengingatkan semua pihak untuk tetap waspada dalam menghadapi resesi global. Sementara itu, Indonesia masih bisa mengendalikan keadaan ekonomi di tengah badai resesi di sejumlah negara dunia. Hal itu ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih tumbuh 5,72 % pada kuartal ketiga tahun ini.

"Negara-negara besar sekarang ini resesi. Kita masih bisa tumbuh 5,72 % di kuartal ketiga," kata Presiden Jokowi pada kegiatan Nusantara Bersatu, di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, Sabtu (26/11) mengutip Antara.

Dia menambahkan, dalam kondisi resesi ekonomi global banyak negara di dunia kesulitan. Akibatnya, harga barang-barang naik sampai dua kali lipat. Beruntungnya, Jokowi mengatakan Indonesia masih bisa mengendalikan ketidakpastian ekonomi tersebut.

Meskipun begitu, Jokowi tetap mengingatkan semua pihak untuk tetap waspada karena resesi global sulit dihitung dan diprediksi. Oleh karena itu, kerja keras semua pihak harus terus dilakukan demi menghindari resesi ekonomi.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2022 mencapai 5,72% secara tahunan. Pertumbuhan ekonomi Juli-September itu lebih tinggi dibandingkan Apri-Juni yang mencapai 5,44%.

Kepala BPS Margo Yuwono menjelaskan, produk domestik bruto (PDB) atas harga berlaku mencapai 5.091 triliun, sedangkan PDB atas harga konstan mencapai Rp 2.976 triliun. Adapun sepanjang tahun ini atau secara year to date, menurut Margo, ekonomi Indonesia tumbuh 5,4%.  

Selanjutnya, Jokowi menilai menarik investor untuk berinvestasi di Tanah Air turut menjadi hal penting untuk dilakukan. Tujuannya, agar bisa membuka lapangan kerja seluas mungkin.

"Saya minta di daerah-daerah yang ada investasinya agar masyarakat ikut mendukung," ujar Jokowi.

Menurutnya, begitu ada investor yang menanamkan modal otomatis pertumbuhan ekonomi juga naik karena menyerap tenaga kerja. Sebagai contoh, keberadaan industri Weda Bay di Maluku Utara berdampak pada pertumbuhan ekonomi di daerah itu sebesar 27 %.

"Tidak ada di dunia seperti ini, sebuah provinsi tumbuh 27 %," katanya.

Selain itu, mantan Wali Kota Solo tersebut mengatakan pembangunan infrastruktur yang dilakukan sejak delapan tahun terakhir akan mulai dirasakan manfaatnya dalam lima hingga 10 tahun mendatang. 

Di sisi lain, Bank Indonesia sempat menyebutkan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan yang diperkirakan 4,37% hanya merupakan acuan untuk penyusunan anggaran tahunan BI (ATBI) 2023. Gubernur BI Perry Warjiyo mengaku siap mendukung target pertumbuhan pemerintah yang lebih ambisius pada tahun depan yakni mencapai 4,5%-5,3%.

"Mohon maaf, memang beberapa asumsinya sangat konservatif, tapi itu adalah berkaitan dengan anggaran, dari sisi kebijakan kami tetap mengupayakan pertumbuhan ekonomi 4,5-5,3%," ujar Perry di depan anggota Komisi XI DPR RI dalam rapat Pengambilan Keputusan RATBI 2023, Rabu (23/11).

Selain itu, BI melihat pertumbuhan ekonomi tahun depan akan melambat dari perkiraan tahun ini 5,12%. Meski demikian, bank sentral menyebut prospek pertumbuhan tersebut tetap tinggi didorong oleh permintaan domestik, yakni konsumsi dan investasi serta kinerja ekspor yang masih tetap positif meski melambat.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait